Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Pelaksanaan (Bagian 2)



Sedikit demi sedikit, siswa-siswa SMA peserta seminar mulai memasuki ruangan. Beberapa siswa cowok mengintip masuk ke aula dari balik pintu. Saya langsung mengenali salah satu dari mereka, anak dari atasan saya. Sungguh, pencerahan yang satu ini memang bisa dikatakan bukan kebetulan, tapi mestikah ini terjadi? Haruskah anak itu siswa kelas X di sekolah itu? (Doa bertambah kencang)

Kegiatan dibuka dengan urutan yang sama pada keempat sesi, yaitu doa bersama, kata sambutan dan pembukaan dari pihak sekolah, sebelum akhirnya waktu diberikan kepada saya. Setelah berhalo-halo ria dan memperkenalkan diri, saya memulai dengan sedikit mempromosikan komunitas teater Seniman 15 Menit dan kiprah kecil mereka selama ini. Mahasiswa saya minta untuk berdiri dan memperkenalkan diri beserta semester mereka kepada peserta. Setiap angkatan memiliki perwakilan, mulai dari semester “yang tak bisa lagi disebutkan namanya” (adalah pantangan untuk menyebutkan semester di atas angka 8 😁) sampai semester 2 hadir sebagai fasilitator. Tak masalah sebenarnya semester berapa mereka, tak masalah pula latar belakang mereka. Timbul kehangatan di hati mendengar suara mereka memperkenalkan diri yang diiringi tepuk tangan peserta. Bahagia? Tentu saja! Bahagia dan bangga atas keberanian mereka untuk mencoba sesuatu yang baru, melangkah keluar dari suatu zona nyaman.

Beberapa dari mahasiswa kemudian melangkah ke depan dan memeragakan suatu contoh kegiatan sculpture yang akan dilakukan oleh peserta nantinya. Satu per satu mahasiswa maju ke panggung, melakukan perannya, kemudian “freeze”, dan menahan posisi itu sampai semua sudah maju. Saya melihat ke peserta seminar dan hampir sebagian dari peserta sudah menjulurkan kepala mereka ke depan, bahkan ada yang sampai berdiri di kursi atau maju beberapa langkah ke depan demi mendapatkan view yang lebih jelas. (Serasa seperti celebrity mendadak)

Kegiatan sculpture diperagakan dalam keadaan bisu; yang terlihat hanyalah gerak dan ekspresi. Setelah semua mahasiswa sudah maju dan beraksi, salah satu dari mereka keluar dari panggung dan menyapa audience untuk menjelaskan apa yang terjadi di panggung. Saat menjelaskan inipun, semua yang di belakangnya masih dalam keadaan freeze. Penjelasan diberikan dengan cara humoris. Inti pesan di balik semua itu adalah kami mengajak para peserta untuk bermain. Suasana memang sengaja dibuat ringan, penuh guyonan, dan bebas. Kami mengajak peserta seminar untuk mau berpartisipasi, tidak merasa dikekang atau dipaksa. Setelah itu, mereka dibagi dalam 10 kelompok dan kegiatan yang didebar-debarkan oleh mahasiswa pun dimulai.

Setiap kelompok kecil dipimpin oleh 1 atau 2 fasilitator. Saya sendiri berjalan dari kelompok ke kelompok mengawasi dan memberi dukungan. Tugas fasilitator dalam kelompok adalah memfasilitasi peserta dalam pembuatan sculpture berdasarkan suatu skenario. Berikut adalah contoh beberapa skenario terkait tema seminar yang dibuat sendiri oleh para fasilitator sebagai bagian dari persiapan:
– lagi main game di hape, ditelpon pacar
– ketahuan oleh pacar lagi chat dengan sang mantan
– lagi berdua dengan pacar naik motor, lihat cowok ganteng/cewek cantik lewat
– pacar lagi ngambek/marah
– mencintai doi yang populer
– lupa hari ulang tahun pacar
– lagi nge-date di mall, eh ketemu mantan

Aturan main dalam sculpture ini adalah SEMUA anggota kelompok ikut mengambil bagian. Peran yang diambil bisa menjadi benda hidup atau benda mati. Tidak ada aturan siapa harus menjadi siapa/apa. Kebebasan memilih peran bagi semua ditegaskan. Tanpa pemanasan, setiap kelompok cuma diberi waktu sekitar 20 menit untuk menyiapkan adegan. 20 menit! Bisakah membayangkan bagaimana heboh dan ributnya ruangan aula saat itu? Bayangkan 120-150 anak remaja berbicara serentak dalam ruang aula tertutup dengan energi yang lepas bebas.

Ada kelompok yang langsung bergerak dan mencoba sesuatu, sementara kelompok yang lain memilih untuk musyawarah terlebih dahulu sambil duduk melingkar di lantai. Ada peserta yang terlihat serius, dan yakinlah, kelompok kebalikan dari serius juga ono! Oh indahnya keberagaman (*dibaca dengan nada sarkasme). Tokoh-tokoh pemimpin di setiap kelompok langsung terlihat; demikian pula dengan tokoh-tokoh pengacau, yang tak pedulian, sang controller, si pengikut, si populer, yang caper, baper, dan lain-lain, langsung terlihat juga!

Para fasilitator juga tak luput dari perhatian saya. Ada yang menjadi sangat aktif, ada yang terlihat mengambil posisi yang lebih mengamati dan turun tangan sekali-sekali. Yang membebaskan pesertanya untuk lebih bebas bereksplorasi dan yang lebih mengontrol juga exist. Tak ada yang salah dan tak ada yang 100% benar. Semua fasilitator belajar menilai anak-anak dalam kelompoknya masing-masing dan belajar membuat keputusan yang terbaik. Beberapa fasilitator juga sempat berkonsultasi singkat denganku, sementara sebagian besar sudah lebih mandiri. Saya jadinya lebih banyak mondar-mandir berjalan perlahan dari satu ujung ke ujung yang lain, tenggelam dalam pengamatan. Sempat saya rasakan ketenangan di tengah hiruk-pikuk suara dan energi yang sepertinya meledak lepas kendali saat itu. Tantangannya adalah bagaimana untuk tidak ikut terbawa arus kehebohan yang terjadi di sekeliling.

How to stay mindful and calm in the midst of chaos, was the challenge.

Setelah sekitar 20-30 menit, waktunya untuk pentas. Sebelum dimulai, bagianku untuk masuk dan berbicara sebentar. Semua peserta saya persilakan duduk di lantai sambil mendengarkan penjelasan singkat. Mereka saya minta untuk melakukan pentas kelompok dalam keadaan diam, hening, tanpa suara satupun, termasuk tepuk tangan. Penjelasan mengapa dibuat seperti itu saya berikan, yaitu supaya mereka yang sedang pentas bisa lebih mendalami peran yang mereka mainkan dan bagi yang menonton untuk belajar menghargai dan merasakan sentuhan atas apa yang dilihat. Silence diminta untuk keseluruhan pentas dari kelompok pertama sampai terakhir.

Setelah selesai pentas, peserta tetap diminta untuk bersama dalam kelompoknya dan masuk dalam diskusi kelompok dan berefleksi. Masing-masing anak diminta untuk merefleksikan perannya, pengalaman memainkan peran atau mengawasi orang lain bermain peran, dan pembelajaran apa yang didapatkan. Walaupun fasilitator sudah disiapkan untuk melakukan ini di saat latihan sebelumnya, beberapa dari mereka malah mengalami tantangan terbesar saat masuk ke bagian ini karena peserta kelompok yang tidak mau atau kesulitan untuk berdiskusi/berefleksi.

Dalam keadaan seperti itu, saya secara sadar perlu menahan diri dan tidak secara impulsif menyelamatkan mahasiswa yang mengalami kesulitan. Akhirnya saya menyarankan kepada mahasiswa itu untuk tetap tenang dan mendorong peserta kelompoknya berbicara hal-hal lain seputar tema seminar dengan tujua mendobrak kekakuan dalam kelompok. Intinya adalah saya berupaya supaya mahasiswa belajar mengatasi masalah itu sendiri dan tidak merasa bergantung kepada saya sebagai yang akan menyelesaikan masalah mereka. Suatu tantangan besar juga buat mereka sebenarnya. Apakah berhasil atau tidak, sungguh itu tidak menjadi fokus dalam psikodrama. Lebih penting adalah pembelajaran baru apa yang mereka dapatkan mengenai diri mereka dari pengalaman mengatasi masalah itu sendiri.

Tidak terasa, sekitar sejam telah dihabiskan bersama dalam kelompok. Setelah waktu yang cukup untuk berefleksi, semua peserta saya bawa kembali ke kursi mereka. Waktunya untuk kembali ke pleno dan pemberian materi yang sudah saya siapkan sebelumnya dengan tujuan menyatukan kegiatan dalam kelompok kecil tadi dan menutup porsiku dalam seminar.

Pada akhir seminar sesi pertama itu, sambil sibuk mengunyah lahap konsumsi kami karena kelaparan, kami lakukan evaluasi kecil-kecilan sebelum memasuki sesi kedua. Demikian pula di akhir seai kedua, kami lakukan evaluasi sekali lagi yang lebih panjang sebagai persiapan untuk hari kedua esoknya. Rumor yang kami dengar adalah siswa dari kelas-kelas yang akan mengikuti seminar di sesi-sesi hari kedua cenderung lebih berisik, hyper, heboh. Parahnya lagi, kami kehilangan dua orang anggota senior dari kelompok pada hari kedua, tapi untungnya mereka digantikan oleh 1 anggota senior dan beberapa fasilitator yang sudah berpengalaman menjadi fasilitator di kegiatan lain.

Hari kedua kami lalui dengan kesadaran penuh. Kami sudah bisa mengira-ngira seperti apa yang akan terjadi. Ada kesempatan untuk memperbaiki diri pada hari kedua ini atas kekurangan dari hari pertama. Dalam evaluasi paling akhir, beberapa dari fasilitator mengatakan ingin lebih baik lagi dan “mestinya” tadi bisa begini dan begitu. Beberapa fasilitator juga membandingkan pengalaman mereka menjadi fasilitator di pelatihan psikodrama dan pelatihan biasa lainnya. Mereka merasakan perbedaan dan belum terbiasa menjadi fasilitator yang tidak terlalu mengandalkan aturan-aturan untuk berperilaku begini dan begitu dan, bila tidak melakukan apa yang sudah dibicarakan, akan diminta pertanggungjawabannya nanti saat evaluasi. Di sinilah indahnya psikodrama yang menawarkan penekanan yang sedikit berbeda, yaitu kebebasan untuk bertindak dan belajar dari proses itu. Bukan suatu hasil atau tindakan yang lebih penting, tapi proses terjadinya. Kesalahan akan terjadi dalam hidup, dan itupun bukan yang paling penting. Jauh lebih penting adalah melihat prosesnya, bertanya mengapa itu terjadi dan belajar dari pengalaman itu. Penekanan berada pada proses, bukan semata-mata pada hasil. Dengan memberikan kebebasan untuk bertindak dan “melakukan kesalahan”, mahasiswa dan siswa SMA telah bersama-sama belajar untuk berani membuat keputusan sendiri, berani keluar dari zona nyaman, belajar mengenali diri sendiri, dan lebih percaya diri.

Bukan cuma mereka, SAYA pun juga tak luput dari PROSES pembelajaran yang sama.

Terimakasih telah menyimak. Namaste.

Surabaya, 14 April 2018
Erlyn

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Pengalaman Pertama Memberikan Pelatihan Menggunakan Psikodrama: Pelaksanaan (Bagian 2)”

  1. Reblogged this on Nature Whispering and commented:
    Bagian kedua dari pengalaman memberikan pelatihan dengan menggunakan teknik psikodrama. Bila bagian pertama lebih berfokus pada persiapan, tulisan kali ini lebih mengenai pelaksanaannya. Selamat menyimak. Bila ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai psikodrama, silakan membaca tulisan-tulisan yang lainnya di blog retmono.wordpress.com milik Retmono Adi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.