Berdoa Dalam Gerakan


Pagi itu aku bangun dengan suatu misi. Ada suatu hal baru yang akan aku lakukan pagi itu. Persiapan mental sudah aku lakukan sebisaku, tapi pelaksanaannya sendiri masih suatu tanda tanya besar. Untungnya aku bisa tidur cukup nyenyak malam sebelumnya. Mungkin karena aku tahu bahwa lancar atau tidaknya kegiatan yang akan lakukan, aku berada dalam kelompok yang akan menerima semua apa adanya, sehingga tidak ada yang perlu dikuatirkan tapi malah sebaiknya dinikmati saja.

Setelah mandi dan rutin pagi lainnya, sayapun keluar dari kamar. Matahari dan kicauan burung langsung menyambut begitu aku membuka pintu kamar. Begitulah keadaan kamar-kamar di Girisonta, suatu tempat retret dan pembimbingan iman dari kaum religius Katolik yang berlokasi sekitar sejam dari Semarang. Sebuah pekarangan besar menyambut tamu saat masuk ke dalam lokasi retret. Pekarangan itu dikelilingi kamar-kamar tidur, ruang makan, ruang pertemuan, kantor dan sekretariat. Pekarangan itu menjadi fokus dari Girisonta. Bagiku sendiri, entah sudah berapa banyak renungan yang aku habiskan sambil duduk menatap keanekaragaman pepohonan atau sambil berjalan mengitari pekarangan dan menyapa burung, ikan, dan ciptaan Tuhan lainnya. Memang suasana yang paling cocok untuk melakukan kontemplasi adalah melalui kebersamaan dengan alam.

Pagi itupun aku menyapa alam lebih awal dari biasanya. Sekeliling masih sepi. Rumput masih basah dari embun pagi. Antara kicauan burung, hawa sejuk pagi hari dan lembutnya sentuhan mentari di kulit, gerakan waktu terasa seperti berhenti. Aku tahu waktuku bercengkerama dengan alam akan singkat, sehingga kumanfaatkan sebaik mungkin. Tidak lama lagi teman-teman kelompok akan segera berdatangan. Selain berfokus pada sensasi yang aku rasakan dari sekitar, aku mencoba berfokus pada tarikan napasku. Perlahan juga kupanjatkan doa dalam hati kepada Tuhan untuk kemampuan merasakan suatu kesatuan bersama alam ciptaanNya pagi itu.

Sambil berjalan mengitari pekarangan, pikiran mulai kualihkan kepada perencanaan yang sudah sempat aku susun di benak pada malam sebelumnya. Satu per satu langkah yang ingin aku lakukan pagi itu mulai aku bayangkan. Aku membayangkan sedang mengarahkan kelompok, kata-kata seperti apa yang akan kukatakan, urutan kegiatan yang akan aku lakukan, dan seterusnya. Mulai terasa ada sesuatu yang bangun dari dalam diriku. Riak kecil mulai terasa di perut dan detak jantung perlahan juga meningkat. Tidak apa, semuanya masih dalam taraf normal. Lebih baik merasakan semua itu daripada terlihat lesu dan mengantuk.

Saya dan teman-teman di kelompok itu sudah berkutat bersama selama sekitar seminggu dalam suatu kelas yang bertemakan Perjumpaan dengan Saudara-Saudara yang Berkeyakinan Lain di Girisonta. Itu istilah kerennya. Singkatnya, lintas agama. Sebenarnya kelas ini bukan hanya kelas yang terdiri dari ceramah saja, tapi juga diskusi kelompok, kunjungan lapangan ke pesantren, pura, wihara dan suatu acara berbuka puasa bersama, sebelum akhirnya diakhiri dengan retret singkat selama dua atau tiga hari yang lengkap dengan bagian hening. Unsur retret diikutsertakan supaya ada kesempatan untuk melakukan pendalaman secara pribadi dengan memakai cara-cara berdoa yang diajarkan oleh Santo Ignasius. Semua teman-teman anggota kelompok kali ini adalah kaum religius (Romo dan Suster); saya kebetulan satu-satunya orang awam. Karena kami sudah bersama selama sekitar seminggu, maka kami sudah saling mengenali cukup baik.

Setelah semuanya berkumpul, aku mulai dengan mengajak para Romo dan Suster untuk merenungkan kembali apa yang sudah didalami selama beberapa hari serta keinginan-keinginan yang muncul di pemikiran terkait tema kelas. Saya ajak mereka untuk menutup mata bila perlu supaya lebih khusyuk dan beri waktu selama beberapa menit. Setelah itu, instruksi aku berikan untuk berfokus pada suatu image atau bayangan yang muncul di kepala mereka dan bergerak sesuai dengan gambar di benak mereka, atau membuat suatu pose yang menunjukkan gambar itu. Untuk membantu mencari suatu image itu, mereka aku ajak berfokus pada suatu hal yang membuat mereka gelisah dari materi-materi yang sudah didapatkan, tapi juga kemudian mengalihkan energi itu ke dalam suatu wujud doa tapi sambil terus bergerak atau berpose memainkan peran yang terpilih. Dengan kata lain, image yang terpilih bisa melambangkan kegelisahan mereka atau juga suatu harapan/solusi, dan ini yang kemudian mereka wujudkan dalam gerakan dan pose. Semua itulah bentuk doa mereka. Sambil bergerak dan berdoa di dalam hati pun bisa mereka lakukan. Instruksi tidak lupa aku berikan untuk memakai ruangan alam bebas di sekeliling, asalkan tidak terlalu jauh supaya masih bisa terlihat, dan bergerak bebas.

Ternyata, anggota kelompok tidak kesulitan sama sekali untuk bergerak memainkan gambar yang ada di benak mereka. Terlihat semuanya bebas mengambil tempat yang diinginkan. Ada yang memilih untuk terus bergerak dan memisahkan diri, tapi beberapa yang setelah mendapatkan tempat yang nyaman kemudian berdiri mematung di situ. Karena lokasi kegiatan adalah ruangan terbuka, suaraku terbatas bila ingin mengiringi gerakan mereka dengan kalimat-kalimat yang bersifat meditatif untuk mendukung pendalaman pemikiran mereka, sehingga aku memilih untuk diam dan membiarkan mereka bergerak dalam hening. Kedalaman materi dan diskusi selama beberapa hari menurutku sudah sangat mendukung kedalaman pemikiran dan perasaan anggota kelompok dalam eksplorasi gerakan mereka.

Setelah beberapa menit secukupnya, mereka aku ajak kembali ke lingkaran kelompok awal untuk masuk ke bagian sharing. Sesi ini adalah bagian yang penting dalam keseluruhan kegiatan. Setelah selesai bertindak, bergerak atau bermain peran, sesi sharing bertujuan untuk satu per satu dari anggota menjelaskan pemikiran apa yang muncul sebelumnya yang kemudian mendorong munculnya gerakan mereka, apa yang dirasakan dan yang muncul di pemikiran saat bergerak, atau apakah ada pemahaman baru yang tidak disadari sebelumnya tapi baru muncul karena melakukan pengalaman gerakan itu. Saat seorang anggota kelompok berbicara, yang lainnya diminta untuk mendengarkan dan tidak menanggapi karena yang lebih penting saat itu adalah kesempatan bagi yang berbicara untuk mengeluarkan isi hatinya secara bebas dan lepas tanpa ada kekawatiran akan penghakiman atau waktu yang membatasi. Apapun yang dikatakan bukan mengenai benar atau salah, atau seharusnya bertindak begini atau begitu, tapi semata-mata kebebasan untuk mengungkapkan isi hati yang ingin dikeluarkan. Ada bagian pembelajaran di situ pula bagi anggota yang mendengarkan. Mereka juga dilatih untuk mendengarkan dengan sabar dan empati, tanpa penghakiman. Benar atau salah, setuju atau tidak setuju, saat sharing bukan tempat untuk mengungkapkannya.

Setelah semua anggota selesai berbagi, ternyata waktu masih cukup untuk melanjutkan kegiatan. Secara spontan dan tanpa persiapan, aku mengajak mereka untuk mencoba sesuatu yang baru. Sebelumnya aku meminta salah satu anggota menjadi volunteer untuk peran dan ceritanya terpilih sebagai fokus kegiatan anggota kelompok. Salah satu dari Romo mengiyakan untuk memakai punyanya, dan beliau menceritakan bahwa pose yang dia mainkan adalah “Garuda yang terluka” karena image itulah yang muncul di benaknya saat berfokus pada materi yang telah dibicarakan di kelas. Kelompok kemudian saya ajak untuk berfokus kepada Romo sebagai Garuda yang terluka dan menawarkan suatu gerakan yang membantu pengembangan cerita itu. Romo berdiri di tengah kelompok berpose sebagai Garuda yang terluka. Setiap anggota kemudian bebas memilih peran apa saja asalkan peran itu berhubungan dengan si Garuda yang terluka.

Anggota mulai berpose di sekeliling sang garuda dan kemudian freeze sampai semuanya sudah selesai berpose. Sebagai fasilitator yang masih belum berpengalaman menggunakan teknik yang aku pakai, aku membuat kesalahan kecil di situ karena lupa menginstruksikan anggota untuk maju satu per maju. Semua anggota maju secara bersamaan dan berpose di sekitar garuda, tapi anehnya semuanya berjalan lancar; malah ada peran yang saling berkaitan. Ada beberapa anggota yang berpose seakan sedang berkelahi yang ternyata ingin menunjukkan keadaan konflik penyebab Garuda merasa terluka. Ada yang berpose seakan menjadi penopang sang Garuda di sekelilingnya atau sedang memberinya makan. Kemudian beberapa anggota kelompok tetap berdiri diam di tempatnya tapi dengan tangan yang terbuka dan terulur kepada sang Garuda, yang kemudian ketika ditanyakan makna posenya, ternyata sedang memberikan doa bagi Garuda. Seperti dalam kegiatan yang pertama, kegiatan yang kedua ini juga diikuti dengan sesi sharing.

Dari kegiatan yang kedua ini, anggota kelompok saya ajak untuk memaknai suatu cerita yang ada dengan cara mereka sendiri. Mungkin kegiatan kedua dalam Sang Garuda yang Terluka ini bukan semata-mata suatu bentuk doa, walaupun ada beberapa yang ternyata memberikan doa sebagai bagian dari peran yang mereka ambil, tapi intinya adalah pagi itu kami berhasil sebisaku melakukan doa bersama secara kelompok yang berbeda dari biasanya. Doa kami pagi itu adalah doa dalam bentuk tindakan atau gerakan yang didasari oleh bukan hanya pengetahuan saja, tapi juga kedalaman pemahaman yang sudah sampai pada tahap afektif (emosi).

Pagi itu anggota kelompok memberanikan diri untuk masuk ke ranah emosi dalam doa mereka. Pagi itu kelompok diberi kesempatan untuk berempati dengan kegelisahan yang mereka rasakan selama seminggu. Dan pagi itu kelompok tidak hanya memaknai dan menjiwai kegelisahan itu dalam bentuk suatu gerakan, tapi juga mendoakannya.

Dalam perjalanan kereta Klaten-Surabaya, 1 Mei 2018
Erlyn

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Berdoa Dalam Gerakan”

  1. Reblogged this on Nature Whispering and commented:
    Cara berdoa yang dideskripsikan dalam tulisan ini terinspirasi dari pelatihan psikodrama yang pernah saya ikuti. Silakan menyimak. Tulisan lainnya terkait psikodrama bisa diikuti di retmono.wordpress.com milik Retmono Adi. Terimakasih.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.