Pengalaman Praktek Psikodrama sebagai Metode Pemetaan


Bisa Aja dengan Psikodrama

Saya diminta membantu teman teman panitia pemilihan putra putri. Mereka minta saya memberikan test psikologi. Dalam pengalaman saya, test psikologi dalam pemilihan putra putrian begini hanya digunakan sebagai referensi saja dan tidak terlalu mempengaruhi hasil keseluruhan dalam pemilihan tersebut, jadi saya diskusi dengan teman teman panitia untuk mengganti psikologi test menjadi psikodrama. Saya jelaskan tentang berbagai manfaat yang dapat diperoleh peserta dengan mengikuti psikodrama ini, dan panitia setuju.

Hari minggu pagi, saya bertemu dengan 14 peserta di tempat yang telah ditentukan. Hampir semua peserta terlihat canggung, umur yang relatif bervariasi, dari 17 sampai 25 tahun, latar belakang yang berbeda beda, dan satu sama lain tidak saling kenal membuat mereka duduk kaku sambil menunggu. Dalam situasi ini lah, saya kumpulkan mereka dalam satu lingkaran kecil dan minta mereka untuk memperkenalkan diri masing masing, dimulai dengan membuat pose yang tak boleh sama antara satu dengan lainnya. Suasana disini mulai cair, di sana sini terdengar tertawa geli bahkan protes ketika temannya mengambil pose yang sudah dipakai oleh teman lain. warming up sebagai penghangat suasana sudah berhasil.. suasana sedingin es sudah mencair.

Kami lanjutkan permainan kami dengan berpose seperti pohon. Hasil dari pose ini saya gunakan untuk memberikan masukan tentang kreativitas, berani menjadi diri sendiri dan berani berubah. Setelah itu saya minta mereka untuk berpose lagi. Kali ini sudah muncul gaya gaya kreatif yang menunjukkan bagaimana cepatnya orang muda menyerap sesuatu yang baru dan berubah. Tingkat kesulitan ditambah, mereka berdua membentuk pohon, bertiga, kemudian berempat. Setelah itu tingkat kesulitan ditingkatkan lagi, dalam bentuk benda, dan situasi. Luar biasa kagum dengan semangat semangat muda yang dengan cepat menyadari bagaimana mereka harus menempatkan diri dalam sekelompok orang, mengambil peran peran yang tak terbayangkan, mengisi ruang ruang kosong tanpa aba-aba dan instruksi dan bergembira dalam melakonkan peran peran tersebut.

Sesi sharing sudah lebih lucu. Peserta dengan santai bilang ke saya, ga nyangka kalau ada orang seusia saya berani gila gilaan begini dan membuat mereka ikut-ikutan jadi gila. Waktu saya bilang tersinggung disebut tua, mereka malah tertawa senang. Sharing dari para peserta ini cukup menarik. Mereka menjelaskan mereka lebih tahu diri sendiri, bahwa selama ini agak egois, dengan permainan sederhana ini, mereka jadi lebih mau mempertimbangkan orang lain sebelum melakukan sesuatu.

Saatnya main lagi yang lebih serius, kali ini saya pakai metode lokogram untuk memisahkan peserta dalam 3 kelompok. Satu kelompok diajak bermain, satu lagi menonton dengan penuh perasaan, dan kelompok ke tiga menonton dengan pertimbangan logis. Kelompok bermain saya ajak lagi bermain sosiometri. Dan dari sana kami mulai lagi bermain, dimulai dengan yang ringan sampai kepada melibatkan perasaan. Suasana mendukung membuat peserta bermain mudah diajak masuk ke dalam suasana haru biru. Peserta baper yang duduk lebih dekat dengan pemain terlihat dipengaruhi emosi dan beberapa mulai menangis. Sementara para logic thinker tetap duduk serius dan memperhatikan.

Sharing setelah sesi ini merupakan bagian sangat menarik bagi saya. Ada pemain yang menceritakan apa yang ia lakukan untuk mengalihkan suasana emosional yang sudah melanda dirinya, sebab ia merasa selalu kehilangan kontrol diri dalam suasana emosional. Saya kagum akan kemampuan nya switch emosi (sebenarnya saya curiga ia mengontrol emosi ini karena kuatir akan keselamatan bulu mata anti badainya).

Penonton baper juga punya kemampuan menjelaskan bagaimana ia melihat adegan tersebut, dan kemudian merasakan apa yang dirasakan oleh sang pemain lalu ikut terbawa emosi. Kehangatan hati yang menjadi ciri-ciri dari empati yang besar telah tumbuh di sana. Hati saya pun ikut-ikutan hangat melihat proses ini.

Paling menarik saat si logic thinker menjelaskan dengan runut dan sistematis bagaimana proses permainan terjadi, kapan emosi pemain berubah, apa yang terlihat saat emosi berubah sehingga ia dapat mengetahui saat mana pemain telah dikuasai oleh emosi yang dalam. Hal ini ia dapatkan dari tempat duduknya yang relatif jauh sehingga relatif tidak mendengar terlalu jelas dialog yang diucapkan oleh para pemain drama kawakan ini, hampir semua mengandalkan kemampuan melihat ekspresi dan gesture.

Luar biasa sekali kaum muda ini, kecerdasan mereka menangkap emosi, menjelaskan dengan runut dan cool. Teman temannya yang lain dengan mudah dapat menyatakan kekaguman, memuji analisanya sehingga membuat mereka juga menyadari hal tersebut, meskipun tadinya luput dari perhatian. Hal-hal yang telah mereka sampaikan kemudian saya gunakan untuk memotivasi mereka, menguatkan kepercayaan dirinya. Suasana yang terbangun saat itu benar-benar hangat dan penuh dukungan. Apalagi saat seorang peserta pria yang ikut bermain menjelaskan bahwa ia tadi tidak dapat mengekang emosinya sehingga harus menangis di depan orang banyak yang baginya memalukan, lantas ada seorang teman laki lakinya yang bangun dan menuju ke tempatnya duduk untuk memberikan tepukan dan bilang bahwa itu tidak memalukan, dia justru hebat sekali. Wah.. fasilitatornya yang baper sekarang.

Penutupan acara mereka bergiliran sharing tanpa harus ditunjuk siapa yang memulai. Mereka menyampaikan bahwa ketika pemberitahuan menyebutkan sesi hari ini adalah test psikologi, mereka sebenarnya datang dengan perasaan cemas dan takut. Setelah menjalani sesi psikodrama, mereka merasa surprise, ternyata mereka diajak bermain-main, bersenang-senang dan sekaligus belajar. Lalu mereka juga dengan penuh percaya diri menyatakan bahwa saya juga pasti belajar sesuatu dari mereka. Tentu saja saya mengamini, karena memang saya belajar banyak, terinspirasi dengan kreativitas, kemampuan adaptasi, dan mengagumi semangat muda serta kecerdasan mereka.

Pengalaman menggunakan psikodrama kali ini merupakan pengalaman kedua. Kali pertama saya pakai sebagai metode ceramah, kali ini saya gunakan sebagai metode memetakan peserta. Rasa senang yang saya dapat di pengalaman pertama mendorong saya untuk mencoba mengasah kemampuan menggunakan metode psikodrama dalam berbagai kesempatan. Bagi saya, psikodrama merupakan media yang OK, efek bahagia nya bukan hanya dirasakan peserta, fasilitator juga bisa bebas berekspresi, tidak terbebani oleh kewajiban jaim – malah senang dibilang gila oleh peserta.

Setelah sesi saya selesai, para peserta latihan jalan di catwalk. Pelatihnya minta saya temani untuk memperhatikan para peserta berlatih. Mereka ini adalah orang – orang yang sebelumnya tidak pernah berjalan di atas catwalk, sehingga beberapa sangat kaku dan jalan seperti murid yang dipanggil guru ke depan kelas. Dengan teknik yang diberikan, mereka dapat berjalan dengan langkah yang benar, namun kesan berbaris tidak dapat dihilangkan dari mereka.

Ini adalah saat saya menguji kemampuan mereka menyerap perasaan setelah latihan drama tadi. Sesuai dengan hasil pengamatan saya, mereka saya minta untuk tutup mata dan membayangkan diri mereka berjalan dengan karakter yang berbeda. Ada yang saya minta membayangkan diri sebagai orang paling sombong, agar ia dapat membusungkan dada, karena jalannya sedikit bungkuk. Ada yang saya minta ia berjalan menuju wanita yang ingin ia taklukkan dengan pesonanya, dan ada wanita sexy penuh pesona. Perlu beberapa detik, kemudian mereka buka matanya dan berjalan ke depan dengan gaya yang berubah total. Teman saya sampai terpesona. Ia bertanya, kog bisa. Bisa dong, dengan psikodrama.

Medan, Februari 2018

BMW

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Pengalaman Praktek Psikodrama sebagai Metode Pemetaan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.