Memberikan Bimbingan Menggunakan Psikodrama di Medan


Hari Minggu di akhir bulan September ini benar-benar penuh dengan kegiatan. Meskipun keliru dalam mengagendakan kegiatan, tapi akhirnya semua berhasil dijalankan dengan tekad dan keyakinan bahwa semua akan berjalan lancar. Setelah dua hari mendampingi guru saya dalam kegiatan seminar dan workshop di dua kota kecil yang berjarak beberapa jam dari Kota Medan, pagi minggu ini kami kembali ke Medan. Setelah menurunkan Pak Guru di Airport, segera saya bergegas untuk pulang ke rumah mempersiapkan diri untuk memberikan bimbingan pada adik-adik penerima beasiswa Pelangi dari INTI Medan.

Waktu persiapan maupun presentasi yang singkat ini membuat saya berpikir dan sedikit ragu dalam mempersiapkan materi. Dalam hati ingin membawa mereka dalam kegiatan bermain Psikodrama, namun waktu terlalu pendek sehingga saya merasa tidak akan efektif. Saya putuskan untuk menyiapkan materi tentang sukses yang saya ambil dari buku Quantum Life Transformation yang ditulis oleh Adi W. Gunawan. Namun keinginan untuk bermain dengan metode psikodrama tetap kuat, akhirnya saya komunikasi dengan Mas Didik, guru psikodrama saya. Mas Didik meyakinkan bahwa meskipun dengan waktu relatif singkat, psikodrama tetap dapat dilakukan dan tetap akan efektif. Saya putuskan untuk tetap menggunakan metode psikodrama.

Acara dimulai tepat waktu, materi tentang sukses saya bawakan untuk adik-adik yang semuanya sudah duduk di bangku SMA. Mereka ber-27 merupakan penerima bea siswa Pelangi agar mereka tidak mengalami putus sekolah. Motivasi agar mereka dapat fokus pada cita-cita dan impian mereka. Di tengah materi, saya selipkan sesi relaksasi, untuk membawa mereka ‘melihat’ impiannya lebih jelas, dan merasakan kebahagiaan dalam mencapai impian tersebut. Kesungguhan mereka dalam melakukan terlihat dari perubahan ekspresi wajah yang perlahan-lahan mengembangkan senyum bahagia. Saya terlebih bahagia melihatnya.

Saya mengingat satu metode dalam psikodrama di mana si ‘protagonis’ diminta untuk menskenariokan masa depannya. Saya pribadi sangat tertarik dengan metode ‘visit the future’ tersebut, namun karena waktu yang sangat pendek, saya memvariasikan teknik ini dengan relaksasi. Jadi skenarionya terjadi dalam pikiran. Dalam psikodrama, teknik ini dimainkan oleh protagonis dengan menyusun sendiri skenario, memilih pemeran lain dan melakukan setting sendiri.

Setelah materi singkat diberikan, saya masuk ke sesi bermain-main menggunakan psikodrama. Hanya memakai satu bentuk permainan yaitu Sculpture. Mereka berdiri membentuk lingkaran, kemudian diminta untuk membuat bentuk pohon dalam tiga hitungan. Seperti sudah diduga, bentuk simetris muncul dalam percobaan pertama. Pertanyaan dilontarkan, mengapa memilih bentuk pohon simetris? Banyak alasan, banyak jawaban, misalnya supaya rapi, agar terlihat kokoh dan sebagainya. Pertanyaan lain dilontarkan, apakah di alam ini, mereka sering melihat pohon yang simetris begini.. senyum kecil mulai muncul. Takut salah, meniru teman, tidak berani berekspresi merupakan jawaban yang muncul kemudian.

Setelah itu diminta untuk mencoba kembali. Kali ini sudah terlihat perubahan, mulai lah muncul pohon – pohon yang bentuknya meliuk-liuk. Saya tanya kembali apa perasaan nya setelah berubah ini. Ada yang menjawab lebih senang, lebih lega. Kembali hal ini ditekankan, jangan takut untuk jadi diri sendiri, ekspresikan dirimu. Adik-adik ini mulai mengangguk-angguk. Beberapa psikolog muda yang menjadi volunteer di program beasiswa pelangi ini mulai tertarik dengan kegiatan kami ini dan mendekat untuk melihatnya.

Ritme permainan dinaikkan, mereka diminta untuk membentuk pohon berdua. Muncul dua orang yang tidak punya pasangan. Setelah itu ditanya, mengapa melihat ada yang tidak punya pasangan tidak didekati? Alasannya karena malu. Mengapa semuanya menjadi dahan dan batang, kenapa pohon tidak ada akarnya? Setelah itu, mereka diminta untuk bertiga membentuk pohon lagi. Kembali ada yang ngotot untuk ber-empat, sementara ada yang tidak cukup komposisi orangnya.

Setiap manuver selalu diberikan pertanyaan, mengapa tidak berani bergerak, mengapa nyaman dengan lingkungan yang itu-itu saja. Mengapa akar letaknya juga di atas seperti halnya dahan, kenapa tidak mau jongkok ke bawah seperti layaknya akar. Karena tidak mau mengambil bersusah payah dengan posisi yang sulit. Maunya yang mudah saja. Bagaimana mungkin hasilnya bisa bagus jika tidak mau bersusah payah dan kerja keras untuk meraih impian.

Sampai tahap ini, adik adik penerima beasiswa yang tadinya belum saling mengenal itu sudah mulai terlihat cair dengan teman – teman barunya. Mereka sudah mulai berkomunikasi, tertawa dan bercanda dengan sesamanya.

Waktu saya sudah habis, maka saya tutup lah permainan ini dengan meminta mereka bersama sama, menjadi apa saja sehingga membentuk sebuah taman yang indah. Mereka menjadi rumput, air mancur, pohon, rumah bunga, pot, kupu-kupu, pagar, perosotan, dan lampu taman dalam berbagai posisi.

Saya menutup sesi saya dengan meminta mereka melihat, bahwa mereka bisa menjadi apa saja dalam komunitas. Tidak harus seragam, asal mampu memberikan sumbang sih dalam masyarakat sehingga menciptakan lingkungan yang indah dan menyenangkan bagi kita semua.

Saya cukup puas, walaupun dengan waktu begitu singkat banyak yang tidak dapat saya lakukan, misalnya menggali perasaan tiap orang. Tapi saya optimis mereka pulang membawa insight baru dari permainan yang sederhana itu.

Saya menjelaskan pada teman-teman sarjana psikologi muda, volunteer di Program Beasiswa Pelangi ini, bahwa yang saya lakukan itu adalah bagian dari Teknik Psikodrama yang bernama sculpture. Mereka menunjukkan ketertarikan. Ada yang menyatakan bahwa terlihat efektif untuk membuat anak-anak menjadi lebih dekat satu sama lain.

Ada yang bertanya, sepertinya bisa dijadikan materi terapi kelompok.. oh. Sangat bisa tentunya. Psikolog yang juga guru muda ini sangat antusias, dia sampaikan, jika mereka dapat melakukan ini, mereka dapat melakukan trauma healing di lokasi-lokasi bencana. Bahagia saya mendengar ini, mungkin ada titik terang dari apa yang sedang kami cita-citakan di HIMPSI Sumut. ( keesokan harinya, salah seorang mengirimkan link bacaan tentang psikodrama yang ia peroleh dari internet, hal ini menunjukkan munculnya minat yang mendorong pada pencarian informasi)

Kembali saya lanjutkan perjalanan minggu saya, kali ini menuju ke Panti Jompo di mana teman-teman saya yang lain sudah menunggu di sana. Minggu yang sangat membahagiakan.

 

Medan, 2 Oktober 2018

Mina

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Memberikan Bimbingan Menggunakan Psikodrama di Medan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.