Pengalaman Pelatihan Psikodrama di Jakarta “Jangan terlalu keras pada diri sendiri”


Perkenalkan, saya Hanifah Dasnia. Teman-teman lebih senang memanggil saya dengan Ipeh. Saya adalah pengajar di suatu lembaga pendidikan nonformal (Rakids BACA) di daerah Tebet, Jakarta Selatan. Saya ingin berbagi sedikit pengalaman saya setelah mengikuti pelatihan Psikodrama yang diadakan di tempat saya bekerja. Langsung saja, cuusssss……..

Dengan mengikuti pelatihan Psikodrama ini saya menjadi mengerti bahwa kita melakukan sesuatu yang beda dan tidak mengikuti stigma atau kebiasaan yang ada adalah sebuah hal yang sah-sah saja. Selama ini saya selalu membandingkan diri saya dengan orang-orang disekitar. Setelah saya membandingkan, saya merasa diri saya tidak memiliki apa-apa yang bisa dibanggakan. Padahal, harusnya saya menjadi diri saya sendiri, mengoptimalkan apa yang saya punya. Saya adalah saya, bukan dia atau bahkan mereka.

Saya juga adalah orang yang “gak enakan” terhadap orang lain. Sulit bagi saya untu menolak permintaan orang lain, padahal saya sangat tidak ingin menerima permintaannya. Jauh di dalam diri saya, saya tidak ingin seperti itu. Saya merasa orang lain dapat selalu memanfaatkan saya setiap waktu dan kesempatan. Harusnya saya bisa “stand up for what i believe”. Harusnya saya bisa menolak jika saya tidak mau melakukannya. Harusnya saya bisa menyanggah jika itu bertentangan dengan yang saya percayai. Tetapi saya baru menyadari itu setelah mengikuti pelatihan ini.

Dalam pelatihan ini, saya juga diajak untuk melihat masa lalu dan merangkai masa depan. Tentang masa lalu, bahwa kesalahan adalah bagian dari pembelajaran dalam menapaki masa kini dan masa depan. Saya telah mencoba mengupayakan apa yang saya mau, namun ketika hasilnya tidak sesuai dengan harapan, tidak mengapa. Yang terpenting adalah saya sudah mencoba mengupayakan. Tentang masa depan, yang bisa kita racik formulanya melalui masa kini. Masa depan yang masih bisa kita upayakan.

Dalam mengaplikasikan kepada peserta didik, bahwa kecerdasan adalah relatif. Kita sebagai pendidik tidak boleh underestimate kepada anak didik yang tidak mampu dalam pelajaran tertentu. Bahwa setiap manusia adalah unik, dan memiliki kecerdasannya masing-masing. Juga kita tidak melulu mengajarkan hal dengan pola yang sama kepada setiap anak. Mereka memiliki gayanya masing-masing dalam mempelajari sesuatu. Hal itu saya dapatkan ketika kita membuat pola seperti pohon.

Dan garis besar yang bisa saya simpulkan dari pelatihan psikodrama bagi diri saya adalah “Jangan terlalu keras pada diri sendiri” apalagi memaksakan kehendak pada orang lain termasuk peserta didik.

Terima kasih Pak Didi, atas kesediaannya memberikan pelatihan Psikodrama. Semoga Pak Didi senantiasa diberikan kesehatan agar dapat terus memberikan pelatihan kepada lebih banyak orang lagi.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Pengalaman Pelatihan Psikodrama di Jakarta “Jangan terlalu keras pada diri sendiri””

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.