Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama


Sebelum membahas lebih dalam, saya ingin mengungkapkan terlebih dahulu bahwa saya belum pernah sama sekali mengetahui metode Psycho Drama yang dapat dipakai untuk treatment dalam dunia psikologi.

Pada dasarnya, dalam penerapan psikologi memiliki banyak terapan yang dapat dipakai untuk penanganan terhadap bantuan kepada klien. Psycho Drama menjadi jawaban yang sangat praktis namun dapat menggali intens-nya trauma atau dengan kata lain rasa yang kurang nyaman dalam diri (inner seseorang).

Awalnya, saya bertanya apakah dengan metode sesederhana ini dapat memunculkan keadaan diri yang mempresentasikan luka yang telah di-repress? Akhirnya, terjawab sudah dari segala sesi peran yang distimulasikan kepada setiap peserta yang sedang mengikuti pelatihan.

Bila dimulai dari memahami peran sebagai awal terbentuknya pintu untuk membuka symptom-symptom trauma, maka tentunya dapat menjadi proses yang mendalam.

Kalimat itu menjadikan mind set awal dalam menjalani proses sesi pelatihan Psycho Drama kali ini.

Baiklah, dimulai dari Sesi peran pertama Pemanasan, ketika semua peserta diminta untuk melakukan satu gaya. Agaknya terlihat, saya menunjukkan hal yang mendominasi pada “permintaan tolong”. Ada posisi dimana saya menunjukkan tangan saya di atas kepala layaknya sedang yoga sambil menjijit. Reaktif yang saya tunjukkan seperti ini mengasah pada diri saya yang mencoba “balance”. Dalam artian, saya mencoba balance untuk berada pada posisi safety dengan trauma dan dinamika yang saya miliki.

Sesi Peran pemanasan kedua, kami diminta untuk melakukan peran layaknya seperti PEPOHONAN. Ada hal unik yang saya rasa. Saya menjadi seperti tegang dan khawatir atau dengan kata lain anxiety disorder. Kecemasan yang begitu responsive ketika aba-aba tiba. Dengan alasan yang tidak jelas, saya betul-betul merasa khawatir dan ketakutan. Kemudian tindakan yang saya tunjukkan ialah menjadi akar. Respon yang sangat terlihat. Unfinished business mengenai trauma-trauma yang menyakitkan. Tekanan yang belum digali lebih mendalam menjadi pemicu respon (id) muncul.

Sesi Peran pemanasan ketiga, masih sekitar mengenai pohon. Disini, saya mulai beradaptasi dengan kekhawatiran yang tidak nyata dari dalam diri. Saya pun mencoba menjadi bagian pohon yakni ranting yang membuka sambil menjijitkan kaki keatas. Dalam hal ini, bisa berarti saya mencoba untuk striving for success untuk memberi harapan hidup atas trauma yang begitu menyakitkan.

Setelah selesai bermain pemanasan untuk mengenal dan mengetahui langkah serta metode Psycho Drama. Kami diajak untuk melihat symptom-symptom yang muncul dalam permainan peran drama.

Sesi peran dalam pernikahan (royal wedding). Saat itu, saya refleks untuk menjadi pengantin. Saya memilih melangkahkan kaki menuju paling depan. Ketika saya berdiri, saya cukup terkejut dengan kehadiran salah satu teman yang baru saya kenal, seorang perempuan. Ia dengan inisiatif berdiri di sebelahku, mengambil selendang dan menyematkan ke kedua kepala kami. Agak lucu, karena harapannya adalah sebagaimana mestinya. Yakni, seorang lelaki bukan perempuan. Mungkin itu bagian respon refleks dari rekan perempuan saya tersebut. Akan tetapi, perlu diketahui, cara kerja Psycho Drama sudah mulai menyelami diri saya. Ini lah trauma yang saya terima setahun lalu. Kegagalan pernikahan dengan orang yang paling berpengaruh dalam hidupku selama 7 tahun.

Sesi EMOTIONAL, THINGKING, and PHYSIC. Pada sesi ini, kami diminta untuk memilih, saya menyebutnya “kuantum dominan”. Dalam kurun waktu sebulan terakhir, bagian mana diantara 3 kuantum tersebut yang paling menarik energi. Saya pun memilih kuantum emotional. Refleksi tekanan yang masih belum saya dalami untuk menjadikan self acceptance yang komplit. Lagi-lagi, Psycho Drama membawa saya untuk berdiri dan memilih kuantum “emosional”.

Sesi peran untuk aksi. Atau Action. Dalam prakteknya ada beberapa pilihan seperti menjadi analyze dan observer yang dapat mengungkapkan kejadian nyata dan seadanya di depan mata atau dengan kata lain here and now. Saya memilih aksi dengan landasan penasaran dan ingin mengetahui apa yang akan terjadi dengan bergerak memainkan peran di depan rekan-rekan lainnya.

Sesi yang cukup membuat tegang diawal. Dan kemudian, kami diminta mentor untuk memilih salah satu rekan yang ada di dalam lingkaran action untuk dimaafkan (mirror dari seseorang yang pernah menyakiti diri kita). Saya cukup gopoh dan bingung karena banyak hal-hal yang menyakitkan dari beberapa orang yang sama sekali saya tidak bisa lupakan. Akan tetapi, dalam lubuk hati yang paling dalam saya ingin memanusiakan manusia dan memaafkan kesakitan yang membuat saya benar-benar terpuruk kala itu.

Saya pun memilih salah seorang lelaki yang lebih muda dari saya. Gambaran orang yang sangat berpengaruh dalam hidup saya 7 tahun terakhir saya munculkan. Hal ini berkoneksi dalam peran awal sebagai pengantin pada sesi royal wedding. Saya mendapat kesempatan untuk berperan memaafkan “dia” urutan kedua terakhir. Sebelumnya, saya mengobservasi dan melihat secara langsung rekan-rekan yang lain sudah lebih menyelami perasaan-perasaan mereka. Proses ini menjadikan suasana lebih dramatis dan emosional. Ada kesakitan, kekecewaan, teriakan hingga tangis yang tak terbendung. Lagi-lagi, saya seolah tak percaya rekan-rekan saya dapat sebegitu hebatnya mengeluarkan emosi mereka.

Lalu, saya pun bertanya, “Apakah saya benar-benar masih sakit hati dan marah?”. Saya merasa bingung saat itu. Bingung karena sepertinya tidak ada sisi emosional yang dapat keluar. Semua terkesan datar, saat berdiri dan menyaksikan peran yang dilakukan oleh rekan-rekan lain, saya merasa mereka dapat membuka kenangan serta sisi paling mendalam dari diri mereka.

Agak ambigu memang, karena sepertinya perasaan saya sendiri seperti berubah-ubah saat itu dan saya sulit mengenali perasaan apa yang sedang terjadi saat sesi berlangsung. Kemudian, sampailah pada kesempatan saya untuk sesi peran memaafkan seseorang. Subjek “dia” yang selama 7 tahun menjadi dinamika dalam kehidupan saya, menjadi seolah nyata didepan mata.

Setelah mengatakan apa yang harus saya katakan. Rasanya emosi saya kurang tersalurkan. Saya mencoba untuk meluapkannya. Tetapi, rasanya energi saya tidak ada untuk itu. Saya pun mencoba berpikir dan berbicara seadanya. Ada kata-kata yang selalu tertanam dan pada akhirnya keluar dalam proses sesi memaafkan waktu itu. Kira-kira seperti ini :

Saya sudah tidak apa-apa, baik-baik saja, seberapapun kamu menyakiti saya. Saya akan tetap memaafkanmu.
Dan…
Bukankah pada akhirnya kita akan menolong diri kita sendiri?

Perasaan yang masih tidak jelas apakah sedih atau senang kala itu, cukup menyentakkan pikiran saya sejenak. Karena kata-kata mengenai healing diri sendiri sangat terbentuk dalam pikiran. Saya memikirkan bahwa hal itu setiap harinya. Self – Healing dengan cara memberdayakan diri, bermanfaat bagi orang lain, menjadikan diri saya bernilai untuk orang banyak. Secara kesimpulan yang dapat saya sematkan ialah saya terlatih untuk kuat dalam keadaan terpuruk sekalipun. Luapan emosional memang tidak keluar, meski sebenarnya saya mau dan ingin sekali menangis sekeras mungkin. Akan tetapi, logika saya bertolak belakang dengan perasaan saya pada sore itu. Saya merasa tidak pantas untuk menangis dan terlihat lemah. Apalagi, ditambah saya berada disekeliling rekan-rekan yang cukup banyak.
Setelah sesi menjadi actor, kami merefleksikan perasaan dan kemudian saya menjadi semakin merasa bingung dengan apa yang saya rasakan. Karena saya merasa ada “sesuatu” yang belum selesai. Ada sesuatu yang harus dikeluarkan. Segala emosi saya saat itu harus dikenali dan dikeluarkan agar saya merasakan kelegaan.

Ketimpangan yang saya rasakan membuat saya sempat tidak tenang. Sampailah pada sesi istirahat, dan kemudian kami melanjutkan sesi.

Sesi puncak pada malam hari, pada sesi ini “injury time” bagi saya.. Sesi-sesi yang memunculkan psychosomatis. Saya memerhatikan salah satu teman saya yang terpilih untuk berbagi dan terbuka mengenai keadaan dirinya di masa lampau hingga mengungkapkan trauma-trauma masa lalu. Secara keseluruhan saya memahami dan berempati kepada salah satu rekan yang menjadi “pembagi” cerita tersebut.

Analisa yang paling tepat ialah saya melihat dari sesi saat dijadikan actor dan berperan untuk memaafkan orang lain, itulah masa dimana saya me-recall memory kesakitan-kesakitan. Karena, dari 4 rekan yang menjadi actor dan mencoba memaafkan orang yang ingin dimaafkan, dengan secara jujur mereka memiliki problematika yang similar dengan diri saya. Hingga pada saat sesi malam hari, saya semakin melihat trauma diri saya sendiri melalui semua problem yang dirasakan oleh salah satu rekan yang sharing tersebut. Rasanya, semakin komplit, semua menjadi gambaran secara real trauma yang saya pernah alami.

Ketika sore itu, actor mengatakan ia susah memaafkan Ayahnya, saya pun begitu. Dinamika emosional kekerasan verbal (verbal abuse), kekerasan emosional (emotional abuse) hingga kekerasan fisik (physical abuse).

Ketika sore itu, actor mengatakan ia menunggu orang bertahun-tahun, saya pun menunggu sesuatu yang menyakitkan hingga saya benar-benar tidak trust sama dunia.

Ketika sore itu, actor mengatakan ia difitnah (tepatnya ibunya) saya pun pernah mendapatkan fitnah hebat di masa SMA yang benar-benar mengancam pencarian identitas saya saat remaja. Saya sempat ingin bunuh diri saat itu. Tapi, tertolong.

Ketika sore itu, actor mengatakan ia disakiti oleh seseorang karena perkataan dan perbuatannya yang membuat ia sangat terjatuh. Saya pun pernah sejatuh-jatuhnya hingga tidak ingin melihat dunia sosialku.

Hingga pada puncaknya..

Sesi malam itu, rekan saya menyatakan trauma sexual abuse yang ia rasakan. Saya pun pernah mengalami itu. Tepat seperti ceritanya. Pada masa kanak-kanak. Dan itu membekas. Tidak hanya satu, sedihnya dan terpuruknya saya.. yang terjadi adalah hampir 5 orang jahat yang berbeda, tega melakukan kejahatan pada saya. Kejahatan yang tidak memiliki hati. Seperti bukan manusia.

Secara terbuka, pada saat recall memory saya mencoba untuk mengeluarkan kesakitan dengan sisi emosi seperti tangisan atau pun ingin berteriak. Tapi, entah apa yang terjadi tangis tak bisa pecah dan saya masih mengingat-ingat kejadian pilu itu per-details. Secara kesimpulan, saya sedang pada posisi dibuka “gerbang repress” segala trauma. Sehingga, saya mulai memunculkannya sebagai kesadaran.

Disebabkan oleh emosi yang tak dapat tersalurkan dan tak dapat diungkapkan, fisik saya pun mulai berubah drastis. Kepala saya serasa mau pecah, badan saya perlahan hangat dan suhunya semakin panas. Tidak hanya itu saja, saat sesi selesai, saya mencoba menenangkan diri setelah mengetahui dari mentor bahwa gejala psychosomatis adalah biasa terjadi dari efek psycho drama. Akan tetapi, emosi yang tidak keluar tersebut mulai menyiksa bagian pernapasan hingga saya benar-benar sulit bernafas.

Saya tidak tahu malam itu bagaimana usaha saya untuk tetap terlihat “ok” tapi ternyata tidak bisa. Saya berusaha untuk tenang, mencoba memaknai kejadian-kejadian trauma itu (lagi). Pada akhirnya, psychosomatis yang terjadi pada diri saya dapat benar-benar pulih setelah 4 hari.

Terakhir, saya ingin mengatakan bahwa Psycho Drama benar-benar dalam untuk menyadari trauma yang terjadi. Perlu pendampingan dari mentor yang benar-benar expert dalam hal treatment seperti ini. Saya berterimakasih secara spesial kepada Pak Retmono Adi dan Kuriake Kharismawan. Terimakasih kepada kedua mentor yang hebat yang telah meng-inspiring, memberikan insight, berbagi ilmu yang sangat bermanfaat. Kemudian, terimakasih juga untuk CTR UNIKA dan adik-adik panitia yang telah bekerjasama dalam proses workshop PSYCHO DRAMA kali ini. SEKIAN, SALAM HANGAT. #VIVAPSIKOLOGI

 

NO NAME (24) LULUSAN S1 PSIKOLOGI –

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Catatan Dinamika Emosional “Bermain” Psikodrama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.