Psikodrama di Bidang Pendidikan, Psikoterapi, dan Kehidupan


Penekanannya di sini adalah pada pemberlakuan fisik, pertemuan langsung, sebagai cara untuk menjadi lebih terlibat daripada hanya berbicara tentang topik. Diakui, berbicara adalah lebih baik daripada menutup mulut, menghindari berbicara, menghindari menjadi sadar sama sekali. Namun Tindakan Fisik memperluas proses, membuatnya lebih holistik. Seseorang akan merasa diri lebih hadir dan terlibat.

Dr. Jacob L. Moreno, psikiater yang menemukan metode yang dikenal sebagai psikodrama, benar dalam gagasan bahwa ada kelaparan, kebutuhan sejati untuk melakukan lebih dari sekedar membicarakan hal-hal saja. Pada tahun-tahun sebelumnya, mungkin kita menemukan ekspresif dalam tindakan yang berlebihan-memukul bantal, melempar kursi, terpuruk dalam kesedihan. Dan tindakan yang sangat boros ini memang menyembuhkan beberapa orang. (Mereka tidak memiliki signifikansi yang sama untuk orang-orang yang terbiasa histrionik – misalnya “ratu drama”).

Tindakan bisa jadi halus. Ini melibatkan lebih dari sekadar bersikap agresif, atau melebih-lebihkan kerentanan, atau perilaku yang lebih kentara dalam psikodrama. Ada dalam perjumpaan semacam stepping-up-to-the-plate, menunjukkan kerapuhan diri, yang belum disebutkan sepengetahuan saya. Moreno menyindir hal itu dalam pandangan puitis tentang pertemuan tersebut, kerlipan matanya begitu cepat sehingga seperti saling bertukar. Lebih baik, mari kita jelaskan dengan mempertimbangkan Pikiran-Tubuh.

Beberapa aliran bertemu di sini: Salah satunya adalah karya Wilhelm Reich, Alexander Lowen, dan pekerja-tubuh lainnya yang menulis tentang postur tubuh, ketegangan otot, “pelindung tubuh,” dan interaksi seluruh pikiran-tubuh lainnya, terutama dari sudut pandang intra-psychic dynamics individu. Aliran kedua adalah meningkatnya kesadaran akan volume komunikasi nonverbal yang sangat kompleks dan padat dari banyak jenis di bidang interpersonal. (Konsep dinamika tele dan sociometric Moreno termasuk dalam domain ini.) Ini disinggung, misalnya, oleh buku Daniel Goleman tahun 2005, Social Intelligence.

Pendekatan ketiga berasal dari kemajuan ilmu saraf dan dukungannya terhadap respons seluruh tubuh – termasuk endokrin – yang tumpang tindih dengan kategori pertama dari keadaan otot tubuh.) Pendekatan keempat mengacu pada gagasan dari yoga kundalini dan spekulasi tentang energi tubuh yang halus.Poin utamanya di sini adalah bahwa kita tidak dapat secara langsung melakukan penyelarasan yang optimal, namun perlu membawa diri kita pada keadaan keterbukaan yang tidak tersumbat dimana operasi spiritual yang bijak bebas untuk menyembuhkan dan menyelaraskan kembali. (Tidak ada teori yang memadai di balik ini dalam standar paradigma Barat – ini memerlukan lompatan ke pandangan metafisik yang membuka gagasan “pikiran yang lebih tinggi.” Meskipun pandangan ini tidak dapat diterima oleh pemikir yang ketat di abad ke-20, ini menjadi lebih dapat diterima dalam perjalanan untuk menjadi arus utama di abad ke-21!) (Mungkin juga ada faktor lain yang belum saya pikirkan untuk menambahkan konvergensi ini.)

Intinya adalah bahwa pembelajaran melalui tindakan, eksplorasi eksperimental, drama dalam terapi, dan sejenisnya semua dapat dipahami lebih lengkap ketika melibatkan keinginan tubuh serta pikiran secara terbuka terhadap arus energi dalam perjumpaan yang sebenarnya. Pembawaan diri dalam percakapan langsung satu lawan satu menambah ukuran kerentanan dan spontanitas yang seharusnya tidak diremehkan. Dalam perjumpaan seseorang mengarah pada hati seseorang dan bukan hanya kepala seseorang. Seseorang bertemu lebih dari sekedar berbicara atau bercakap-cakap. Ada kesediaan untuk diubah dalam pertemuan tersebut, untuk belajar sesuatu, memaafkan, meminta maaf, membiarkan orang lain dimaafkan, memberi dan menerima kebaikan (jika “cinta” terlalu lebay), dan hanya sedikit orang yang memiliki ini pengalaman ideal. Psikodrama memiliki alat dan konsep yang dapat mendukung lebih banyak perjumpaan ini terjadi.

Perlu ada penurunan derajat yang lebih tajam dari proses katarsis – terutama seperti yang dibayangkan oleh proses umum. (Katarsis, pembersihan, adalah bentuk pengobatan medis utama untuk sebagian besar sejarah pra-modern! Beri pasien pencahar yang kuat, emetik (sesuatu untuk membuatnya muntah), atau sesuatu untuk menghasilkan air liur atau berkeringat. Perlakuan ini mungkin malah memjadikan orang lebih lemah dan lebih sakit daripada membantu-walaupun ada sebagian kecil orang yang benar-benar sembelit dan katarsis memang menawarkan sedikit kelegaan, walaupun itu mungkin tidak relevan dengan penyakit mereka sebenarnya. Perasaan mengosongkan, bagaimanapun, menghasilkan ilusi rasa “telah mengeluarkan racun.”)

Jika kita memperluas katarsis menjadi pembersihan rasa malu, takut, dendam, dan pengaruh negatif lainnya yang membebani dan membatasi jiwa, dan mengintegrasikan kembali bagian-bagian yang rentan dengan elemen pemandu, maka energi yang berkontraksi dan melumpuhkan diri telah dibersihkan, dilepaskan, dan itulah mungkin penjelasan kasar proses katarsis jika berjalan baik. Lebih jauh lagi, pengintegrasian proses katarsis yang seharusnya menjadikan katarsis merupakan ekspresi hasil pengungkapan emosi yang ditekan, lebih baik dikenali manfaatnya: Bagaimana mungkin individu tersebut menemukan caranya sendiri dalam mengintegrasikan pengetahuan itu untuk dibawa ke kesadarannya?

Kita membutuhkan sebuah teori yang didasarkan pada apresiasi metafisik penyembuhan melalui citra positif, melalui iman, melalui sistem makna yang menghibur, dan elemen-elemen ini beroperasi dengan cara yang tidak biasa dengan adanya pembuka, penyerahan, dan harapan positif. Ini serupa dengan mengenali kecenderungan penyembuhan bawaan dari organisme hidup, tubuh. Apa yang harus hadir, bagaimanapun, adalah lingkungan – lingkungan sosial – terutama yang juga menyembuhkan. Orang-orang yang sejalan dengan nilai pengampunan yang lebih tinggi, keyakinan akan potensi potensi positif untuk tampil, semangat kemurahan hati, dan berkembang dengan bermain dan humor – ini juga merupakan bahan dasar.

Tambahkan ini sebagai sebuah pengakuan atas nilai terapeutik dari sedikit permainan: Sifat psikologi adalah bahwa sesuatu hal itu istimewa: Orang memiliki riasan unik sebagai hasil dari perjumpaan mereka terhadap ratusan atau ribuan variabel yang berfluktuasi. Oleh karena itu, setiap orang harus menciptakan solusinya sendiri, dan kemudian mengerjakannya kembali, dan mengusahakannya kembali mengingat keadaan yang berubah. Ini adalah proses kreativitas yang berkelanjutan. Intinya adalah bahwa tidak ada jawaban pasti yang dapat diketahui orang lain sebelumnya, tidak ada cara “benar” untuk melakukannya, dan oleh karena itu tidak masuk akal untuk menyimpan opini tetap tentang apa yang orang lain harus menjadi atau lakukan atau pikirkan atau alami. Bermain memungkinkan ruang gerak, memungkinkan terapis dan anggota kelompok lainnya untuk meringankan kecenderungan mereka untuk membayangkan apa yang baik untuk orang lain. Orang mengejutkan Anda, mereka menemukan kebiasaan yang sesuai untuk mereka-bahkan jika kebiasaan atau respons kreatif tersebut mungkin tidak sesuai untuk Anda. Biarkan itu terjadi dan besarkan hati mereka; rayakan individualitas dan kreativitas mereka – dan tertawalah. Apa yang lucu adalah ketidakcocokan antara apa yang Anda harapkan dan apa yang akhirnya menjadi apa yang dilakukan atau dipilih orang lain. Hidup ini penuh dengan kejutan, dan sikapi dengan benar, ini bisa menambah banyak kesenangan dalam perjumpaan-perjumpaan kita.

Melepaskan gagasan-gagasan yang benar dan yang salah dengan cara tertentu tidak menunjukkan bahwa kita menjadi lemah hati, relativis amoral yang merespons terhadap konflik nilai adalah “apa saja.” Ada ruang untuk mempertahankan nilai, tapi ada yang harus terbuka untuk dialog yaitu interpretasi dari nilai. Kita harus berhati-hati agar tidak terlalu terjebak dalam prinsip ini atau itu atau yang ideal dan mengabaikan keseimbangan nilai-nilai yang membentuk kebenaran perjumpaan manusia.

Essay mini ini ditujukan untuk menempa fondasi teoritis psikodrama, dan terutama menebalkan pemahaman kita tentang banyak dimensi tindakan. Berbicara “dengan” seseorang secara langsung – meski hanya di kursi kosong, dalam kenyataan yang lebih nyata – jauh lebih otentik daripada membicarakan apa yang mungkin kita katakan kepada seseorang, apa yang tidak dapat kita katakan kepada seseorang, atau apa yang seharusnya kita katakan. Berbicara tentang sesuatu adalah jauh dari perjumpaan karena seluruh pikiran-tubuh terlindungi dari kepenuhan energi kehadiran. (Itu sebabnya kita bisa menikmati mimpi: Tubuh kita sangat rileks dalam tidur REM-mimpi sehingga kita tidak mendapat masalah nyata!)

Terjemahan Bebas dari
Action in Education, Psychotherapy, and Life
Originally posted on April 20, 2011 oleh Adam Blatner

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

2 tanggapan untuk “Psikodrama di Bidang Pendidikan, Psikoterapi, dan Kehidupan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.