Ironi Permainan Pikiran #10 Memiliki Pacar


Tahun 2015, Rumput memiliki pacar baru, demikian juga dengan saya. Gunung, adalah pacar pertama saya. Saya sudah lama mengenalnya, dulu dia kakak pendamping kelompok agama saya semasa kuliah. Saya bertemu dengan Gunung lagi ketika kami mengerjakan proyek bisnis bersama. Hubungan dengan Gunung berjalan dengan aneh, saya tidak tahu perasaan apa yang saya miliki terhadapnya, rasanya waktu itu hanya penasaran saja. Beberapa bulan jalan bareng, perasaan yang ada tumbuh dengan sangat pelan, rasanya terlalu dipaksa, saya tidak pernah bisa percaya kalau dia benar-benar serius dengan saya. Gunung, seorang playboy yang pernah tidur dengan lebih dari 10 wanita dalam sehari, saya tidak mengerti bagaimana dapat mempercayainya. Di lain pihak, saat bersama dengan Gunung terasa menyenangkan, ada teman berbagi pikiran, terutama masalah bisnis. Yang selalu saya khawatirkan adalah 1 hal, di posisi apa saya sebenarnya menginginkan Gunung, sebagai teman berbagi, atau sebagai pacar? Saya juga tidak mau berlaku tidak adil pada Gunung, apabila ternyata saya hanya menganggap dia sebagai pelarian, karena saya kehilangan Rumput. Lanjutkan membaca “Ironi Permainan Pikiran #10 Memiliki Pacar”

Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith


Kalau baca kisahku seminggu lalu, ini lanjutannya. Aku berpikir lebih dalam apa yang membuat aku bosan dan tidak menikmati bekerja di perusahaan bonafit ini. Apakah keluar dari sini adalah satu-satunya jalan keluar. Merenung. Merenung tidak sama dengan dengan melamun. Dulu aku selalu berpendapat, orang yang merenung hanya menghabis-habiskan waktu. Karena bagiku merenung adalah kegiatan melamun. Ternyata aku salah. Merenung adalah bagian dari hidup. Disitu saatnya saya merefleksikan hidup. Berpikir lebih dalam. Berbicara pada diri saya sendiri atau Tuhan sebagai sahabat tertinggi. Lanjutkan membaca “Bagian #2 My Life, Career, and Employee Faith”

Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Bertanya Otak Tersesat


13 November 2015

Pepatah jaman dulu kan selalu berkata seperti itu ya, malu bertanya sesat di jalan! Ingat tidak, ketika masih SD, kita selalu diwajibkan untuk menghafal pepatah dan peribahasa, salah satunya ya itu. setelah dihafalkan selama bertahun-tahun, tanpa disadari pepatah itu bersemayam dalam-dalam di otak saya. Kalau ada apa-apa, bertanyalah……masalahnya kan kalau malu bertanya bisa sesat di jalan. Nah, yang saya tidak tahu, ternyata kalau terlalu banyak bertanya, atau bertanya tanpa berpikir dulu, bisa jadi pertanyaan tersebut malah membuat kita tambah tersesat. Lanjutkan membaca “Malu Bertanya Sesat di Jalan, Banyak Bertanya Otak Tersesat”

(Suara Karya, 1971) Beberapa Catatan Kecil Tentang Sejarah Teater Kota Bogor


semoga dapat menjadi tali pengikat,….

Umar Machdam

Beberapa Catatan Kecil Tentang Sejarah Teater Kota Bogor

Oleh: Willy Kanugi

Salah satu kelemahan Boen S Oemardjati di dalam mendokumentir sejarah perkembangan teater di Indonesia yang dihimpun dalam bukunya “Bentuk Lakon dalam Sastra Indonesia” (Terbitan PT Gunung Agung, Tahun 1971) menurut hemat saya adalah disebabkan Boen terlalu percaya sepenuhnya pada arsip-arsip teater yang berupa tulisan-tulisan atau brosur-brosur. Sehingga kegesitan yang dihasilkan Boen di dalam mengumpulkan arsip-arsip teater yang berserakan di berbagai kota di Indonesia ini menjadi kurang nilainya jika diukur dengan cita-cita berikut nasib teater itu sendiri.

Sebagai contoh di dalam menyinggung masalah sejarah teater kota Bogor saya punya dugaan keras bahwa tanpa sebuah brosur tentang “Federasi Teater Kota Bogor 1962” yang diberikan Taufiq Ismail kepadanya, di mana Taufiq Ismail sendiri duduk sebagai ketuanya, Boen sendiri tidak banyak tahu tentang bagaimana tampang sebenarnya teater kota Bogor ini.

Sehubungan dengan inilah saya ingin mencoba memberi gambaran subyektif mungkin tentang kehidupan group-group…

Lihat pos aslinya 921 kata lagi

Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan


13 November 2015

Di jaman serba realistis ini, lebih penting mana, selembar lima ribuan atau sepatah kata terima kasih?

Nah, kita kan sedang bicara tentang realita, maka mari coba kita pikirkan. Dengan selembar uang lima ribu rupiah, apa yang bisa kita dapatkan? Kalau di kota besar seperti di Jakarta, lima ribu rupiah mungkin berarti lima potong gorengan pinggir jalan, atau mungkin sebotol air minum dalam kemasan. Lalu, bagaimana dengan sepatah kata terima kasih? Lanjutkan membaca “Seonggok Terima Kasih dan Selembar Lima Ribuan”

Inspirasi setelah Dugem


29 Agustus 2015

Hari ini dilalui seperti biasa, judulnya bosan. Lalu sore bertemu Pak Didik, ngobrol2 ditemani asap rokok. Dapat inspirasi, bahwa untuk sementara ini bisa ditarik kesimpulan saya pernah mengalami trauma kehilangan, saat kisaran umur balita. Hm…..sebenarnya saya sendiri pun tidak tahu ada apa saat umur itu, tapi memang, kalau mau dirunut secara jujur, saya paling takut kehilangan. Lanjutkan membaca “Inspirasi setelah Dugem”