Kesan-kesan Mengikuti Psikodrama, Berani untuk Jujur pada Diri Sendiri


Pertama kali saya mendengar tentang psikodrama Indonesia adalah dari teman seperjuangan, guru, dan inspirator saya, yaitu Ms. Christine. Kesan pertama yang muncul di benak saya dari cerita-ceritanya adalah “penasaran”. Ms. Christine menggambarkan psikodrama sebagai peluapan emosi kita yang terpendam selama ini, baik positif maupun negatif. Bisa membantu kita untuk lebih mengenal diri sendiri juga.

Apakah bentuknya seperti hipnosis?

Terapi?

Apakah bisa menyembuhkan luka lama?

Apakah mampu membuat kita lebih “sadar diri”?

Apakah cocok untuk para pengajar?

Apakah bisa meningkatkan team-work?

Ms Christine hanya tersenyum dan menjawab “Pokoknya lihat saja nanti! Yang pasti akan ada sesi nangis-nangis dan bermain dramanya”. Setiap orang akan berperan menjadi seseorang, gambarnya. Hmm, saya menjadi semakin penasaran.

Kurang lebih dua minggu sebelum pelatihan, saya mulai coba ikuti facebooknya dan cari tau mengenai psikodrama Indonesia. Kesan berikutnya, penasaran tingkat tinggi. Apalagi setelah melihat dokumentasi dan kesan-kesan peserta. Semuanya hampir sama: berpose “unik dan tidak umum” dengan memakai selendang/pashmina.

Siapa saya? Mengapa memilih psikodrama Indonesia?? Saya adalah seorang pemimpin, pemilik, penggagas, dan pejuang Rakids Baca Indonesia. Kursus baca tulis yang saya dirikan sejak Maret 2017. Kursus baca yang mengutamakan minat literasi di Indonesia. Saya ingin anak-anak berkembang bersama pengajar yang inspiratif dan mengajar dengan hati. Saya ingin mengajak pengajar lebih menghargai diri sendiri dan mampu mengeluarkan emosi yang terpendam. Selain itu, saya juga seorang ibu, istri, anak, dan pengajar. Seseorang yang memiliki mimpi dan tujuan besar namun juga memiliki masa lalu yang traumatis. Mengapa saya memilih psikodrama indonesia? Sebagai pemimpin, penting bagi saya mengetahui lebih jauh siapa saya, mengeluarkan semua kemampuan yang bisa saya bagikan, menghargai dan mengenal beragam karakter, terutama mampu berdamai dengan masa lalu saya terlebih dahulu.

Awal bertemu dengan Pak Didi, saya merasa beyond expectation: psikolog UGM yang tampil apa adanya, jujur, peka, analis, sederhana, antimainstream, antiformal, dan pasti berani. Di luar perkiraan saya yang formal, tegas, misterius, kritis, dan kaku. Semakin penasaran. Singkat cerita, pada sesi pertama setelah perkenalan, Pak Didi meminta saya dan tim untuk berpose aneh dan tidak biasanya. Setelah melakukan ini, saya merasa ada sesuatu yang tidak biasanya dari saya bisa timbul. Yaitu, rasa berani untuk tampil aneh dan ekspresif. Pada permainan berikutnya, perasaan yang timbul adalah rasa haru dan bangga. Mengapa tidak? Ketika saya berusaha menjadi sebuah pohon, saya bisa merasakan timbulnya keberanian untuk jujur, satu keberanian yang sebenarnya tidak dimiliki oleh semua orang dewasa, saya ternyata bisa berani apa adanya walaupun berbeda dengan orang lain.

Setelah beberapa kali mencoba berpose untuk menjadi pohon yang sesungguhnya bersama tim, saya bahkan merasakan energi positif yang lebih besar keluar dari diri saya. Yaitu, berani untuk “berbeda” dan menampilkan saya sebenarnya, serta mencoba untuk menahan ego dan lebih menerima pendapat orang lain. Beberapa kali Pak Didi pun mengajak kami untuk berpose menjadi berbagai bentuk yang berbeda. Dan kesemuanya menimbulkan kesan dan rasa-rasa baru. Terutama mendapatkan rasa untuk berani jujur pada diri sendiri, berani menampilkan kita apa adanya, dan terlatih untuk mampu menghadapi tekanan permasalahan sehari-hari.

Banyak pengalaman dan terutama perasaan yang bisa didapat dari psikodrama Indonesia. Saya terlatih untuk cepat mengambil keputusan, cepat bertindak, bersikap pasrah (tidak menyerah) dalam tekanan, lebih peka dalam menilai seseorang karena setiap orang memiliki sebab dan alasan dalam bertindak, berani jujur dan peka terhadap “rasa”, dan saya pun berhasil berdamai dengan masa lalu. Bersyukur bisa menjadikan pelatihan psikodrama sebagai pelatihan bagi pengajar di Rakids baca. Karena layaknya bunga yang mekar, kami para pengajar perlu berani untuk jujur dan mengeluarkan rasa agar mampu membantu mengeluarkan potensi terbaik anak murid kami. Terimakasih pak Didi, semoga semakin banyak pengajar yang berani untuk jujur dan memiliki rasa dalam mengajar.

Salam berani jujur dari pengajar yang perasa,

Lina Ronita

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

2 tanggapan untuk “Kesan-kesan Mengikuti Psikodrama, Berani untuk Jujur pada Diri Sendiri”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.