Kami Membuka Emosi : Impressi Mengikuti Psikodrama di Yogyakarta


Jumat tanggal 3 agustus 2018. Pertemuan kami dengan pak didik dimulai dengan satu pertanyaan. “Siapakah kamu?”
Mayoritas dari kami memberikan jawaban yg umum yaitu nama, tanggal kelahiran, hobi (yg beberapa adalah kebiasaan jelek kami). Beliau pun langsung mengatai, “perkenalanmu itu setingkat anak TK.”

Ternyata yg ingin pak didik ketahui adalah “siapakah kami”, identitas yang kami pilih sendiri, bukan yg diberikan oleh orang lain. Lalu beliau menjelaskan bahwa banyak orang muda yg tidak tahu identitasnya, atau perannya sendiri. Tentu pak didik juga mengakui bahwa itu bukanlah sesuatu yg mudah untuk ditemukan karena dirinya sendiri pun baru beberapa tahun lalu menemukan identitasnya. Sebenarnya lebih ke “legacy” sih, apa yg ingin kamu cantumkan di tombstonemu/ sebagai siapa, kamu ingin diingat oleh dunia.

Pak didik mengingatkan, kalau perkataannya tidak 100% benar (kalau kata internet, “take with a grain of salt”) dan bahwa kita bisa berubah hanya dengan bertemu orang lain (kata-kata yg mirip dengan perkataan dari manga favorit saya dulu).

Selesai menghirup udara pagi di halaman homestay kami (dan sarapan), kami masuk dengan bule-bule berbicara di luar dan aroma roti yg mereka panggang menemani kegiatan kami di dalam ruangan. Acara hari itu dilanjutkan dengan membentuk pohon secara individu. Dalam kegiatan tersebut kami diminta untuk jujur. Berani salah dan tidak “normatif” (ikut-ikutan?). Lalu dilanjutkan lagi dengan membentuk Diorama secara berkelompok dimana kami belajar untuk melengkapi Diorama yg disusun bersama.

Dari sana kami diminta menghubungkan peran kami di Diorama tersebut dengan peran kami di kehidupan sehari-hari. Peran saya sebagai dinding dokar yg melindungi sang kusir dari teriknya sinar sang surya (diksinya euy) cukup sulit untuk dihubungkan dengan dunia nyata. Siapa yg saya ingin lindungi? Mungkin bisa saya jawab, namun “Apa yang saya lakukan untuk melindungi mereka?”

…sebelum paragraf ini berubah menjadi iklan dari seorang agen asuransi, tidak, saat itu saya tersendat untuk menemukan suatu effort yg menurut saya adalah tindakan untuk melindungi seseorang. Sulit, apalagi sebagai seorang gamer yg sering melihat kesatria dengan perisainya menghadang serangan musuh dan melindungi kawannya. Sebelum saya merendahkan diri seperti biasa (bukan pertama kali terjadi ketika saya diminta berefleksi) sepertinya sih intuisi pak didik menangkap hal tersebut dan mengarahkan saya bahwa hal kecil pun sudah cukup. “hati hati ya~” itu sudah cukup.

Setelah makan siang, kami melanjutkan kegiatan kami. Kami membuka emosi kami, sisi dari diri kami yg tidak biasa kami perlihatkan kepada orang lain. Dalam proses menempa kami sebagai sebuah keluarga atau minimal teman yg erat tanpa harus berjuang menyelamatkan dunia atau berlatih untuk menjadi pendekar sakti bersama-sama.

Memang absurd, tapi dari saya, sisi inilah yang bisa saya ceritakan untuk anda pengunjung blog ini. Tentu untuk mendapatkan full experience, harus berkutat dan berproses dalam kegiatan psikodrama itu sendiri.

Saya yakin ada teman-teman saya yang bisa menceritakan sisi lain dari kegiatan hari ini. Cerita dari sudut pandang berbeda, cerita dari pikiran yg memiliki beban berbeda dengan saya yg kurang lebih hanya mengisi waktu liburan dalam kesempatan ini.

Saya Joshua, sampai bertemu lagi di lain kesempatan.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Kami Membuka Emosi : Impressi Mengikuti Psikodrama di Yogyakarta”

  1. Hai Joshua.
    Katamu..
    Apa yg saya lakukan utk melindungi mereka?
    Siapakah saya?
    Siapakah mereka?
    Apa yg mereka lakukan utk melindungi saya?

    Psikodrama hanya pembuka, siapakah diri sesungguhnya.
    Selamat bereksplorasi!!

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.