Memakai Psikodrama sebagai Metode Ceramah


Berbekal pengalaman berkesan saat mengikuti workshop Psikodrama yang diselenggarakan HIMPSI Sumut di bulan October 2017 yang lalu, saya terus penasaran ingin mencoba menggunakan psikodrama ini dalam berbagai setting yang menurut saya bakal menarik. Saya tahu tidak mudah, karena meskipun kesannya bermain, spontan, dan tanpa skenario, sebenarnya situasi di dalam psikodrama ini diperhitungkan secara matang, menggunakan berbagai teknik gabungan yang memungkinkan prosesnya dapat berjalan dengan mulus. Mas Retmono Adi, sang fasilitator, serta asistennya Eka dan Santa sabar sekali melayani berbagai pertanyaan saya untuk menggali lebih dalam mengenai kemungkinan kemungkinan itu.

Setelah berpikir dan ragu, saya punya moment yang saya pikir bisa saya pakai sebagai ajang uji coba menggunakan psikodrama sebagai metode ceramah. Kebetulan saya diminta untuk bicara pada umat vihara  di sebuah daerah tak jauh dari kota Medan. Berhari hari saya mikir topik tapi tidak bertemu. Mulailah terpikir untuk mencoba memakai psikodrama.

Dalam acara tersebut, kami akan bicara ber tiga, dan saya berada di nomor urut dua. Rekan saya yang tampil pertama adalah orang yang sangat serius dalam membahas sesuatu. Jadi saya yakin setelah dirinya, audiens ini akan sedikit overload materi. Saya harapkan, jika masuk menggunakan metode  psikodrama untuk menjelaskan materi saya, maka sesi saya akan minim kata, namun  menarik perhatian.

Dengan modal awal ini, kembali saya mengganggu Mas Didik dengan berbagai tanya yang sebenarnya adalah refleksi dari keraguan saya. Sungguh beliau adalah motivator, yang mampu membuat saya semangat dan berani. ‘Lanjutkan saja, asal bukan untuk kepentingan terapi’.  Dengan pesan itu, saya minta izin untuk copy paste beberapa permainan warming up yang ia mainkan di workshop kami.

Saya memakai 3 metode warming up , pose sebagai foto model, foto sebagai pohon, dan beberapa orang membentuk pohon sebagai ‘slide presentasi’  . Pose foto model untuk menjelaskan tentang  ‘jangan membandingkan diri dengan orang lain’. Pose pohon, ‘jangan terpaku pada  standard umum, buatlah standardmu sendiri ’.Kemudian pose pohon beberapa orang untuk menjelaskan ‘selalulah  pertimbangkan orang lain apapun tindakanmu’. Tiga pose dan tiga  poin. Terlihat singkat namun makan waktu 45 menit keseluruhannya.

Pemain berasal dari audiens yang suka rela naik ke atas panggung, sebanyak 10 orang. Seru sekali ketika selain pemain di atas, audiens yang di bawah juga mau ikut-ikutan  berpose, bahkan ada yang berbaring di lantai mau berpose sebagai pohon yang tumbang. Keterlibatan ini mungkin yang membuat suasana jadi nyaman dan rileks. Kadang saya terlalu terbawa arus, atau mungkin gugup, sehingga lupa untuk menggali perasaan serta manfaat dari permainan yang mereka lakoni. Padahal sebenarnya hal ini penting sekali.

Saya enjoy sekali, sebagai director, boleh mondar mandir turun dari panggung, berjalan  ke tengah audiens untuk  melihat dan mengomentari para pemeran di atas panggung, dan juga minta audiens mengomentari mereka yang di atas (sayang sekali lupa selfie untuk jadi barang bukti ). Pemain yang awalnya gugup, lama lama juga bisa rileks dan tertawa sambil bermain peran.

Lebih bahagia lagi saat di sesi tanya jawab, ternyata materi yang serba minimalis ini  banyak mendapat respon dari audiens.  Pertanyaan yang menunjukkan bahwa materi saya diserap baik. Meskipun apa yang saya lakukan masih jauh sekali dari kata sempurna,  tapi antusias ini membawa kehangatan di hati saya.

Banyak yang harus saya perkuat jika ingin terus  menggunakan metode ini ke depan. Kemampuan memilih kata yang tepat untuk mengajak para pemain agar fokus dan siap untuk bermain, juga menggali perasaan mereka secara lebih mendalam. Jika itu mampu saya lakukan, saya pikir dalam sesi ceramah memakai metode psikodrama berikut, saya bisa lebih hemat kata – kata lagi, sebab perasaan para pemain akan mewakili apa yang ingin saya sampaikan.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.