Bergembira dengan Psikodrama di Medan


Saya dihubungi oleh seorang Bhante, bertanya apakah saya bersedia membantunya untuk mengisi sesi permainan dalam retreat sehari yang ia lakukan dengan para remaja. Meskipun permintaanya tiba-tiba, saya menerima dengan senang hati. Secara spesifik saya agak tersanjung, sebab permintaan khusus dari Bhante yaitu untuk memainkan Psikodrama.

Saya bertanya tentang jumlah peserta dan alokasi waktu yang diberikan. Ternyata waktu nya sangat terbatas, yaitu hanya dua jam, dengan jumlah peserta 30 orang. Saya berpikir, ok.. Psikodrama kali ini digunakan sebagai sarana untuk ‘have fun’. Jam tayang nya di sesi after lunch, sehingga sesi ini memang menjadi selingan penghilang ngantuk.

Permainan ini dimulai dengan saya memperkenalkan diri pada peserta, tujuan saya untuk mengajak mereka bermain dan bersenang-senang dalam satu permainan yang bernama Psikodrama. Saya minta mereka berpose sebagai model. Pose awal ini mengundang tawa kecil dari mereka dan saya komentari tentang keberanian menunjukkan diri. Setelah itu mereka diminta berpose kembali. Pose kedua ini sudah memunculkan berbagai gaya seperti ‘bangau mematuk ular’, ‘monyet di atas pohon’ serta berbagai pose lucu lain yang memunculkan lebih banyak lagi tawa.

Sesi berikutnya masuk ke sesi bergaya seperti pohon. Pose awal selalu pohon standard yang simetris, kemudian berubah menjadi lebih dramatis saat pose kedua. Lantas, dua orang membentuk pohon. Di pose ini, dimasukkan pelajaran tentang mematuhi peraturan, dan tidak melanggar peraturan demi hasil yang lebih bagus. Permainan dilanjutkan menjadi tiga orang membentuk pohon, dan lima orang membentuk air mancur.

Keseruan lebih terpacu, ketika mereka bermain bersama membentuk kereta kuda, suasana kawinan anak presiden, dan setting suasana pasar pagi. Tertawa terbahak-bahak, foto-foto yang lucu, dan juga yang ngos ngosan kecapekan menjadi hiburan siang hari yang panas terik.

Sesi fun with psikodrama ini ditutup dengan komentar peserta. Saat itu saya baru tahu bahwa para peserta ini ternyata sebagian besar tidak saling mengenal. Mereka mengaku bahwa permainan ini membuat mereka jadi dapat bekerja sama dengan orang yang tidak dikenal. Beberapa menyatakan senang karena permainan ini menuntut mereka untuk berpikir cepat dan menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Ada juga yang kagum melihat kreativitas teman yang terpikir mau jadi roda cadangan. Beberapa menyatakan bahwa mereka belajar untuk tidak malu menjadi diri sendiri. Ada juga peserta yang menyatakan perasaan dengan gerakan ‘saranghyeo’ maupun ‘I love u’ tanpa kata-kata.

Saya bahagia bisa melewatkan dua jam dengan produktif dan mendapatkan banyak insight dan pembelajaran dari sesi ini.

 

Medan, 22 JUli 2018

Mina

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.