Testimoni Workshop Psikodrama di Medan : PSYCHODRAMA = EMOTION RELEASE


29 Oktober 2017….
Satu hari setelah saya mengikuti WORKSHOP PSIKODRAMA.

Ada perasaan yang membekas begitu dalam pada diri saya setelah mengikuti kegiatan tersebut. Awal ketertarikan saya mengikuti workshop ini karena tokoh idola saya (seorang Psikolog bergelar Doktor yang memiliki Biro di Lampung) sudah mengikuti workshop ini lebih dahulu. Dan berdasarkan testimoni beliau bahwa melalui teknik ini kita bisa menjadi “menerima diri” dan “out of the box”.

Oke..sampai pada titik itu saya tahu saya sangat butuh pelatihan ini. Meski ada sedikit kekhawatiran, akankah saya merasa nyaman mengikuti workshop ini karena tidak ada satu teman sejawat yang saya kenal mengikuti workshop tersebut. Yang membulatkan tekad saya untuk ikut karena ada Sekjen HIMPSI SUMUT yang sebelum workshop sudah intens komunikasi via WA dengan saya.

WORKSHOP – DAY ONE
Saya datang lebih awal dan ternyata…..
Saya bertemu dengan dengan salah satu Psikolog Associate yang pernah bergabung dengan biro saya. Oke… at least, ada dua orang yang sudah saya kenal. Kemudian masuk peserta lain, oke ada salah satu peserta lagi yang saya kenal (ternyata ia adalah adik kelas Saya di MAPRO UNPAD). Oke sudah semakin nyaman.

Lalu, bertemu dengan Narasumber Workshop
Masuk Mas Retmono Adi ( Didi ) dengan penampilan yang begitu unik menyapa peserta terlebih dahulu. Kaget juga dengan cara beliau memberikan ilmu : Tidak ada yang salah dan Experential learningnya terasa ( mas didi gak akan kasih penjelasan kalau kita gak memberikan pertanyaan ). Kebetulan semua peserta berlatar belakang psikologi sehingga penjelasan yang mas didi kasih sudah tingkat lanjut. Hanya sedikit teori yang disampaikan mas didi dan langsung meminta peserta untuk praktek.

WARMING UP. Ketika mas didi meminta peserta untuk mengkategorikan diri sendiri ( LOKOGRAM ), saya memilih diri saya sebagai seorang Afektif ( dan dominan peserta memilih sebagai seorang afektif ). Dan ketika Mas didi meminta peserta menentukan sendiri kesiapannya mengikuti workshop ( SPEKTOGRAM ) saya memilih untuk 80 % siap ( yah…memang ada sedikit kekhawatiran dalam diri saya untuk all out di workshop. Takut dinilai, takut judgement, dan berbagi ketakutan lain ).

Ketika mas Didi meminta untuk berpose tak biasa, saya juga masih bertahan untuk berpose secara wajar (perasaan takut masih menghinggapi saya). Saat itu saya memilih untuk menggabungkan kedua tangan saya di atas kepala. Ketika mas Didi bertanya mengapa berpose seperti itu, saya menjawab bahwa itu merupakan bentuk dari sikap introvert saya. Saat itu, mas Didi tidak memberikan tanggapan apapun tentang pendapat yang saya ajukan (dan sampai sekarang jadi big question juga buat saya..hehe).

Ketika Mas Didi meminta untuk berpose pohon secara berpasangan dan memberikan nama untuk pohonnya saya spontan menjawab pohon mangga. Ketika Mas Didi bertanya apakah nama pohon sudah sesuai kesepakatan, rekan saya menjawab tidak (O..o..o..apakah saya orang yang dominan / tidak memikirkan pikiran dan kehendak orang lain ).) Satu koreksi untuk saya.

Ketika berpose pohon secara kelompok saya sudah merubah pose saya (oh..sudah ada perubahan…oke…we’ll see next). Ketika Mas Didi meminta semua peserta untuk membentuk sebuah rumah, kami membentuk diri sesuai keinginan kami. ARTINYA : BONDING KELOMPOK KAMI BELUM TERBENTUK.

Kemudian untuk pose selanjutnya ( Betor dan Konser Via Vallen di Kampung Madras) kami berusaha untuk dapat melihat posisi teman yang lain. sampai pada sesi memilih peserta yang ingin dimaafkan dan membayangkan seseorang yang ingin dimaafkan. Saya ternyata menjadi salah satu peserta yang tidak dipilih oleh orang lain untuk dimaafkan. Ketika mas Didi bertanya bagaimana perasaan tidak dipilih oleh peserta lain. Tanpa saya sadari “ ekspresi emosional saya” keluar tak terkontrol, saya menangis.Namun sikap yang mas Didi tunjukkan menentramkan saya. NO JUDGEMENT dan SIKAP DUKUNGAN (mas Didi menganggukkan kepala dan berkata terima kasih sudah mau berbagi). Sampai pada titik ini, saya merasakan mas Didi mengajarkan pentingnya mengetahui kondisi sekitar dan perasaan orang lain (personal – interpersonal – transpersonal), Pentingnya mengekspresikan diri secara “ out of box “, dan bounding kelompok ternyata begitu penting untuk setiap diri individu yang ada di dalamnya. Oke…saya dapat pelajaran itu. Saya menguatkan diri untuk lebih berani berekspresi dan mengubah mind set bahwa “lingkungan tidak akan mendukungku“ menjadi “lingkungan akan mendukung aku“.

ACTING – Salah satu peserta menyediakan diri untuk beracting (menjadi Protagonis) dan tanpa sadar ia memilih orang – orang yang berperan di dalam ceritanya memiliki pengalaman kehidupan yang “related“ (Tele Phenomenone). Dan hal tersebut berhasil membuat peserta yang berperan mengekspresikan emosinya.

REFLECTION – Mas Didi meminta peserta untuk melihat dari jauh cerita yang dibayangkan dan sudah diperankan oleh peserta yang lain.

Workshop hari pertama ditutup dengan 3 word about this workshop for today sembari berpegangan tangan antar peserta (saat ini saya merasakan bonding kelompok mulai terbentuk) : saya mengatakan bahwa workshop ini : FUN – INSIGHT – EMOTION RELEASE. Mas Didi bertanya mengapa saya menyimpulkan workshop ini sebagai emotional release dan saya menjelaskan pendapat saya. Ternyata ketika kami para peserta sedang melakukan game warming up mas Didi ternyata sudah membuat judgement bahwa workshop ini arahnya kepada emotional release ( lebih banyak peserta yang memilih diri sebagai “ seorang Afeksi “. Sepulang dari workshop saya mendapatkan kekuatan bahwa “ it’s fine to be asertif “, terutama pada suami saya.

WORKSHOP – DAY TWO
Mas Didi mereview materi hari sebelumnya, kemudian mas Didi meminta peserta untuk membuat kelompok (berjumlah 5 orang) dan melakukan role rehearsal dengan menggunakan teknik Kuadran ( Director –Protagonis – Pembantu protagonis –Pengamat ).

Percobaan pertama, saya dipilih teman lain untuk menjadi Director. Pengalaman pertama, banyak interupsi dari mas Didi ( Cut…Freeze… ) gelagapan pastinya dengan peran yang saya jalankan. Namun saya bisa merasakan nuansa yang terjadi dalam kelompok saya. Bisa merasakan bahwa tokoh protagonis mencoba melogikakan situasi role rehearsal sebagai “situasi yang diciptakan untuk belajar“. Hal ini dapat saya rasakan ketika saya meminta tokoh protagonis menyampaikan kata – kata kepada pembantu protagonis yang berperan sebagai orangtuanya.

Ketika menjadi Pengamat, tantangan besar buat saya untuk tidak memberikan penilaian pada hal – hal negatif namun pada hal – hal yang positif. Ketika menjadi pembantu protagonis, saya bisa merasakan nuansa yang terjadi dalam keluarga protagonis dan saya bisa merasakan peran saya.

Dan terakhir ketika menjadi tokoh protagonis, saya berhasil menyampaikan ungkapan untuk papah dan mamah saya, meski saya juga bisa merasakan bahwa director meng “ CUT “ ekspresi saya. Setelah kelompok saya selesai bermain peran banyak masukan yang diberikan mas Didi untuk kelompok saya dan mas Didi selalu menekankan tidak apa – apa salah. Karena dari kesalahan kita dapat mempelajari sesuatu.

Ketika sharing mas Didi menekankan bahwa semakin seseorang sensitif/empati maka ia memiliki modal yang besar untuk menjadi seorang terapis. Ungkapan mas Didi membangkitkan saya untuk lebih maju, bahwa sensitivitas saya bukanlah suatu hal yang negatif namun menjadi kekuatan besar untuk menjadi seseorang yang dapat membantu orang lain. Selama ini, saya hanya mendapatkan nasehat untuk mereduksi sensitivitas saya. Sebatas menekankan saya untuk lebih berani menyelesaikan permasalahan saya yang sebenarnya berakar dari ketidakmampuan saya untuk mengekspresikan diri saya. Siapa saya, bagaimana sejatinya diri saya.

Setelah sharing session mas Didi menutup workshop dengan meminta peserta untuk menyampaikan kesan terhadap workshop ini. Kembali tanpa saya sadari saya mengekspresikan emosi saya, seketika mas didi meminta peserta lain untuk bergandeng tangan, memberikan dukungan dan energi positif untuk saya. Peserta di sebelah saya seketika juga mencari tissue untuk saya, namun saya berani mengatakan bahwa gak papa (meski akhirnya saya mengambil tissue yang diberikan peserta). Saya tahu saat ini saya menangis bukan karena saya ingin orang lain tahu apa yang saya rasakan namun lebih karena saya bersyukur akhirnya saya tahu apa yang harus saya perbaiki dari diri saya. Saya bisa lebih ekspresif dan bisa lebih asertif ( selama ini saya menganggap dua hal tersebut sesuatu yang tabu untuk dilakukan, mengingat orangtua saya dan latar belakang budaya saya tidak terbiasa dengan hal tersebut. Ketika mas Didi mengajak peserta untuk saling berjabat tangan, saya juga bisa merasakan bahwa peserta lain juga memiliki empati yang cukup kuat terhadap diri saya. SO HAPPY AND SO BLESS FOR THAT.

Saya juga merasakan begitu berterima kasih kepada mas Didi dan Team (Mbak Eka dan Mbak Santa) yang seiring sejalan dengan mas Didi, tidak menempatkan peserta workshop sebagai sosok yang ” DIBAWAH “ namun lebih kepada PARTNER UNTUK SALING BERPROSES.

Hal positif lain yang saya dapat setelah mengikuti workshop yang selama ini tidak pernah saya perkirakan :

  • Suami saya ternyata cukup concern dengan diri saya dan dengan apa yang saya lakukan. Ketika berangkat kerja pagi ini, ia serius mendengarkan pengalaman saya mengikuti workshop dan saya begitu semangat menceritakannya (belum pernah selama ini sesemangat ini menceritakan pengalaman workshop saya ).
  • Saya lebih bisa LEBIH IKHLAS untuk berempati dengan keluarga kecil saya. Dengan suami, anak sulung saya, dan anak bungsu saya. Selama ini saya tahu kebutuhan suami dan anak – anak saya, namun saya mengabaikan hal tersebut karena saya tidak mendapatkan empati yang sama dari anak dan suami saya.
  • Alhamdulillah…Ya Allah….saya menemukan jalan untuk menjadi pribadi yang berproses menjadi lebih baik lagi. Setelah segala bantuan yang saya terima selama ini dari orangtua, adik saya, dosen S2 saya, teman – teman S2 saya, teman sejawat saya dan Bos tempat saya bekerja. Dan bantuan yang paliiing tepat adalah dari Mas Didi dan Team, dan seluruh peserta workshop.

Terima kasih…terima kasih…dan terima kasih… untuk mas Didi dan Team yang begitu berjasa membantu saya menjadi pribadi yang berproses menjadi lebih baik lagi.

 

Arien – Mapro Unpad 2005

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.