Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial untuk Anak-Anak dengan Psikodrama: Ketakutan itu Ilusi, Resiko itu Nyata.


Teknik Psikodrama sculpture (bikin patung)
Properti : selendang/alat2 kecil (bola, kayu pendek, dll)
Tempat : Halaman, Lapangan, atau ruangan kosong
Durasi : 2-3 jam

Beberapa hari yang lalu, saya dikontak oleh rekan Relawan Bencana Merapi, untuk diminta terlibat dalam penanganan Trauma Anak-anak di Taman Kanak-kanak yang berada di Lereng Merapi. Informasi yang didapatkan Anak-anak banyak yang sudah biasa ditinggal sendiri oleh orang tuanya, setelah kejadian Letusan Freaktik Merapi, menjadi ingin selalu ditunggui orang tuanya.

Sehubungan saya sedang ada tugas di luar kota maka saya memberikan masukan teknik Psikodrama (Sculpture) untuk dipakai sebagai cara melakukannya.

Trauma healing kepada anak didik usia 5 – 7 th dengan jumlah 60 anak dan terbagi dalam 4 kelas. Perlu dilakukan pembagian untuk menjaga rasio Pendamping dan jumlah anak dalam kelompok. Trauma healing dilakukan di setiap kelas dengan jumlah 15 anak di dampingi 2- 3 orang/lebih boleh.

Healing akan dilakukan dengan memainkan sculpture (bikin patung) dengan tubuh mereka (gesture). Anak tidak perlu diberi ceramah, tidak perlu banyak bicara langsung diajak bermain saja dengan gembira. Jika anak anak bermain (melakukan adegan) menjadi peristiwa yang ditakuti dengan perasaan gembira maka anak memiliki Pengalaman alternatif dalam menghadapi situasi tersebut.

Sebagai Pemanasan awal, Anak-anak diajak menjadi pohon. Fasilitator memberikan contoh dan anak-anak boleh meniru bentuk patungnya atau pun berbeda. Selanjutnya Anak-anak ditanya ia menjadi Pohon apa. Boleh juga diulang beberapa kali agar anak lebih berani bereksplorasi sendiri.

Berikutnya Anak-anak diminta bekerja sama dengan temannya untuk menjadi rumah, ditanya juga tiap anak menjadi apa dari bagian rumah itu. Lakukan affirmasi dengan menyatakan “gimana Senang, kan ? Gampang kan?

Ajakan selanjutnya : “Mari kita bikin yang lebih asyik, sekarang kita buat Pemandangan Alam yang indah”. Semuanya ikut ya? …..

Fasilitator dapat ikut terlibat menjadi bagiannya. Tetap dalam pose (posisi Mematung) Tanyakan lagi pada tiap anak menjadi apa dalam Sculpture tersebut, dan fasilitator juga menyatakan ia menjadi apa.

Pastikan semuanya terlibat dan menunjukkan antusias serta suasana gembira. baru ajak untuk membuat adegan atau menjadi suasana, peristiwa yang menjadi alasan ketakutan anak (Trauma).

Mari kita bikin Gunung Meletus, peristiwa yang mereka takutkan.

Saat memainkan peristiwa tersebut kakak kakak pendamping (fasilitator) terlibat dengan menjadi patung juga (adegan), bagaimana menyelamatkan diri jika peristiwa itu terjadi (semakin lucu semakin baik). Tidak harus menjadi manusia, boleh jadi Gunung, Batu, Awan, Angin, Pohon, atau apa pun. Jadi tokoh superhero juga bisa, tokoh film kartun bisa. Pastikan tercipta suasana yang gembira, Lucu, dan boleh salah. Penting juga lakukan “perbaikan” bentuk patung atau adegannya dengan lembut sebagai cara intervensi treatmennya,….

Dengan durasi waktu cukup 2 jam-an seluruhnya, lalu ditutup dengan pertanyaan “bagaimana mainnya, senengkan ?” (setelah mereka menjawab) Senaaaang,….

oke sip. Pada moment ini tepat dikatakan dengan bahasa yang sederhana singkat dan jelas, bahwa peristiwa alam ini memang wajar terjadi di tempat kita berada maka kita perlu tetap waspada dan berani menghadapinya. Akan lebih baik ditambahkan juga dengan ajaran yang sesuai keyakinan agama yang dianut, yang intinya mengajak lebih Mencintai alam.

Catatan :
Dunia anak adalah bermain dan ekpslorasi, jadi yang ketakutan (trauma) berasal (meniru) dari orang dewasa yang dekat dengan mereka, bisa orangtuanya atau gurunya namun kita tidak boleh menyalahkan meraka. Ketakutan itu Ilusi, Resiko itu Nyata ( #katafilm ). Ajak anak anak itu pada dunia nya bermain dan gembira karena dengan cara ini anak-anak akan belajar menghadapi realita.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Dukungan Kesehatan Mental dan Psikososial untuk Anak-Anak dengan Psikodrama: Ketakutan itu Ilusi, Resiko itu Nyata.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.