From Zero to Full, Psikodrama di Medan


 

Pertama kali mendengarkan kata Workshop Psikodrama, yang terlintas didalam pikiran adalah mau diaplikasikan kemana psikodrama  ini ? Apakah tidak ribet menggunakan psikodrama untuk konseling, training maupun program pembelajaran. Ada rasa ingin tahu memang,  hal ini mendorongku untuk menelephone teman-teman yang juga dibiayai oleh salah satu  instansi tempat kami bekerja untuk mengikuti workshop psikodrama, semua berjanji untuk datang, mumpung belajar gratis dan kebetulan sudah lama kami tidak bertemu, cocok juga bisa reuni, jadi mulai terbayang serunya.

Hari Pertama

Seperti yang dibayangkan keseruan dimulai ketika bertemu dengan teman-teman, heboh cas cus, tidak lama kemudian  fasilitator datang, gayanya cukup nyentrik, sudah bisa tertebak pastilah psikolog yang juga pemain theater.

Pada sessi pertama dimulai dengan perkenalan fasilitator, Retmono Adi alias mas Didik  memperkenalkan dirinya, setelah itu masing-masing peserta diminta untuk memperkenalkan diri, sembari melakukan gerakan yang tidak boleh sama. Dari gaya masing-masing sudah terlihat keunikan dan kekhasan para peserta.  Setelah perkenalan dilanjutkan dengan warming up, dengan menggunakan  lokogram peserta diminta  untuk memilih  apakah dirinya lebih cenderung kognitif, afektif atau motorik. Mulai terjadi pembentukan konsep diri. Aku  masuk kedalam golongan Afektif, karena merasa dominan afektif alasannya waktu itu  agak emosional, namun  ketika workshop selesai, mas Didik mengatakan  aku sebenarnya cenderung kognitif, karena kalau melakukan sesuatu, lebih banyak mikirnya, benar  juga, kalau melakukan sesuatu biasanya dianalisa dulu, buat perencanaan dan baru action. Kalau bekerja  aku selalu melakukan perencanaan dulu untuk mencapai target kerja, paling tidak suka bekerja secara the last minute, karena merasa stress kalau dikejar-kejar target.

Kemudian warming up masih berlanjut dengan teknik spectogram ( kalau gak salah ya),  mas Didik meminta masing-masing  peserta menempatkan diri, pada posisi yang dimulai dari skala  0 sampai dengan 100, aku memilih berdiri di titik 0, karena merasa pengetahuan yang dimiliki tentang  psikodrama  masih 0. Pernah dengar, tapi dulu.. waktu belajar Psikologi Konseling. Ternyata pilihanku menimbulkan pendapat dari peserta lain yang mengatakan aku kurang percaya diri, tapi  aku tetap pada pendirian untuk berdiri di titik 0, walau waktu itu aku sendiri yang berdiri di titik 0 santai aja. ( Sejak dulu memang aku tidak mudah terpengaruh orang lain, terutama untuk hal-hal yang aku anggap prinsip ). Dan angka 0 juga menunjukkan kalau aku kurang ingin terlibat, sebab aku ingin mengamati terlebih dahulu apa yang diberikan dalam workshop, disamping itu aku tidak  suka menjadi “tontonan”, terutama kalau aku merasa masuk dalam situasi yang mungkin  saja tidak bisa mengontrol diri.

Permainan masih berlanjut, mas Didik meminta untuk berpose pohon, aku memilih untuk menjadi mahkota dengan tangan terbuka, ketika disuruh berubah, bingung juga mau jadi apa, jadi batang tapi tetap ada mahkotanya,  ketika berpasangan tetap juga jadi mahkota, heheh. Baru setelah berkelompok menjadi akar. Yeee  bisa juga berubah, tanpa disadari aku mulai menilai diri sendiri ternyata memang tidak mudah melakukan perubahan, namun bila terpaksa bisa juga. Masuk dalam sessi berikutnya Hand On Shoulder dengan memilih siapa yang perlu dimaafkan, aku masih tetap berada di “luar” dan hanya mengamati, beberapa peserta mulai memperlihatkan “emosinya” dan aku masih menonton.

Berikutnya masuklah pada pemilihan Protagonis, seorang sahabatku  dengan suka rela mengambil peran tersebut, ia mengambil peran kehidupan di masa depan, yaitu 10 tahun ke depan. Protagonis diminta memilih pemeran pembantu yang mendukung skenarionya,  ada kemungkinan untuk dipilih menjadi peran pembantu, karena persahabatan kami cukup dekat. Sebenarnya ada rasa enggan untuk dipilih, karena takut terlibat, tapi rasanya tidak mungkin tidak dipilih dan  benar juga aku terpilih menjadi “jendela yang besar”. Kenapa jendela? Mungkin karena banyak hal yang kami lewati dan lakukan bersama, mulai dari kuliah, bekerja bahkan sering traveling bersama, disamping itu pandangan kami tentang beberapa hal, hampir sama. Terus terang yang paling tidak kusuka adalah sahabatku membuat skenario  tentang saat-saat ia  menghadapi kematian,  aku menjadi jendela besar yang letaknya berada di samping tempat tidur sahabatku berbaring” di saat-saat menanti kepergiannya “.  Berada disamping seseorang yang akan “pergi” pastilah tidak mudah, rasa sedih, haru, mulai merasuk. Kematian adalah hal yang paling menyedihkan, kematian membuatku merasa dipisahkan oleh orang-orang yang kusayang/ merasa mereka dirampas  dariku. Meskipun dari agama yang kuyakini kematian hanyalah perpisahan sementara, tapi sulit sekali bagiku bisa merelakan orang-orang  dekatku untuk pergi, hal itu membangkitkan kesedihan yang mendalam. Dimulai dari kesedihan ditinggal “nenek, ketika waktu aku masih kecil, kejadian itu sering membuatku menangis diam-diam, karena aku sering menemani nenek semasa hidupnya dibanding cucu lain, bahkan aku lebih dekat dengan nenek dari ibuku waktu dulu. Kemudian  kepergian abangku, waktu opname  di RS akulah yang selalu menemaninya. Terakhir kehilangan papa,  selama dirawat, hampir sebulan aku dan suami yang menjaga tiap malam, menunggui, berusaha untuk memenuhi permintaan alm papa. Aku selalu berusaha menjaga orang-orang yang kusayangi terutama  ketika sakit, karena aku tidak ingin kehilangan momen-moment kebersamaan kami.  Aku selalu dan selalu sulit untuk “move on “ ketika ditinggalkan, hal itu benar-benar menguras emosiku. Ketika  sahabatku memilihku sebagai jendela besar yang berada disampingnya, tidak ada hal lain yang terpikirkan selain membayangkan melihat dia akan pergi, bercampur dengan orang-orang terkasih  yang telah meninggalakanku, cukup menyedihkan… Aku tak dapat menahan tangis, aku bukanlah orang yang cengeng, gampang menangis di depan orang banyak, namun yang paling membuatku sedih adalah “kepergian orang-orang yang kukasihi”. Pertahanan diriku menjadi runtuh, tadinya aku tidak ingin terlibat, malah sekarang jadi baper. Ternyata Psikodrama bisa mengungkapkan hal yang kita pendam “unconscious”  dan melakukan  katarsis melalui permainan yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Pada Akhir workshop hari pertama aku hanya mengungkapkan dan mengambil kesimpulan “ Psikolog Baper” dari yang tidak ingin terlibat, malah terbawa situasi.

 

Hari kedua

Ada permainan yang menurutku berkesan, yaitu  “games” masa kecil. Mas Didik   mengajak semua peserta bermain, terserah mau bermain apa saja. Hal ini meremind  kembali  akan masa-masa  kecil sesorang, apa yang terjadi ketika bermain, apakah senang permainan individual tanpa memperhatikan lingkungan sekitar, bermain dengan teman-teman sekelompok, ada yang jahil, tetapi ada juga yang menyendiri, menarik sekali ternyata bisa menggambarkan situasi kecil seseorang. Seorang sahabat tidak mau diajak bermain, ternyata itulah gambarannya ketika masih kecil. Anak yang didik begitu keras oleh orangtuanya, selalu di wajibkan untuk belajar, harus menjadi panutan bagi adik-adiknya,  sehingga masa bermainnya hampir tidak ada. Menurut Mas Didik hal itu merupakan jenis Bulliying yang paling kejam. Benar juga setiap fase kehidupan manusia mestinya dilalui dengan wajar, namun kadang ada hal yang terlewati, tentu saja hal ini dapat menimbulkan dampak bagi perkembangan seseorang.

Masuk dalam Action Psikodrama, ( dengan teknik D0ubling ), para peserta mulai membentuk kelompok, masing-masing mengambil peran secara bergilir. Pertama sebagai director, protagonist, peran pembantu ( ayah dan ibu )  dan observer, setiap orang harus merasakan kelima peran tersebut. Setiap peran memiliki kesan tersendiri, pada saat menjadi protagonist aku merasa semakin memahami apa yang dirasakan orang disekitar, dengan menempatkan diri di “tempatnya”,  hal ini menimbulkan “kepekaan perasaan”. Demikian juga ketika menjadi peran pembantu dan director “ekspressi empati” muncul saat pemeran protagonis menunjukkan kesedihan mendalam, kami saling bergandengan tangan. Jadi director ternyata tidak mudah juga, karena butuh konsentrasi, kapan cut, Freeze dan bagaimana mengontrol situasi pada saat “drama” berlangsung. Menjadi Observer, membuatku berusaha untuk selalu berpikir positif terhadap orang lain.

Di akhir Psikodrama

Pertanyaanku di awal mengikuti workshop Psikodrama terjawab sudah, menurutku :

  1. Psikodrama dapat diaplikasikan di dalam kehidupan diri sendiri dan dunia kerja. Untuk diri sendiri lebih ‘mengenal “diri sendiri “, memahami kecemasan/ketakutan yang selama ini direpress, akhirnya katarsis.
  2. Psikodrama bisa dijadikan metode training dengan berbagai tema, karena dengan psikodrama, bisa menimbulkan “ self concept “, ada kerja team sesama peserta, menimbulkan “ team work” dan “kreativitas,”. Disamping itu   peran “director” juga dapat memperlihatkan bagaimana ‘leadership” seseorang, peran observer  menimbulkan “positive thinking”, dan ketika menjadi protagonist, dan peran pembantu  menimbulkan “kepekaan/ empati” pada orang lain.
  3. Selain untuk training Psikodrama bisa digunakan untuk konseling, mempermudah konselor untuk mencari akar permasalahan seseorang, memetakan dan membantu memecahkan permasalahan seseorang dengan “self healing”. Pada pengguna narkoba yang sedang direhab, setelah melewati masa2 sakau ( syndrom putus obat ), menuruku bisa juga memakai teknik psikodrama ketika melakukan therapy kelompok.

Workshop Psikodrama hanya berlangsung dua hari, cukup berkesan dan menyenangkan, Aku merasa wawasan psikodrama yang  di awal masih 0, menjadi full, namun  supaya lebih full harus mengaplikasikan ilmu yang kudapat di dalam pribadi dan pekerjaanku. Terima kasih mas Didik, Eka dan Santa yang sudah datang ke Medan untuk share ilmu yang Insha Allah bermanfaat.

 

Medan, …Oktober 2017

CYS

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.