Anak selalu yang menjadi Korban (Diskusi Kasus Psikologis dari Group WA)


Diskusi Kasus Psikologi di Group WA yang cukup menarik, saya share disini agar dapat dibaca lebih banyak orang. Tentunya sudah saya edit untuk menjaga identitas asli, dengan tetap menjaga substansi-nya.

Psikolog 1 : Assalamualaikum, selamat pagi teman Himpsi..mau tanya apakah ada yang punya kontak Psikiater anak di Jakarta atau Bandung? Lagi perlu untuk merujuk klien.

Psikolog 2, 3, 4 dan 5 : Wassalamualaikum..,,yang terkenal dr…… Psikiater anak. Yang punya tempat terapi …..

……(dst. ….sampai dengan mendapatkan nama dan kontaknya …..)

Psikolog 1 : Terima kasih infonya Bu Lsd, Bu Dn, Mbak Tw, Bu Wd
Harapan orangtua klien bisa dapat tenaga profesional yang benar-benar ahli…latar belakang keluarga dari sosial ekonomi atas, jadi pengen yang terbaik buat anaknya dan gak peduli biaya yang akan dikeluarkan 😅😅

Psikolog 3 : Klien anak dengan gejala apa ?

Psikologi 1 : Jadi klien ini riwayat kesehatannya panjang…dari awal lahir udah gak kuat, beberapa minggu di inkubator karena janin gak berkembang sempurna, dokter mem-vonis kalo gak bakal lama hidupnya tapi ternyata masih sehat sampai umur 13 tahun ini, punya diabetes akut, tapi kontrol dirinya sangat lemah sampai-sampai selalu makan dan mencuri makanan…udah berpindah-pindah sekolah karena kena kasus terus tentang pencurian, secara akademis pun lemah. Pas saya cek IQ-nya memang di kategori Borderline, ternyata udah ada 3 psikolog lain yang periksa sebelum saya dan hasilnya memang borderline semua
Waduh maaf saya jadi curhat kasus di sini, kelupaan kalo ini grup besar

Psikolog 3 : Insyaallah gapapa ya.. biar bisa saling belajar mas…
Ooh menurut saya kasus di atas :
1. Kontrol dr Anak atau dr Internis rutin untuk kontrol diabetesnya
2. Family therapy oleh psikolog
3. Psikiater bila diperlukan…
Yang harus intens malah lebih ke penanganan psikologisnya mas..

Psikolog 1 : Iya Bu …menurut pengakuan keluarga udah dilakukan berbagai cara dan aturan, tapi anak gak jera. Anak ini bahkan pernah sampai koma karena gula darah melonjak naik pas dia mencuri banyak makanan dan dimakan habis semua. Diskors pun berkali-kali sampai dikeluarkan. Mungkin sebaiknya perlu ada campur tangan psikiater juga ya di kasus ini.
Saya sih masih perlu berbagai data dan kroscek lagi tentang kebenaran info dari keluarga. Tapi kebetulan di Paskah akhir bulan ini mereka akan berlibur ke Jakarta dan Bandung jadi mnta info psikiater di sana.
Karena udah bolak-balik ke Psikolog, keluarga merasa gak ada hasil…cukup mencurigakan ya sebenarnya.

Psikolog 3 : Iya.., bisa dikonsulkan Psikiater juga.. menurut saya ke dr Dn Psikiater di Samarinda juga bisa atau di BPN ada Psikiater juga.

Psikolog 4 : Anak bukan tergolong CD kan ?

Psikolog 1 : CD maksudnya Conduct Disorder bu?

Psikolog 3 : Mas ….. saya malah ingin mendalami pola asuh orangtuanya juga selain anak

Psikolog 1 : Gak CD bu..anaknya nice dan suka cerita macem-macem
Benar Bu …tapi keluarga udah pernah ke 3 psikolog (termasuk yang baru-baru ini dengan saya), 1 di Surabaya, 1 di Jakarta, dan merasa gak ada hasil gitu..jadi mreka udah pasang tembok duluan sama profesi kita 😭

Psikolog 3 : Menurut saya pertemuan tidak cukup 1 atau 2 kali sesi… tipe anak dan tipe orang tua yang demikian, sepertinya bisa lebih dari 4 kali sesi
Semangat mas R… tunjukkan dan yakinkan bahwa Psikolog itu profesional dan okey banget untuk tangani kasus nya…

Psikolog 1 : Saya mau mendalami pun juga slalu gak dapat banyak data karena mamanya selalu bilang “mungkin Mas punya kenalan Psikiater aja, karena kami udah berkali-kali ke psikolog”…berkali-kali banget bilang begitu, gak mau keadaan keluarga dan pola asuh dikorek lebihh jauh. Padahal ini udah ketiga kalinya kami ketemu

Psikolog 3 : Tipe orang tua yang gimana dia?
Hehehe… sepertinya memang perlu trik yang unik tangani yang demikian… gunakan bahasa NLP nya Mas

Psikolog 1 : Saya tetap mencoba pendekatan terus selama orangtuanya masih mau ngobrol dengan saya….ini saya cari info psikiater buat memenuhi keinginan mereka aja untuk ketemu Psikiater ahli saat Paskah akhir bulan nanti.
Tipe orangtua yang cenderung gak terbuka sih bu tentang keadaan anak dan keluarga…saya curiga begitu ada sesuatu di balik ini semua. Mungkin keadaan kleuarganya gak sebaik yang terlihat.

Psikolog 3 : Tentukan goal yang ingin dicapai dari proses konsultasi…lalu buat konsep berpikirnya untuk mencapai goal tsb… masukan analisa-analisa kita plus minus dari kemungkinan tindakan
Tegaskan untuk mencapai goal tsb harus ada kerjasama orangtua anak dan Psikolog

Psikolog 1 : Wah iya bener Bu …..jadi lebih dari menggali data ya, tetapi memetakan konsep berpikir orangtua sekalian saat itu juga
Terima kasih banyak ya… Bu Dn masukan-masukannya

Psikolog 3 : Satu lagi… terkadang saya tidak terlalu perlu tau latar belakang masalah secara detail apalagi menghadapi orang introvert dan yang deffence mechanisme kuat…
Cukup mengenal tipe pribadi masing-masing yang terlibat…kita bisa analisa kemungkinan-kemungkina perilaku yang muncul dan kita bisa tarik benang merahnya (tambahanku. Imajinasi dengan Psikodrama)
Sukses ya mas … semoga diberikan kemudahan dan selalu berkah dengan aktifitas kita Aamiin YRA.. semangaaaat💪💪💪🙏🙏🙏

Psikolog 1 : Wahh mantap Bu…mungkin malah bisa lebih objektif dan fokus ya?
Amin amin bu terimakasih banyak…sukses dan sehat terus juga untuk Bu Dn dan teman-teman semua.
Mohon maaf ya kalo ada yang terganggu saya jadi share kasus begini’

Komentarku : …dari kasus-kasus yang saya temui, apa yang dialami anak adalah akibat dari perilaku orang tua nya, sadar atau pun tidak sadar…🙏🙏🙏
Maka dari itu, bila mendapatkan klien seorang anak (remaja) orangtuanya perlu di assesmen juga…agar mendapatkan asal pola perilaku anak (remaja) tsb.🙏🙏🙏

Catatan tambahan dariku, (hasil diskusi di Group Psikologi yang lain) salah satu teknik Psikodrama `~ Tukar Peran (Kursi Kosong) dapat diterapkan,  kepada Orang Tua nya jika berkenan. Tentunya teknik ini dilakukan bukan pada pertemuan pertama. Dengan bertukar Peran menjadi anak, orang tua dapat menyadari Tekanan apa yang dirasakan anak dan kontribusi apa yang telah dilakukannya selama ini. Kesadaran ini diharapkan dapat merefleksikan perilakunya selama ini dan merubahnya sehingga dapat memberikan kondisi yang membangun untuk perkembangan anak menjadi lebih baik.

 

Yogyakarta, 8 Maret 2018

 

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Anak selalu yang menjadi Korban (Diskusi Kasus Psikologis dari Group WA)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.