Rasa Empatiku Muncul Lagi ; Refleksi Psikodrama di Salatiga


Hari ini tanggal 19 Juli 2017, saya belajar Psikodrama untuk pertama kalinya. Awalnya saya kira psikodrama itu seperti teater, berakting seperti pemain sinetron yang ‘alay’, tapi ternyata tidak seperti itu. Kelas hari ini lebih lama dari biasanya, namun karena banyak praktek, kelas tidak begitu terasa lama. Saya belajar banyak hari ini, di psikodrama ada 3 tahapan yaitu warming up, action, pemaknaan (reflection).

Dalam pemanasan saya juga belajar sosiometri dimana kegunaan selain mengukur hubungan sosial, juga untuk membangun hubungan sosial. Terlihat tidak ada “gap” lagi ketika teman-teman yang lain. Ternyata ada orang yang juga merasakan hal yang sama seperti saya, atau bahkan lebih buruk. Dulu saya sangat sering merasa bahwa saya adalah manusia paling menderita, dan saya merasa itu sebuah kesialan. Saya merasa sakit. Tapi ternyata ada teman yang juga merasa sakit seperti saya. Saya tahu bagaimana rasanya dan itu membuat saya menangis ketika melihat teman-teman saya mencoba memaafkan orang-orang yang menyakitinya.

Bagi saya memaafkan adalah hal yang paling sulit dilakukan. Dimana ketika akan memaafkan, saya juga perlu mengiklaskan semua perbuatan orang yang telah mengecewakan saya, membuat sangat sakit diri saya. Aku tidak tahu bagaimana orang lain, tapi bagiku sangat mudah memaafkan seseorang bila hanya sekedar “kata” saja, tidak benar-benar dengan tulus melakukannya, dan itu sia-sia.

Setelah selesai kelas tadi aku tidak langsung pulang. Aku yang dulu, ku kenal sebagai orang yang pemalu, dan penakut, kini memberanikan diri untuk mengungkapkan beberapa hal yang mengganggu kepada Pak Didi. Awalnya saya hanya ingin bertanya mengenai kata-kata temanku yang bilang bahwa pasangan saya kelak akan seperti bapak saya, sedangkan kami sama-sama membenci bapak. Dan kami khawatir jika pasangan kami kelak seperti bapak kami (sifat, fisik,dll). Ternyata itu memang benar, tapi jika disadari. Ketika sadar akan hal itu, kita dapat memilah sisi dari orang itu yang baik untukku, jika ada beberapa hal yang sama dengan bapak kita, itu sudah bukan menjadi masalah, tidak perlu takut.

Kelas psikodrama membuatku berkaca bahwa teman-teman lain, sepertiku, ini juga menyadarkanku bahwa rasa empatiku muncul lagi. Dulu aku adalah orang yang penurut, pemalu, penakut, baik, lebih mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, setia kawan, bahkan bisa dibilang terlalu peduli dengan orang lain. Namun, ketika ku ingat seberapa sering aku di ‘bully’, direndahkan, diremehkan yang kupikir terjadi karena aku terlalu ‘baik’, akupun memutuskan untuk tidak terlalu baik dan peduli dengan orang lain. Meski itu teman dekat sekalipun. Sudah terlalu sering dikecewakan, membuatku tidak bisa percaya dengan siapapun. Aku seperti bukan manusia, tidak punya perasaan. Tidak ada rasa peduli.

Pada beberapa sesi di kelas psikodrama, aku menangis. Karena melihat temanku menangis. Disini juga aku menyadari masih ada diluar sana yang peduli denganku, tanpa kusadari. Ketika aku sharing dan aku kembali menangis, ia memanggil teman lainnya yang memiliki tissue dan minum setelah itu ia berikan padaku. Padahal orang ini tidak akrab denganku, aku hanya tahu ia teman seangkatanku. Sepertinya selama ini aku terlalu menutup diri, menutup hati sehingga tidak melihat banyak orang yang memperhatikanku.

*penulis adalah mahasiswi peserta Psikodrama

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.