Psikodrama itu Powerfull (Pengalaman di Medan)


Hari 1.
Dulu sekali, kata Psikodrama ini pernah disenggol di mata kuliah Psikologi Sosial namun tidak menarik perhatian saya, karena hanya sekedar disebutkan sebagai salah satu terapi yang sering dilakukan di dalam kelompok. Mengikuti Workshop Psikodrama ini merupakan pengalaman yang sama sekali baru. Heran itu sudah dimulai dari melihat tatanan ruangannya, dimana meja diletakkan lengket di dinding, dan semua kursi disusun menghadap dinding, kami saling memandang dengan alis naik sebelah. Lebih menarik lagi ketika Sang Fasilitator datang dengan gaya yang sangat tidak biasa, baju batik HIMPSI dikombinasi topi kupluk.

Selanjutnya kejutan demi kejutan dimulai. Cara berkenalan yang tidak formil, Mas Retmono Adi mulai ngobrol dengan peserta yang berada di dekatnya sambil duduk dengan gaya di warung kopi, buka sepatu dan angkat kaki. Suasana workshop mulai digiring pelahan lahan, satu persatu peserta mulai tertarik dan mendengar kan obrolan awal berkenalan dengan Psikodrama. Setelah sukses memikat peserta dengan obrolan nya, maka pelatihan pun dimulai. Kesannya sangat santai dalam suasana “bermain-main”, tanpa presentasi power point yang mentereng.

Peserta mulai lebur dalam perkenalan awal, satu per satu terlihat mulai santai dan membuka hati, ditandai dengan mulai ikut-ikutan bertelanjang kaki. Di sesi perkenalan, saya terkesan dengan majunya Santa, asisten Mas Didi dalam workshop ini, ia mengatakan bahwa dengan mengikuti workshop ini bagi dirinya juga merupakan sarana untuk disembuhkan. Hal ini menimbulkan ketertarikan besar, karena biasanya yang namanya asisten itu ya membantu kegiatan, dan tidak terlibat dalam emosi permainan.

Beberapa permainan awal di ‘warming up’ ternyata merupakan sarana assessment bagi Fasilitator untuk melihat berbagai aspek dalam diri peserta training. Permainan ‘POSE’ , dimulai dari pose bebas, pose membentuk pohon, pose membentuk pohon bersama teman lain, membentuk rumah dan kemudian membentuk panggung pertunjukan. Tingginya jam terbang dari Fasilitator terlihat dari kemampuan memetakan berbagai hal dari pesertanya, kondisi psikologi, kesiapan ikut training, sampai ke tingkat kepercayaan diri dapat dibaca dalam sesi Warming Up ini.

Bagi saya pribadi, saat mengikuti obrolan awal dengan Mas Retmono Adi, ketertarikan awal sudah terbangun, sehingga saya memutuskan untuk ikut penuh dalam workshop ini. Dalam beberapa kali pelatihan, saya mendapat pengalaman bahwa keputusan awal ini penting bagi daya serap saya terhadap materi. Meskipun sudah diingatkan bahwa sesi berikutnya akan ‘deep’, saya putuskan untuk ya, siap untuk dibongkar. Ternyata masih dalam sesi warming up di permainan Hand On Shoulder, (salah satu teknik Sosiometri) ‘deep’ itu sudah dimulai. Beberapa peserta sudah mengeluarkan emosi, termasuk saya di dalamnya.

Mungkin berangkat dari seberapa mellow kita di sesi hand on shoulder ini, terpilih lah saya (menjadi Protagonist) untuk mengikuti langkah berikut yaitu ‘ACTION’. Saat diminta untuk memilih mau skenario apa, saya memilih skenario ‘MASA DEPAN’. Harapan awal nya adalah saya diajak untuk melihat hal cemerlang yang akan saya lakukan di 5 sampai 10 tahun mendatang. Sangat mengagetkan ketika ternyata saya dibawa ke 5 menit sebelum kematian datang. Sebenarnya ingin protes, tapi saya putuskan untuk mengikuti.

Mulailah saya memilih peran pembantu (Auxiliary) saya. Awalnya saya pikir saya memilih secara acak. Namun ternyata ada alasan di balik itu. Beberapa teman dekat saya pilih dengan alasan yang saya sadari setelah workshop selesai. Misalnya peran Rumah, adalah teman ku yang selain secara fisik kekar dan melindungi, ia juga adalah teman yang selalu siap membela mati-matian saat sahabatnya sedang dalam kesulitan. Bersamanya aku merasa nyaman. Lalu ada peran Jendela, adalah dia yang selalu bersamanya saya mengalami petualangan berpergian ke tempat – tempat yang baru. Peran Tempat Tidur, dia adalah sahabat yang memiliki jiwa paling penyayang, perhatian dan keinginan merawat yang paling besar.

Yang menarik adalah ketika saya memilih peran tertentu dari orang – orang yang sebelumnya tidak saya kenal. Ternyata ada sebuah fenomena yang bernama “Tele Phenomenon” dimana kita memilih orang orang yang memang memiliki kaitan psikologis untuk diselesaikan terkait dengan peran yang ia mainkan. Lebih seru ketika luapan emosi dari peran pembantu ini malah jauh lebih intens daripada saya yang sedang mau ‘mati’ ini. dan lebih mengejutkan lagi ketika di saat diskusi sesi ada juga ‘penonton’ yang kemudian juga melepaskan emosinya yang telah ia tahan dari awal drama.

Jelas lah bagiku arti kata “Psikodrama itu Powerfull “ yang selalu dikumandangkan Mas Didi di awal workshop.
Bagi saya, peran ini sangat melegakan. Saya ‘melihat’ bahwa saya nanti mati tanpa beban, melihat semua pencapaian, menyelesaikan semua tugas hidup dan melunasi segala hutang – hutang emosi meskipun belum tahu bagaimana caranya.

Jauh-jauh lebih puas, sebab saya dibawa untuk melihat garis finish saya. Saya terharu sekali dan merasakan kesembuhan yang menyejukkan. Mungkin ini juga menjadi pendorong ketika beberapa hari kemudian saya berani mengambil keputusan menolak tawaran kerja sebagai HRD Manager di satu perusahaan padahal saat ini sedang menganggur. Karena bukan itu yang kumau.

Hari 2
Telah dijelaskan di hari pertama, bahwa kalau di hari pertama kita menjadi pemain, maka di hari kedua, kita akan menjalankan segala peran, termasuk menjadi sutradara (Director) dan pengamat (Observer). Saya memilih untuk menjadi pengamat di sesi awal. Meskipun sudah dijelaskan bahwa yang kita cari adalah sisi positif dari Sang Sutradara, namun kecenderungan manusia adalah mencari sisi negatif dari orang lain masih belum bisa saya hilangkan. Ternyata mencari sisi positif orang butuh usaha lebih. Mudah mudahan peran ini membuat diriku terdorong untuk selalu berusaha mencari hal baik dalam tiap orang.

Menjadi pengamat membuat saya dapat mengambil jarak emosi dari cerita yang sedang dimainkan. Kali ini kami bermain “QUADRAN”. Dimana tokoh Protagonist memilih dua orang untuk menjadi orang tuanya. Setiap individu dipercaya memiliki Alter Ego dimana sikap dan perilaku alter ego ini mempengaruhi sikap dari si individu. Peran orang tua dipilih sebab orang tua biasanya mempengaruhi individu paling besar, meskipun bisa saja ada kemungkinan lain. Diharapkan setelah permainan ini selesai, individu dapat menyadari mana sikap yang ia ambil dari orang tuanya, kemudian dapat menentukan sikapnya sendiri dan menjadikan dirinya lebih baik.

Dalam peran ini, si tokoh diminta untuk berkomunikasi dengan orang tua, menyampaikan apa yang ia sebenarnya ingin sampaikan namun belum kesampaian. Setelah itu ia akan berganti peran dan menjadi orang tua untuk menjawab sendiri isi hati yang tadi ia utarakan. Permainan ini menguras emosi yang besar. Sutradara maupun tokoh alter ego juga ikut terpengaruh gejolak emosi ini. Setiap Peran memberikan dampak yang berbeda bagi saya. Saat itu, luapan empati terjadi dalam kelompok. Sangat menarik adalah ketika asisten dari Mas Didi juga larut dalam peran nya, dan ia juga masuk dalam gelombang emosi yang besar. Benar sekali bahwa dalam Psikodrama, bukan hanya pesertanya yang dapat merasakan healing, tetapi healing ini terjadi pada semua orang yang terlibat, bahkan untuk orang orang yang dari awal sudah memutuskan tidak mau ikut terlibat, hanya mau jadi penonton saja.

Peran Sutradara menjadi peran yang cukup menantang. Ia harus dapat menjaga ritme cerita, memutuskan kapan ia harus mem ‘freeze’ dialog dan melakukan Role Reversal (Tukar Peran). Ia terlibat secara emosi sekaligus harus menjaga logikanya agar tetap fokus. Dialog yang diteruskan terlalu panjang akan beresiko emosi yang sangat dalam bagi tokoh, juga menyulitkan Peran Pembantu untuk menghafal dialog. Pemotongan yang tidak tepat juga berakibat pada emosi yang tak tersampaikan.

Peran asisten (Auxiliary) tidak kalah sulitnya. Di sini saya hanya mendengar dan merefleksikan pikiran dan ucapan dari si tokoh Protagonist. Tidak mudah, karena semua orang punya pemikiran sendiri. Di sini empati sangat tinggi karena saya menjadi dapat merasakan apa yang sedang dirasakan oleh si Tokoh, dan sekaligus memahami bagaimana rasanya menjadi seorang ibu dan ayah. Hal ini membawa penyadaran akan sikap saya sendiri dalam hidup nyata.

Dua hari workshop ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Ternyata di balik segala perasaan berkecukupan dalam diriku, ada bagian yang masih ‘sakit’ dan minta disembuhkan. Selama ini bagian itu terkubur sangat dalam, proses terbongkarnya cukup melelahkan, namun juga membawa kelegaan. Jika kita mengizinkan prosesnya banyak manfaat positif yang dapat kita ambil.

Medan, Awal November 2017

Lily

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

15 tanggapan untuk “Psikodrama itu Powerfull (Pengalaman di Medan)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.