Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada


Seniman Lima Belas Menit adalah sebuah komunitas drama maupun psikodrama yang berada di Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS). Komunitas ini awalnya terbentuk karena adanya Olimpiade Psikologi 3 tahun 2015 di Surabaya dengan cabang Psychodrama. Komunitas ini sudah melakukan pentas di internal maupun eksternal Fakultas Psikologi UKWMS. Komunitas ini beranggotakan mahasiswa aktif yang tertarik dalam bidang psikodrama, maupun teatre itu sendiri, komunitas ini dibawah bimbingan 2 dosen Psikologi UKWMS, yaitu Pak Danto dan Bu Erlyn, serta dibawah bimbingan langsung praktisi psikodrama asal Yogjakarta, yaitu Pak Didik.

Pada tanggal 2 Agustus 2018, komunitas ini berkesempatan untuk melakukan kegiatan pelatihan dan gathering di luar kota, yaitu Yogjakarta. Anggota komunitas yang berangkat berjumlah 8 orang dengan menggunakan kereta api. Kami semua sampai pada sore hari dan setelah sampai, kami menghabiskan untuk beristirahat dan melakukan jalan-jalan malam di sekitar penginapan untuk mencari makan malam. Kami juga menghabiskan malam pertama dengan bercanda dan berbincang satu sama lain, serta kami mendapat kunjungan dari pak Didik untuk berbincang dan membahas rencana pelatihan esok hari.

Tanggal 3 Agustus 2018 adalah hari kedua komunitas ini berada di Yogjakarta. Hari kedua ini kita melaksanakan pelatihan. Pelatihan dilakukan selama satu hari penuh, dimulai pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00. Pelatihan dimulai dengan masing-masing peserta pelatihan untuk menceritakan tentang dirinya sendiri secara bergantian, setelah itu dilanjutkan dengan menceritakan cita-cita yang dimiliki, kemudian dilanjutkan dengan harapan masing-masing untuk sesi pelatihan hari ini. Setelah sesi awal, pelatihan dilanjutkan dengan penjelasan tentang psikodrama yang terdiri dari 3 bagian, yaitu warming up, action dan refleksi, serta penjelasan mengenai salah satu tokoh psikodrama, yaitu Moreno.

Pada sesi kedua pelatihan tentang psikodrama, bagian warming up dimulai dengan praktek membuat pohon, dimulai secara individu, berpasangan dan kemudian berkelompok. Setelah itu, semua peserta diminta untuk membuat 1 delman. Kemudian sesi warming up, dilanjutkan dengan teknik sosiometri, yang terdiri dari spectogram dan locogram. Pada bagian ini, sedikit menguras emosi beberapa peserta, karena pada sesi ini kita diminta untuk menyadari peran masing-masing dan mengungkapkan perasaan masing-masing terkait komunitas ini.

Selanjutnya sesi dilanjutkan dengan salah satu teknik psikodrama, yaitu role reversal. Awalnya setiap peserta menentukan protagonis atau tokoh utama cerita yang akan diangkat dengan memegang pundak orang yang ceritanya akan diangkat. Akhirnya, setelah disepakati Pak Didik menunjukkan cara dan teknik role reversal, teknik juga cukup menguras emosi protagonis atau tokoh utama yang ceritanya diangkat.

Tokoh protagonis selanjutnya memilih peran dari masing-masing peserta sesuai dengan impian atau masa depan protagonis, serta alur cerita ditentukan sendiri oleh protagonis. Sesi kedua ini diakhiri dengan bagian refleksi, peserta duduk melingkar dan Pak Didik berperan sebagai fasilitator, kembali kita merefleksikan dan menceritakan tentang diri kita yang memiliki keterkaitan dengan peran yang dijalani dari sesi ini.

Hari kedua komunitas ini ada Yogjakarta diakhiri dan ditutup dengan beristirahat, ada beberapa teman berjalan malam hanya untuk sekedar mencari kuliner Yogyakarta yang mereka inginkan. Tersisa 3 orang yang hanya diam di dalam homestay. Mereka bertiga hanya memesan makan malam melalui aplikasi online yang dimiliki. Setelah puas makan malam semua peserta berkumpul kembali di homestay, ada yang langsung melanjutkan kegiatan dengan tidur karena sangat lelah dan ada beberapa teman yang menikmati malam terakhir mereka dengan bermain kartu dan bercanda.

Hari ketiga, kami diisi dengan berwisata di kota Yogyakarta dengan mengunjungi Gembira Loka. Kami berjalan-jalan melepas penat dari rutinitas kegiatan yang ada di kota kami, Surabaya. Satu hal lain yang berbeda adalah kami semua melakukan sesi foto bersama di patung burung yang ada di dalam Gembira Loka, kami semua mengeliling patung tersebut dengan bergaya menjadi seekor burung. Salah satu kegiatan yang sering kita lakukan saat berkumpul dan diajarkan oleh Pak Didik, serta saat warming up pelatihan kami. Selesai berjalan kami mencari kuliner khas Yogyakarta, yaitu Nasi Gudeg. Setelah itu, beberapa dari kami segera kembali ke homestay untuk mengambil barang-barang dan berkemas menuju ke stasiun untuk pulang ke Surabaya.

Cerita diatas adalah sedikit gambaran tentang kegiatan saya dan teman-teman komunitas di Yogyakarta. Sedikit pesan, kesan dan refleksi saya selama disana didefinisikan dengan kata “Luar Biasa”. Apabila, saya menggunakan jawaban “benar”, saya mendapatkan pelajaran baru dengan teknik psikodrama yang diajarkan oleh Pak Didik. Saya menjadi mengerti teknik psikorama yang sebelumnya saya tidak mengerti dan pahami. Apabila, saya menggunakan jawaban “jujur”, emosi saya disana sungguh dibangkitkan, bahkan dengan bahasa “kasar”, emosi saya seperti dibuat mainan.

Saya merasa, awal-awal saja saya sudah diminta untuk menggambarkan diri saya sendiri. Sedikit susah ketika harus menggambarkan diri saya sendiri, karena banyak mimpi yang saya inginkan dan mimpi itu kandas juga yang diakibatkan oleh beberapa alasan yang hanya saya dan Tuhan yang tahu. Tapi, saya diminta untuk membangkitkan kembali mimpi itu kembali dengan pertanyaan besar dalam diri ‘apakah saya mampu dan mau mewujudkan mimpi itu?’.

Emosi saya belum sempat netral, lagi-lagi emosi saya harus bangkit kembali dengan merefleksikan diri saya sendiri selama beberapa minggu kebelakang dan saya semakin terharu dan tidak menyangka ada teman yang sangat ingin mengenal saya lebih dalam, saya terharu juga dengan perjuangan teman-teman saya untuk terus membuat komunitas ini terus “bernafas”.

Emosi saya kembali meningkat ketika Pak Didik terus meminta saya untuk merefleksikan diriku disesuaikan dengan kegiatan yang dilakukan mulai dari awal hingga akhir. Selain emosi tangis dan haru yang muncul, emosi tawa dan bahagia juga muncul disela-sela emosi tangis dan haru bergelora.

Pada intinya, setiap kita harus memahami rasa dan peran kita masing-masing dan jangan pernah takut untuk berhasil dan merealisasikan mimpi itu, serta saya ingin menutup tulisan saya dengan ucapan terimakasih atas kesempatan dan waktunya, serta sharing dari “Master” Didik yang telah memberikan ilmu dan pengalamannya.

Terimakasih juga buat teman-teman komunitas yang bersedia untuk membuat acara ini dan mengijinkan saya untuk bisa ambil bagian, serta berbagai pihak yang telah mendukung komunitas ini. Maju terus Seniman Lima Belas Menit dan jadilah komunitas psikodrama yang terdepan di Surabaya, maupun Jawa Timur.

Surabaya, 8 Agustus 2018

 

Yohanes Ardiyanto

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

4 tanggapan untuk “Seniman Lima Belas Menit Goes To Jogja: Rasa yang Tak Pernah Ada”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.