Surplus Reality vs Rewriting History


Konsep ini digagas oleh Joseph Moreno dalam metode psikoterapi yang disebut psikodrama, di sini orang-orang menemukan tempat di mana segala sesuatunya dapat dia ciptakan untuk situasi kehidupan yang dihadapi atau bahkan yang belum terjadi. Situasi bermain dalam psikodrama ini membebaskan imajinasi individu untuk berkreasi dan memiliki efek ‘healing’ di dalam prosesnya. Dalam pola kehidupan sekarang ini, ketika semua orang dituntut untuk melakukan sesuatu sesuai dengan rule yang sudah ditentukan, ketika siswa dan mahasiswa dituntut untuk memberikan satu saja jawaban yang benar, maka ruang berimajinasi untuk menciptakan surplus reality ini pelahan-lahan dikebiri. Ketika ruang ini semakin sempit, maka jiwapun semakin ‘sakit’.

Saya mengalami surplus reality dalam sesi workshop psikodrama yang kuikuti di akhir tahun 2017 yang lalu. Dengan arahan Mas Retmono Adi, sang fasilitator, saya menulis sendiri skenario kematian yang ingin kujalani, dan dipraktekkan dengan bantuan kawan-kawan dalam workshop. Meskipun awalnya merasa aneh, karena harus ‘menulis’ sendiri skenario kematianku di saat aku merasa lagi semangat-semangatnya, namun ternyata setelah dijalani, benar-benar membawa efek ‘membebaskan’.

Saya selalu merasa sebagai orang yang ‘cool’, tenang di segala situasi dan sama sekali tidak emosional. Namun ternyata di balik ketenanganku, tersimpan sebuah luka emosi yang dalam namun tidak kusadari. Api yang tak pernah padam ini mulai memunculkan dirinya dan memberi signal-signal untuk diselesaikan. Saya terganggu dengan kemunculan ini. Image diri ku yang cool ini runtuh seketika, dan membuatku sedikit panic. Apalagi saat di awal sesi psikodrama, aku mendapatkan ternyata aku tidak mampu memaafkan orang yang menggores luka dalam diriku. Kenyataan ini sungguh memukulku. Selama ini, kuanggap diriku legowo. Ternyata aku menyimpan dendam. Pukulan yang berat bagiku.

Begitu scenario kematian kususun dan kuperankan, aku menemukan kelegaan, karena ternyata di akhir cerita hidupku nanti, aku menyelesaikan semua masalahku, menggapai semua anganku. Kesimpulan ini kuambil, karena aku nanti matinya puas dan ikhlas. Realitas hasil kreasi imajinasiku ini membawa efek melegakan bagiku.

Efek ini ternyata bekerja di pikiran bawah sadar. Setahap demi setahap aku menemukan jalan yang mengarahkan aku ke tujuan akhir skenario ciptaanku. Aku berkesempatan mengikuti workshop “ Quantum Life Transformation” di Tretes – Jawa Timur . AWGI ( Adi W Gunawan Institute ) memang lembaga yang luar biasa professional dalam menyelenggarakan workshop. Kami diberikan sebuah teknik untuk membantu me release emosi yang di sebut sebagai The Heart Technique ( THT). Saat mempraktekkan THT itu, ternyata ledakan dari emosi yang tersimpan itu lumayan besar, bersyukur saya dibantu oleh Ibu Widya, salah seorang asisten Pak Adi yang sangat piawai dan telaten menuntun saya menyelesaikan lapis demi lapis simpanan emosi yang berkerak dalam diri ini. Prosesnya berat, namun hasilnya sangat melegakan. Satu milestone terlampaui.

Ternyata aku lebih beruntung dari si Untung sepupu Donald Bebek. Aku kembali berkesempatan untuk belajar Hypnotherapi pada Sang Master sendiri Adi W. Gunawan. Sesi 110 jam belajar ini membuka wawasan ku semakin lebar. Runtuh sudah stigma negative tentang Hypnotherapy yang sempat tertanam pada diriku akibat mencari tahu dari orang yang tidak tepat. Ternyata metode terapi berbasis hypnosis ini sangat bermanfaat untuk membantu orang mengatasi masalahnya.

Di sini aku menemukan sisi kesamaan antara Psikodrama dengan Hypnotherapy. Meskipun dengan istilah yang berbeda, namun sisi imajinasi dan kreativitas sangat dibutuhkan dalam dua metode ini. Jika Psikodrama mengenal Surplus reality, maka Hypnotherapy memperkenalkan rewriting history. Di dalam proses menyelesaikan masalah, terapis membantu klien menyusun ulang skenario dalam situasi kehidupan yang telah menimbulkan permasalahan bagi seseorang. Dengan demikian permasalahan itu tidak jadi muncul dalam hidupnya. Seajaib mesin waktu Doraemon.

Meskipun dengan konsep yang berbeda, namun kedua metode ini sama sama berkekuatan untuk membantu proses penyembuhan luka dalam diri individu. Dan kedua metode ini sangat mungkin untuk dikolaborasikan.

Sampai saat ini, saya masih sangat takjub akan surplus reality yang diberikan oleh Psikodrama padaku, seperti memberikan arah dalam hidupku, dan menuntunku pelahan-lahan melewati jalan untuk menuju ke hasil akhir yang ku ciptakan sendiri. Proses berimajinasi ini ternyata memberikan saya kesempatan untuk mengembalikan jiwa yang sehat. Saya sangat bersyukur.

Medan, 10 Mei 2018
Mina Wongso

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

6 tanggapan untuk “Surplus Reality vs Rewriting History”

  1. Saya memiliki perbedaan pengalaman untuk surplus reality dan rewriting history. jika dalam surplus, saya adalah pemain: maka dalam rewriting saya jadi sutradara. Beberapa pengalaman membantu klien untuk rewriting kejadian traumatis yang pernah mereka alami, ternyata mampu menghapus trauma, atau luka emosi yang timbul dari kejadian tersebut.

    Disukai oleh 2 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.