Membunuh untuk Hati


Ya, aku mengakuinya, aku jatuh cinta 5 tahun lalu, dan aku pun menjadi buta selama 5 tahun. Aku bermain dengan perasaanku, terluka, disembuhkan, terluka lagi…disembuhkan lagi. Terus menerus begitu, sampai akhirnya hatiku penuh carut marut, membekas dan mengeras. Apa yang harus aku lakukan dengan hati yang sudah sekarat ini? Mempertahankannya? Berusaha menyembuhkannya kembali? Rasanya di titik ini aku tidak mampu, aku memilih untuk membunuhnya saja! Lanjutkan membaca “Membunuh untuk Hati”

Hati-hati Otak


Apa yang harus dikatakan ketika rasanya bahasa tidak dapat menggambarkan apapun? Apakah ini otak yang tak mampu berucap, atau kata-kata yang tidak cukup kuat untuk melafalkan bahasa otak?

Apa yang harus dilakukan ketika yang terasa hanya perih, meskipun kita sendiri tahu cara mengobati perih itu, namun tidak mau mengobatinya? Jujur, rasanya nikmat menyiksa diri sendiri, meskipun di lain pihak siksaan itu membuat diri ini hanya menjerit pilu. Lanjutkan membaca “Hati-hati Otak”

8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments


Jan 19, 2016

Belajar Bagaimana Role Play yang Efektif

Metode Role Play biasanya digunakan sebagai bagian dari proses perekrutan, Assesmen Center dan program pengembangan kepemimpinan, biasanya berpusat di sekitar studi kasus rekaan yang relevan. Tujuan menggunakan role play umumnya untuk melihat bagaimana Anda mengelola orang, berperilaku dan seberapa efektif Anda berkomunikasi dan terlibat dengan orang lain – boleh jadi mereka manajer lini, rekan Sejawat, penerima langsung laporan, pelanggan potensial …dll Lanjutkan membaca “8 Tips: Bagaimana Role Play yang efektif untuk Interviews & Assessments”

Adrenalin #11 Life Career Employee Faith


Monday, 14 March 2016

Pagi ini aku menggunakan rok mini terusan yang jarang kupakai. Aku harus cukup yakin kalau badanku belum melar dan masih bisa mengenakannya. Tak hanya yakin dengan badan sendiri, tapi juga tahu ada momen apa yang segitu pentingnya sampai harus mengenakannya. Aku berjalan dengan santai dan tanpa beban menuju kantor. Percaya diri.

Aku menghadiri meeting pagi. Pikiranku terus berkecamuk tentang wawancara siang nanti di perusahaan multinasional asal Eropa. Apa alasan yang harus kusampaikan ke bos untuk ijin dari jam 11.30 – 3 sore.. Aku sakit perut, rasanya mules dan ingin sekali pergi ke WC. Degup jantungku berbunyi kencang sekali. Kalau kudekatkan ke sisi meja, aku bisa merasakan meja bergetar karenanya. Aku bisa mendengar bos atas bos ku berbicara memberi masukan, apa yang menjadi harapannya atas report yang diberikan. Nadanya menyakinkan. Bahasa inggrisnya lancar. Dia seorang Belanda berambut pendek, pirang dan keriting.

Akhirnya  meeting selesai juga. Jantungku bukannya berhenti tapi semakin berdegup keras. Semua kerjaan harus selesai dalam minggu ini. Aku merasa gagal tidak dapat memenuhi semua tenggat waktu yang telah ditetapkan.  Pikiranku terus berkecamuk antara menyelesaikan semua pekerjaan dengan cepat, dan wawancara yang akan kuhadiri dari jam 11.30 siang ini.

Aku putuskan untuk tinggalkan dulu semua pekerjaan, ku ambil tas dan cepat-cepat keluar dari kantor lalu pergi. Aku berjalan penuh kepercayaan diri, namun wajah berkerut 27 kerutan. Jantung tak henti-hentinya berdegup kencang sekali. Kepala sakit. Adrenalin naik. Sesampainya di tempat yang telah dijanjikan oleh Head Hunter, aku tak langsung menemui mereka. Aku menuju kamar mandi untuk merapikan diri, melihat diri ke kaca dan berkata, “aku bisa melewati semua ini”.

Ngobrol setengah jam lebih dengan 3 orang dari Head hunter di salah satu coffée  shop. Aku berbicara, seolah-olah lupa dengan beban yang sebelumnya kubawa.

Setelah dari Head Hunter, aku menuju kantor perusahaan tempat aku diberi pekerjaan untuk menemui user nya. User nya menemuiku tepat jam 1. Dia bertanya dalam bahasa inggris dan aku mampu menjawabnya penuh kepercayaan diri. Aku tak menyangka aku bisa mengeluarkan semua kemampuanku. Ibarat  dalam keadaan bahaya, manusia mampu melampui segala batas kemampuannya untuk bertahan hidup.

Sepulang dari interview, perasaan mulai bergejolak lagi. Aku mencari makan apa saja, agar menjaga aku  kembali dengan kekuatan tubuhku sendiri. Setidaknya tidak sampai pingsan. Lemas sekali rasanya. Aku duduk dengan tenang di taxi, tanganku beradu berulang kali kutekan-tekan. Berkali-kali aku mengambil nafas panjang. Aku telat balik ke kantor. Ada meeting lagi jam 3. Kerjaan belum selesai. Di ruang meeting, bos menegur, “Kok lama banget sih?”

Aku baca email dari bos untuk revisi kerjaan. Kerjaan yang baru kuselesaikan sabtu kemarin dengan menghabiskan waktu seharian. Sakit kepala lagi. Pekerjaan yang lain belum selesai, pekerjaan yang harusnya dikerjakan oleh bosku ditambahkan lagi. Semua soal deadline. Hari ini harus dikumpulkan. Adrenalinku naik lagi. Badanku lemas sekali. Aku ingin teriak, mengeluarkan semua yang ada di kepalaku. Emosiku memuncak.  Tak mampu kutulis semua yang harus kukerjakan.

Aku belum pernah merasakan hal ini. Jiwa terasa terangkat dari tubuh. Kaki inginnya bergoyang terus. Kepala penuh. Ini rasanya seperti bertahan hidup disaat semua tubuh sudah tak mampu bertahan dan hanya ada beberapa menit untuk menyampaikan pesan terakhir sebelum tumbang. Apakah ini yang aku inginkan? Apakah ini yang harus aku lewatkan sebelum hal besar terjadi? Atau ini hanyalah rekaan pikiranku saja? Berulang kali aku mengambil nafas panjang. Berusaha menenangkan diri. Ini hanya sementara. Ini hanya sementara.

 

SJU

Saya Sudah Gila Kalau Hanya Ingin Dikasihani


Akhirnya saya mencapai tahap ini juga, saya gila. Saya tertawa, menangis, tanpa dapat saya control. Saya kebingungan, amarah saya menggelegak, dan yang saya butuhkan hanya mengasihani diri sendiri, ingin meminta orang lain peduli, tapi tidak ada yang peduli…jadi yang saya lakukan hanya marah, lanjut tertawa, lanjut menangis, bahkan tanpa saya rasakan. Tapi saya tahu, saya dapat menghilangkan kegilaan ini, rasa marah ini, tapi saya tidak mau, saya ingin membunuh orang, ingin berteriak, ingin memukul tembok….tidak ada yang saya lakukan, saya mengurung semuanya di dalam, jadi yang saya lakukan kembali lagi seperti tadi, tertawa menangis. Lanjutkan membaca “Saya Sudah Gila Kalau Hanya Ingin Dikasihani”

Iuran BPJS Naik, dan Sikapku


Terusik dengan ramainya diskusi di beberapa group media sosial, tentang  Iuran BPJS Kesehatan naik mulai bulan April, kebanyakan kawan kawan tidak setuju, bahkan ada yang menghujat. Saya anggap hal tersebut adalah wujud dari sikap kritis kawan-kawan terhadap kebijakan pemerintah dalam mengelola Negara ini.

Terlepas masih banyaknya keluhan pelayanan yang masih belum optimal. Terlepas dari Demo para petugas kesehatan. Saya juga mendapatkan cerita gembira dari yang merasakan manfaatnya.

Saya masih tetap percaya bahwa Negara akan memikirkan rakyatnya, meski masih banyak kendala yang perlu dibenahi. Kelemahan sistem pastilah ada, juga moral pelaksana yang masih dalam tanda tanya, PR yang perlu segera dikerjakan. Apa jadinya Negara bila rakyatnya menderita, pastilah kekacauan yang ada.

Semangat Gotong Royong, peduli terhadap orang lain, dan berusaha tetap percaya akan niat baik adalah hal yang perlu dilakukan, serta tentu saja sikap kritis, berani mengabarkan kebenaran demi kehidupan yang lebih baik.

Saya (juga mengajak keluarga saya) ikut BPJS sebagai warga negara yang memilih satu sikap yang saya anggap wujud kecintaan saya terhadap Negara Republik Indonesia ini.

 

Jakarta, 15 Maret 2016

retmono adhi

APA AJARAN AJARAN SPIRITUAL ITU DAN BAGAIMANA HAL INI MERASUK ?


…..Dan inilah kutipan dari naskah ceramah Richard Harvey untuk mengundang refleksi, pikiran, dan wawasan Anda…

“Ajaran-ajaran spiritual di sini tidak untuk dipahami dengan cara biasa. Mereka tidak untuk didengar dan dianalisis dan dipertimbangkan seperti proposisi fisika atau matematika atau kritik sastra. Ajaran-ajaran spiritual adalah komunikasi transpersonal dari dalam bawah sadar mengenai hal hal yang melebihi kepribadian, kecerdasan, analisis, dan rasionalitas. Ajaran-ajaran spiritual adalah impersonal dan luas, condong ke arah wahyu transenden dan memohon pada yang Ilahi.

Anda harus menerima ajaran spiritual melalui hati Anda. Hal ini harus menggerakan Anda; itu harus memberikan perasaan spontan OM, ya, afirmatif yang mengambil alih seluruh diri Anda dan bergerak melalui jantung Anda seperti menghirup udara murni.

Transmisi ajaran spiritual adalah suatu hal yang sangat pribadi. Ketika Anda dipenuhi dengan kepercayaan dan iman dan kerinduan, dan intensitas gairah, dan perasaan melebihi kelangsungan hidup dan kepentingan diri Anda, maka Anda telah menemukan guru yang tepat. Ikutilah guru bahwa Anda telah menemukan tanpa pertanyaan, bukan karena Anda telah meninggalkan kemampuan mental penting Anda, yang tidak ada artinya sama sekali, tetapi karena Anda mengukur keterlibatan Anda dalam hati dari penerimaan dalam hidup Anda, tercermin dalam penerimaan mendalam Anda dan mengikuti ajaran yang berasal dari guru yang telah Anda pilih atau yang telah memilih anda. “(hal. 132 dari Dharma Sky)

 

Kutipan dari Dharma Sky.
http://www.sacredattentiontherapy.com/Books.html

Pdt Robert Meagher
Co-Founder, Wakil Kepala Sekolah, Guru Senior di Pelatihan Terapi Online Attention Sacred

 

Terjemahan bebas dari diskusi di Group Linkedin :
WHAT ARE SPIRITUAL TEACHINGS AND HOW ARE THEY TRANSMITTED?