Mendidik Anak Berkarakter Jaman Now


Menulis kembali apa yang didapat pada seminar parenting orang tua murid kelas bimbingan Budi Pekerti Tzuchi Medan dengan topik ” Mendidik anak berkarakter jaman Now ” minggu 18 Maret 2018, dengan nara sumber dari Jakarta, Ibu Melly Kiong, seorang penulis dan praktisi Mindful parenting.

Semua orang tua ingin anak nya tumbuh berkarakter baik, prestasi, bijaksana, berbudi pekerti, mandiri dan lain lain. Namun sadarkah orang tua bahwa sebenarnya pendidikan karakter itu bukan dari sekolah tapi dari keluarga, didikan orang tua sejak kecil sangat berpengaruh dalam proses pertumbuhan masa depan anak nantinya.
Semua anak terlahir polos dan bersih, mereka merekam dan meniru apa yang dilakukan orang tuanya kemudian menjadikannya kebiasaan, dari kebiasaan membentuk karakter, bukan orang tua tidak mau mendidik anaknya menjadi berkepribadian atau berkarakter baik, hanya saja mereka tidak tahu bagaimana caranya.

Terlahir sebagai anak bungsu dari tujuh bersaudara, dengan lingkungan dan didikan keras dari ibunya yang berstatus single parent,membuatnya tidak ingin mengulang hal yang sama pada kedua anaknya, diusia pernikahan yang ke 22 tahun ini, Melly kiong selaku pembina pada Yayasan Karakter Eling Indonesia, mengajak orang tua mempraktekkan kesadaran (Mindfull) dengan 5 dimensi dalam pola asuh anak yakni :
– Mendengarkan dengan penuh perhatian dan berbicara dengan empati.
– Tidak menghakimi diri sendiri dan orang lain.
– Pengendalian emosi diri.
– Adil dan bijaksana.
– Welas Asih.

“Saya tidak memiliki teori, saya hanya punya prakteknya” kata Melly kiong, sambil memperlihatkan tempelan tulisan pada wadah – wadah kecil diatas wastafel yang bertuliskan tempat alat cukur, gunting kuku, odol dan lain lain, dengan tulisan dibelakang, “ Tolong kembalikan pada tempatnya”. Kebiasaan- kebiasaan menaruh kembali barang pada tempat nya, sehingga memudahkan pencarian barang saat diperlukan, disiplin dan bertanggung jawab dalam meletakan barang dibina sejak kecil.

Berikutnya, tempelen kertas pada kran air, tertulis “Hemat Air “ yang mengingatkan akan kesusahan saudara kita yang di Nusa Tenggara Timur karena kekurangan air, sehingga adanya kesadaran dalam penghematan pengunaan air kran seperlunya saja, serta mengajarkan anak sejak kecil untuk berempati pada saudara jauh kita yang kekurangan air.

Selanjutnya, tempelan tulisan memo kecil , “Boleh membaca buku ditoilet namun yang dilarang adalah meninggalkan bukunya ditoilet” yang menempel pada pintu kamar mandi sebagai pengingat agar anak jangan lupa membawa buku nya keluar karena kebiasaan meletakan buku sehabis membaca didalam toilet, dalam hal ini orang tua harus bijaksana dalam memberikan larangan supaya tidak berefek pada niat membaca anak.

Contoh lainnya sejak kecil ditanamkan karakter disiplin menabung, setiap kali sewaktu anaknya minum susu, anak diajak untuk memasukan koin pada celengan kecil, disini Melly Kiong menjelaskan bahwa anak kecil membutuhkan stimulasi motorik tangan, dengan mengajaknya menaruh sendiri akan membantu efektivitas tangan serta menyemangati anak, setelah penuh celengan tersebut dapat digunakan untuk membantu yang lain.

Kemudian Melly Kiong memperlihatkan catatan memo apressiasi anak yang ditempel dikulkas sehinggga memicu anak berani menceritakan apapun yang dilakukannya di sekolah, dan hal sepele seperti ini dapat diketahui oleh papanya saat pulang kerja malam harinya atau anggota keluarga lainnya.
Masih banyak contoh- contoh lain seperti membuang sampah, setelah dipisahkan menjadi sampah basah dan sampah kotor, kemudian dikecilkan lagi dari bentuk awal sehingga tidak cepat memenuhi wadah tong sampah, Odol yang mengucapkan Terimakasih dan lain lain.
Harapan Melly Kiong pada rumahnya yang sekarang agar kelak dapat dijadikan sebagai Museum Tur Karakter , karena memiliki 23 titik tempat yang dapat menginspirasi bagaimana pengajaran karakter seharusnya.

Menurut Melly Kiong, kita juga dapat memanfaatkan teknologi sekarang untuk berkomunikasi dengan keluarga dengan membuka group whatshap atau line keluarga sehingga komunikasi terus terjalin setiap saat walau saling berjauhan. Mengikuti perkembangan jaman tanpa harus menarik anak pada pola didikan jaman dulu, berkomitmen kemudian konsistenlah pada komitmen tersebut.

Seorang perserta seminar yang berprofesi sebagai guru bernama Nana menanyakan : “ Anak saya sudah besar, namun bagaimana cara agar dapat memberikan rasa percaya diri dan tanggung jawab pada anak?”
“Tidak ada kata terlambat dalam mendidik anak, setelah pulang dari sini ajaklah anaknya untuk duduk bersama dan berkomunikasilah, mintalah maaf karena selama ini tidak mengerti pola asuh yang benar, jangan malu untuk minta maaf karena hal ini akan membuka lembaran baru hubungan antara ibu dan anak” tanggapan Melly Kiong.
Melly kiong juga menambahkan,” Semoga setelah mengikuti kelas parenting hari ini orang tua dapat mengubah pola pikir mereka dalam pengasuh terhadap anak mereka”.
Pendidikan anak adalah mengajarkan tata krama, membina budi pekerti, menunjukan jalan dan memandu mereka kearah yang benar”.

Demikan yang saya dapatkan saat mengikuti kelas parenting kemarin, semoga semua berbahagia.

 

Oleh:Denny M

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.