Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Persiapan (Bagian 1)


Waktu menunjukkan jam 8 kurang. Masih agak terlalu pagi, tapi beberapa mahasiswa dari tim fasilitator sudah mulai hadir di tempat pelaksanaan. Saya sendiri datang sekitar jam 8 lebih sedikit. Begitu sampai di aula sekolah tempat pelaksanaan, saya melihat para mahasiswa fasilitator bergerombol di belakang, lengkap dengan jaket almamater mereka. Tidak ada yang duduk tenang di kursi. Semuanya berdiri, bercakap, bersenda gurau, atau hanya berjalan-jalan di ruangan. Kuteliti wajah-wajah mereka dan kutanyakan keadaan dan perasaan mereka. “Baik,” jawab mereka serentak, tapi beberapa menjawab dengan senyum tertahan atau tanpa senyum. Aku cuma bisa membayangkan apa yang berkecamuk dalam pikiran dan perasaan mereka. Mereka kukumpulkan dan kuajak berdoa bersama. Suaraku bertanding dengan suara musik yang sudah mulai dinyalakan, pertanda tidak lama lagi acara akan dimulai. Setelah berdoa, salah satu mahasiswa memimpin dengan yel-yel ringan sambil menyatukan tangan kami semua di tengah, dan akhirnya kami pun siap. Aku yakin tidak ada satupun dari kami ber-14 yang sadar apa yang akan kami alami dalam 5 jam ke depan, tapi kami serahkan semua kepadaNya untuk menuntun dan menemami kami, paling tidak itu yang aku harapkan.

Pagi itu kami berada di aula salah satu SMA swasta terkenal di Surabaya untuk memberikan pelatihan bagi keseluruhan siswa-siswi kelas X yang berjumlah total sekitar 500 anak. Temanya berkisar di isu pacaran yang sehat dan apa arti cinta. Kalender hari itu menunjukkan tanggal 8 Februari, hanya sekitar seminggu menjelang Valentine’s Day. Cupid dan panahnya sedang beterbangan ke mana-mana mencari mangsa. Banyak kegalauan terjadi, apalagi pada kaum muda, dan terlebih lagi pada jaman now dengan alat komunikasi yang menjanjikan komunikasi instan. Topik ini sendiri adalah topik yang menarik dan penting, tapi tidak cocok menurutku untuk waktu 2,5 jam per sesi dihabiskan dengan mendengarkan ceramah dari seorang ibu berusia dewasa madya, berbicara tentang love yang dia sendiri mungkin masih belum sepenuhnya memahami. Waktu perlu dihabiskan dengan cara yang lebih efektif sehingga dari awal saya sudah langsung tahu bahwa psikodrama adalah cara yang paling tepat untuk menghadapi sekumpulan energi dari kaum muda yang sepertinya siap meletus kapan saja.

Pada pagi seperti itulah kami dikumpulkan oleh tangan-tangan yang tak terlihat, menuntun kami untuk memberikan waktu dan energi kami. Beberapa dari mahasiswa yang saya bawa belum pernah melakukan psikodrama. Bahkan mengenali yang namanya psikodramapun baru mungkin selama satu minggu sejak kami memulai latihan persiapan. Seminggu, waktu yang tidak banyak. Mari saya bawa kita kembali dulu ke seminggu yang lalu itu untuk melihat seperti apa bentuknya.

Permintaan yang ditujukan kepada saya untuk memberikan seminar ini sebenarnya sudah terjadi sekitar 2 bulan sebelumnya. Namun karena berbagai alasan dan kondisi yang terlalu panjang untuk dijelaskan, persiapan yang sesungguhnya baru benar-benar dimulai 2 minggu sebelum hari pelaksanaan. Sebenarnya, sebelum dua minggu persiapan itu, sudah ada pemikiran dan konsultasi tentang apa yang akan dilakukan dengan orang-orang tertentu, terutama dengan Pak Retmono Adi sebagai seorang trainer psikodrama di Indonesia. Akan tetapi, entah kenapa semuanya baru benar-benar bergerak di 2 minggu terakhir itu. Satu minggu sendiri habis terpakai untuk mencari hari pertemuan dan mahasiswa-mahasiswa yang bisa ikut serta dalam pelaksanaan. Kemudian kami sempat berlatih 2 kali. Hanya 2 kali! Itupun tanpa pernah dengan kehadiran penuh semua mahasiswa fasilitator. Dengan kata lain, ada fasilitator yang hanya sempat berlatih 1 kali saja.

Jumlah fasilitator yang akhirnya berhasil dikumpulkan adalah sekitar 16 orang. Inginnya lebih dari itu sebenarnya. Apa daya yang berhasil dikumpulkan hanyalah berjumlah demikian. Mengapa saya membutuhkan banyak? Karena jumlah siswa SMA yang kami bina dalam dua hari seminar itu adalah total 500 murid lebih, dibagi dalam 2 hari yang masing-masing hari kemudian dibagi lagi menjadi 2 sesi, yang berarti ada total 4 sesi yang kami lakukan. Setelah dibagi demikian pun, masing-masing sesi berjumlah antara 120-150 orang. Banyak ya? Tidak pernah saya mengira bahwa pertama kaliku mengadakan pelatihan yang menggunakan psikodrama akan berhadapan dengan manusia yang sebegitu banyaknya. Sudah banyak, berisi buntalan energi yang meluap-luap lagi! Tuhan memang tidak main-main untuk melatih dan mengujiku. Dalam dua hari pelatihan itu, saya dan rombongan mahasiswa bisa dikatakan tertatih-tatih, walaupun dengan semangat dan antusiasme yang pantang menyerah, mencoba menyamakan energi kami dengan energi kaum generasi Z yang sepertinya tidak pernah mengalami penyusutan energi. Bahkan beberapa mahasiswa yang masih berada pada semester 2 dan 4 yang mungkin masih bisa dikatakan bagian dari generasi Z, merekapun sepertinya merasa sedikit kewalahan menghadapi adik-adik kelas saat berekspresi bebas.

Kembali lagi ke waktu latihan seminggu sebelum hari pelaksanaan, terus terang waktu itu saya sendiri kurang yakin apakah mereka bisa; atau lebih tepatnya, apakah saya bisa melakukan apa yang harus saya lakukan. Dalam benak, ada bayangan kegiatan yang bisa dilakukan berdasarkan usul dari Pak Retmono. Waktu diskusi sempat terpikirkan bahwa ide itu bisa dijalankan, tapi pada saat latihan, saya baru tersadarkan bahwa kadang dalam perencanaan ada lobang-lobang yang tidak disadari sebelumnya dan harus ditutup segera untuk bisa berlanjut terus. Itu kendala pertama. Kendala kedua, muncul kesulitan untuk mendapatkan mahasiswa yang berminat dan yang bisa ikut serta. Beberapa mahsiswa berminat tapi tidak bisa karena berbagai kondisi. Kemudian akhirnya kami mendapatkan beberapa mahasiswa yang mau ikut, tapi mereka belum pernah mengikuti pelatihan psikodrama atau latihan teater sebelumnya bersama komunitas teater. Di kampus kami ada komunitas teater mahasiswa yang pendiri dan mahasiswa seniornya adalah hasil didikan dan bimbingan Pak Retmono di mana beliau menggabungkan teknik-teknik teater dan psikodrama. Mahasiswa ysng berhasil kami kumpulkan untuk pelatihan ini akhirnya seakan terbagi dua, yaitu separuh mahasiswa yang sudah terbiasa berekspresi dalam teater dan pentas kecil-kecilan beberapa kali secara internal dan eksternal (lebih banyak internalnya di fakultas daripada eksternal, walaupun eksternalnya yah lumayan juga di acara RRI Surabaya) dan separuhnya lagi mahasiswa yang sudah punya pengalaman sebagai fasilitator kelompok kecil di acara-acara pelatihan lainnya namun nol dalam pengalaman atau pemahaman tentang psikodrama atau teater.

Dilema kedua ini yang paling signifikan. Entah berapa kali selama masa persiapan itu pemikiran “giving up” melintas di benakku. Tapi mujizatnya, pemikiran itu selalu kalah saat melihat antusiasme anak-anak untuk terus melangkah maju, terutama anak-anak hasil didikan langsung dari Pak Retmono. Terus terang juga, salah satu faktor yang membuat kami tetap terus melangkah maju adalah mereka, anak-anak komunitas teater psikodrama Seniman 15 Menit itu. Mereka sendirilah yang kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan “bagaimana caranya?” yang muncul di benakku beberapa kali dengan memunculkan solusi atau cara mereka sendiri. Bisa dimengerti kenapa. Karena merekalah yang jauh lebih kreatif sebenarnya. Sambil berlatih, saya sebenarnya sedang belajar dari mereka saat itu. Improvisasi terus terjadi sambil berjalan.

Dengan waktu latihan yang bisa dikatakan minim, kami nekat berjalan terus. Latihan berupa melakukan apa yang akan kami minta siswa-sisiwi untuk lakukan saat seminar nanti. Kami memilih melakukàn teknik sculpture, tapi tanpa pemanasan karena keterbatasan waktu. Skenario untuk sculpture sudah kami persiapkan dan kemudian mahasiswa fasilitator melakukan satu per satu skenario itu. Berlatih sambil bermain terlalu menggiurkan sampai-sampai saya juga akhirnya ikut mengambil bagian bersama mereka. Akan tetapi, bukan saya yang menyutradarai atau mengatur setiap skenario. Beberapa anggota komunitas teater yang lebih berpengalaman yang kemudian berinisiatif untuk saling memberikan masukan.

Kemudian kami melakukan role play di mana setiap mahasiswa bergiliran mencoba menjadi fasilitator dan mengajak kami yang lainnya yang sedang mengambil peran sebagai murid kelas X untuk melakukan sculpture. Kami memainkan peran murid SMA yang menolak untuk ikut serta karena ragu-ragu, malu ditertawakan, atau tidak tahu mau melakukan apa pun. Setiap fasilitator belajar mengatasi hal tersebut karena masing-masing dari mereka akan memimpin sendiri satu kelompok kecil yang terdiri dari 12 sampai 16 orang pada hari H-nya. Dalam latihan itu, kami mengantisipasi kira-kira hal-hal apa yang akan dihadapi oleh setiap fasilitator. Bagian ini yang terasa paling sulit oleh beberapa fasilitator, sehingga solusinya adalah beberapa dari mereka saya buat berpasangan dalam memimpin kelompok. Sebelumnya saya mengatakan nekat, tapi sebenarnya mungkin lebih tepat kami benar-benar lugu dan clueless akan apa yang akan terjadi saat hari H-nya, tapi yah itu urusan nanti. Untuk saat latihan itu, kami melakukan yang sebaik-baiknya dan hanya bisa berharap dan berdoa.

Surabaya, 14 April 2018
Erlyn

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Persiapan (Bagian 1)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.