Menyambut Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi Relawan Siaga Bencana yang Sehat Mental


Tanggal 10 Oktober dijadikan sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. WHO pertama kali menginisiasi Hari Kesehatan Mental Sedunia pada tahun 1992, misinya adalah untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran dan advokasi masyarakat seluruh dunia mengenai kesehatan jiwa. Meningkatkan kesadaran seputar kesehatan mental dan memobilisasi usaha untuk mendukung kesehatan mental yang lebih baik.

Indonesia sendiri baru mengikutinya tahun satu tahun kemudian. Tahun 1993 ini menjadi tonggak dari ditetapkannya penghormatan terhadap hak orang dengan masalah kejiwaan, memperluas program pencegahan masalah kesehatan jiwa, mendekatkan akses kesehatan pada masyarakat, memperluas cakupan pelayanan, dan meningkatkan upaya kesehatan jiwa secara optimal.

Meskipun dicanangkan dari 25 tahun yang lalu, namun sampai saat ini pemahaman orang awam akan masalah kesehatan jiwa masih sangat awam, ironisnya Kondisi Kesehatan Mental seperti depresi, kegelisahan, perubahan suasana hati, dan stres meningkat secara drastis, mengingat kehidupan yang serba cepat dan penuh tekanan yang kita jalani. Gangguan jiwa ini tidak hanya berdampak pada kemampuan kita untuk bekerja secara produktif, tapi juga menghancurkan kehidupan sosial dan pribadi kita. Menurut organisasi Kesehatan Dunia (WHO), secara global lebih dari 300 juta orang menderita depresi. Lebih dari 260 juta orang hidup dengan gangguan kecemasan dan kebanyakan hidup dengan kedua kondisi ini.

Peringatan Hari Kesehatan Mental pada tahun ini menjadi lebih khusus, sebab kondisi prihatin di negara kita yang sedang dilanda bencana alam gempa dan tsunami. Tekanan akibat bencana ini juga mendatangkan dampak cukup besar pada kesehatan mental dengan berbagai kategori, mulai dari stress ringan, sedang, sampai dengan gangguan mental yang berat dapat menimpa korban bencana alam, sehingga mereka membutuhkan bantuan dari para profesional.

Kita beruntung, sebab dalam kondisi demikian selalu saja ada yang terpanggil untuk memberikan bantuan kepada para korban di wilayah bencana ini. Kesetia kawanan untuk membantu memperingan beban penderitaan para korban ini mempercepat pemulihan wilayah maupun korban bencana tersebut.

Menjadi relawan, merupakan panggilan bagi orang-orang tertentu. Bahagia rasanya dapat memberi sumbangsih kepada para korban bencana. Namun terkait dengan hari kesehatan mental sedunia ini, perlu diingatkan kepada para relawan agar tujuan yang baik dapat berakhir dengan baik melalui persiapan yang baik sebelum dan sesudah memberikan layanan. Relawan memiliki resiko besar untuk terpapar bahaya dan tekanan mental dalam aktivitas melayani maupun sesudahnya.

Lokasi bencana yang relatif bahaya, fasilitas terbatas, banyaknya load pekerjaan yang harus dilakukan, menyebabkan relawan kurang beristirahat, kelelahan, frustrasi karena merasa masih kurang efektif, menghadapi kematian, team kerja yang tidak solid, rekan kerja yang stress, kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, serta banyak hal lain, menyebabkan seorang relawan sangat riskan mengalami tekanan mental.

Resiko ini dapat diminimalisir apabila terdapat management yang bagus dan persiapan yang cukup mencakup pada :
• Relawan mendapat pelatihan yang tepat
• Pembagian kerja dan Instruksi pekerjaan yang jelas dalam tim
• Bekerja dengan “sistem pertemanan”, contoh: memasangkan relawan baru dengan relawan yang berpengalaman
• Ketersediaan dukungan terhadap relawan di lapangan
• Membatasi waktu dan Jam kerja relawan

Meskipun melalui serangkaian persiapan untuk mencegah terganggunya kesehatan mental relawan, harus disadari bahwa kemungkinan relawan berubah posisi menjadi korban masih tetap ada. Reaksi stres, perasaan tidak berdaya, rasa bersalah, depresi dan gejala stres pasca trauma, burnout sampai ‘mati rasa’, merupakan beberapa hal yang mungkin dialami oleh seorang relawan.

Teknik Grounding

Beberapa strategi untuk mengurangi hal ini, misalnya berlibur ataupun konsultasi dapat dilakukan. Namun pada kesempatan ini, saya ingin membahas tentang ‘Grounding’, sebuah teknik sederhana untuk mengurangi stress maupun depresi. Istilah grounding ini biasa dipakai dalam perlistrikan, yaitu sistem kabel yang mengantarkan sebagian arus ke bumi, untuk mencegah kerusakan peralatan listrik.

Dalam kesehatan mental teknik grounding ini juga ternyata berfungsi untuk mencegah ‘kerusakan’ lebih besar. Teknik sederhana ini mengajak kita menyelaraskan diri saat merasa tidak selaras. Beberapa orang menyamakan teknik grounding ini dengan meditasi, sementara praktisi Reiki menyebutkan teknik ini adalah cara untuk menyelaraskan energi tubuh. Namun teknik grounding ini dapat dilakukan dengan cara yang lebih sederhana. Teknik Grounding, mengajak individu untuk ‘kembali ke dirinya sendiri’. Beberapa variasi cara grounding adalah sebagai berikut :

 Memperhatikan nafas, kemudian menjawab beberapa pertanyaan sederhana tentang diri sendiri, siapakah kita, berapa umurnya, sedang berada dimanakah kita, apa yang sedang kita kerjakan, apa yang akan kita kerjakan.
 Berjalan berkeliling keluar ruangan dengan telanjang kaki, menghitung langkah, merasakan sensasi, suara, rasa, suhu dan kita alami saat itu. Teknik ini juga sering disebut sebagai ‘Earthing’.
 Memperhatikan Lingkungan. Berhentilah sejenak dan kembalikan kesadaran Anda kepada masa kini dengan menganalisis lingkungan di sekitar Anda. Apa 5 hal yang Anda pertama kali lihat di depan Anda, di samping kiri Anda, dan di samping kanan Anda? Lalu, coba hitung berapa banyak furnitur yang ada di ruangan Anda.
 Menikmati minuman kesukaan. Ambil atau buat minuman kesukaan Anda, lalu jawablah hal ini: “Apa yang membuat Anda menyukai minuman ini?” Sambil menyiapkan minuman, perhatikan bagaimana minuman tersebut berproses. Cicipi dan biarkan rasanya menyebar ke dalam mulut. Teknik ini memanfaatkan indera perasa dan membuat Anda jadi lebih rileks.
 Selain menikmati minuman favorit, teknik ini dapat dimodifikasi menjadi menikmati makanan kesukaan, seperti coklat kesukaan. Nikmati coklat tersebut, biarkan dia lumer di dalam mulut tanpa mengunyahnya. Rasakan perubahan tekstur coklat dan sensasi manis yang diberikan pada lidah.
 Mendengarkan suara yang menenangkan. Ketika merasa mulai tertekan, tinggalkan sejenak pekerjaan, lalu mulai menikmati suara yang menyenangkan dan memberi efek menenangkan. Bisa berupa musik yang menenangkan, ataupun suara alam, seperti burung berkicau, suara ombak.

Cara sederhana ini diharapkan dapat mengembalikan diri pada kesadaran di sini dan saat ini, dengan demikian kesehatan mental tetap terjaga, selalu bahagia dalam memberi pelayanan pada mereka yang membutuhkan.

Semoga bermanfaat

Medan, 10 Oktober 2018

Mina Wongso

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.