Demi Hari Pendidikan Nasional ; Ilmu Bukan Barang Dagangan


Pernahkah memiliki rekan kerja yang pelit akan ilmunya, ia tidak mau memberikan ilmunya nanti takut tersaingi. Atau pernahkah bahkan memiliki atasan yang tidak mengajarkan bagaimana kerja yang benar namun selalu mencari salah anak buah, agar terlihat pintar dan takut jika nanti digantikan? Atau pernahkah mengikuti pelatihan oleh pembicaranya, tidak boleh mengcopy materinya, takut nanti materi itu dipakai peserta untuk mengajar? Ada memang orang yang merasa bahwa kemampuan dan pengetahuan adalah miliknya, karena tidak mudah mendapatkannya maka tidak mudah juga ia berikan pada orang lain.

Banyak orang merasa bahwa untuk mendapatkan Pengetahuan dan kemampuan mereka telah mengeluarkan Modal yang besar, maka mereka berharap harus mendapatkan uang atau keuntungan untuk ilmunya itu, sehingga cepat kembali modalnya. Aku merasa sikap ini tidak diharapkan oleh Ki Hadjar Dewantara. Aku yakin Ki Hadjar Dewantara ingin memberikan pengetahuannya untuk mencerdaskan bangsa.

Hal ini selaras dengan tulisan Pak Tunjung Dhimas Bintoro:

Ilmu Bukan Barang Dagangan

Sejatining ngelmu kui ora keno dol tinuku, Ilmu kui amung titipan dermo urip, mergo sarano ilmu, uwong biso urup. Urup ngempakne panggraitane, iso mbel sak dulito ngurip ngurupi anggone sesandang, pangan, papan. Tumuju marang mapane urip sampurnane pati.

Artinya: Ilmu itu sejatinya memang bukan barang yang diperjual belikan, Ilmu itu hawa lembut titipan Gusti. Karena dengan ilmu manusia bisa menyala. Menyalakan sifat penginderaannya. Bisa menggerakan sifat-sifat Gusti yang menggatra pada dirinya untuk menghidupi-merawat- mengangkat martabat atas gatra/organ-organ tersebut dengan kebutuhan sesandang, pangan, dan papan. Agar menuju hidup yang mapan, dan mati yang sempurna. Begitulah hakikat bersyukur yang sebenarnya.

Ilmu memang bukan suatu barang yang memang bisa diperjual-belikan. Karena ilmu itu hawa pengertian dari yang Maha mempribadi. Di tulis oleh-Nya dalam satu keutuhan tubuh pribadi. Sanepan filosofi ajaran jawa sangatlah bijaksana. Dari situ hendaknya setiap kata itu diungkap serta dimaknai agar tidak salah kaprah hingga memicu kesalahpahaman pada pengertiannya.

Ilmu itu sesuatu yang bisanya dibagikan, untuk memicu pengetahuan, pengertian, dan pemahaman pribadi dalam mencari penjelasan atas anugerah Sang Maha Mempribadi. Dibagikan dengan tulus dan penuh kasih. Ketulusan itu datangnya dari pusat hati, bukan sesuatu yang disuarakan oleh jebakan konsepsi lingkungan umum.

“Ilmu iku ketemune sarono laku, angel e yen durung ketemu”

Artinya: Ilmu itu ketemunya karena laku pembuktian-observing, sulitnya bila belum ketemu.
Banyak cara orang untuk berbagi serta mencari tentang ilmu, ada yang menuliskan pada buku-lontar, ada yang berbicara langsung (verbal direction), lewat sarana prasarana institusi (sekolah, universitas, pesantren) entah yang formal ataupun non formal. Untuk pencarinya, ada yang melakukan serangkaian laku puasa, kungkum di air, naik turun gunung, atau menemukan guru dari alam sunya ruri ataupun pembimbing manusia.

“Jer Basuki Mawa Bea”

Artinya: Segala sesuatu untuk menggapai tujuan, butuh biaya.
Ketika seorang membagikan ilmunya melalui karya menulis, melukis, serta verbal linguistik disitulah yang hendaknya dihargai. Bukan ilmunya yang dijual/dibayar, melainkan karya inovasinya dalam menyampaikan. Karena sejatinya hidup mereka pun sama dengan yang lain. Butuh sanggeman urip, sandang, pangan, papan sebagaimana telah menjadi kasunyantan kehidupan.

Saat menulis, mereka butuh tenaga, bahan untuk mencetak buku, yang tentunya semua perlu pengeluaran finansial. Saat menyampaikan secara verbal juga membutuhkan makanan, minuman, atau rokok sebagaimana kebutuhan jasmaniah yang diperlukan. Atau ketika mengajar di institusi tentunya tenaga ketubuhan si pengajar dan sarana-prasarana juga butuh finansial untuk pengelolaanya.

Jadi kalau bicara soal ketulusan dan pengabdian itu tidak serta merta tentang sesuatu yang gratis. Namun lebih mengamati seksama, menyadari kasunyantan kehidupan. Utamanya meningkatkan kesadaran untuk membenahi mental miskin hingga berubah menjadi mental kaya. Agar hidup selaras sejahtera hingga berbuah suka cita dari dalam diri.

Jadi, yang tidak bisa dibeli atau dibayar itu adalah proses pencapaian ilmu dari perjalanan setiap pribadi. Namun media, alat, serta sarana-prasarananyalah yang tetap membutuhkan upah atau biaya sesuai tata letak penggunaannya. Yang sejatinya itu menjadi bagian dari kasunyatan laku semesta dan kehidupannya.

Klaten, 29 April 2018.

Tunjung Dhimas Bintoro

Semoga dapat menjadi bahan refleksi di Hari Pendidikan Nasional ini. …..dan Jayalah Nusantara

2 Mei 2018

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

5 tanggapan untuk “Demi Hari Pendidikan Nasional ; Ilmu Bukan Barang Dagangan”

  1. Ada sudut pandang lain tentang ilmu dan belajar ini. ketika ilmu itu diberikan secara cuma-cuma apa adanya, orang justru tidak menghargai ilmu tersebut. Saat dibandrol dengan harga mahal, dikemas dalam bungkus indah..maka orang-orang berebut belajar. sesuatu yang diberikan gratis tidak menarik bagi mereka.

    Disukai oleh 2 orang

  2. Saya juga suka heran dengan orang yang pelit ilmu. Padahal ilmu hanya berkembang kalau dibagikan. Biasanya, orang yang di kantor nggak mau mengajari orang lain, dalam 3 tahun akan jadi ketinggalan karena juga nggak mau mengikuti perkembangan (misalnya perubahan sistem, perubahan perangkat hardware, dll). Terus, umumnya, dia akan jadi orang mempersulit perubahan sistem atau perangkat karena tidak mau melepas data yang dia pegang. Sudah terbukti selama belasan tahun saya bekerja.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan ke retmono Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.