Prihatin Bullying di Indonesia


Tanpa disadari, mungkin kita juga sering melakukan perundungan ( bullying ) pada orang lain. Saat mengatakan orang gemuk, jelek, bodoh, banci, serta berbagai stigma negatif lainnya. Mungkin saat mengatakan itu, maksud kita adalah untuk bercanda, tapi efek yang ditimbulkannya sama sekali tidak lucu dan bisa jadi tidak terduga.

Pikiran manusia cenderung mengingat yang buruk dan mengabaikan yang baik. Saat seseorang diberi penguatan positif seperti dipuji pintar, cantik, langsing, baik.. maka efek positif ini hanya bertahan sementara saja, namun apabila mendapat penguatan negative, efek nya berlangsung sangat lama.

Saya pernah bertemu dengan seorang gadis remaja mahasiswi semester 3 yang sangat cantik. Dia hanya mau makan jika sudah lapar sekali, dan makan hanya beberapa sendok makan saja sekedar cukup. Apabila ia makan sedikit lebih banyak dari biasanya, langsung rasa bersalahnya timbul, padahal waktu itu dia sudah sangat kurus sekali. Stigma gemuk melekat erat pada dirinya, karena dia dulu pernah dipanggil ‘ndut’ oleh mantan pacarnya.

Efek negative dari bullying ini akan lebih parah apabila terjadi pada anak-anak. Kemampuan mereka untuk menangani serangan si pembully ini masih lemah, apalagi pelaku bullying cenderung menyasar korban yang lemah, dan kurang pintar bersosialisasi dan sulit berkomunikasi. Serangan para pelaku bullying ini membuat korban begitu cemas, sampai bisa menjadi depresi bahkan berakhir dengan bunuh diri.

Media sosial yang berkembang pesat ini, juga melahirkan banyak pembully media sosial yang sangat kejam. Jari ini begitu gampang mengetik tulisan yang menjatuhkan orang di media sosial. Para artis menjadi bulan-bulanan netizen yang membully mereka.

Jika di masa lalu, pelaku dan korban harus bertemu dulu di suatu tempat untuk bisa membully, sekarang ini kondisi lebih buruk, karena dengan media social, orang dapat membully di mana saja dan kapan saja. Kemudian apa yang ia tulis akan dibaca orang lain, ditambahkan dan menyebar kemana-mana. Kalau dulu korban bully di sekolah bisa memilih untuk tidak mau sekolah sebagai upaya menghindari bullying tersebut, maka sekarang bullying ini akan mengikuti kemanapun korban pergi.

Kasus bullying sudah menjadi kasus terbesar yang terjadi di Indonesia. Total kasus bullying yang dilaporkan ke KPAI mencapai 26 ribu lebih dari tahun 2011 – 2017. Bullying dengan kekerasan sampai berakibat kehilangan nyawa terjadi dengan pelaku masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Lebih prihatin saat bullying dilakukan, teman- teman hanya menyaksikan dan tertawa-tawa, bahkan memvideokan kejadian. Tidak terlihat sama sekali upaya untuk menolong, mencegah ataupun melindungi korban.

Plan International dan International Center for Research on Women, mengadakan riset dan mendapatkan hasil bahwa sebanyak 84% anak muda di Indonesia berusia 12-17 tahun mengalami kekerasan di sekolah, dimana angka rata-rata di kawasan Asia adalah 70%. UNICEF (2015) secara terpisah juga mengadakan penelitian dan mendapatkan hasil yang menunjukkan bahwa 40% anak muda di Indonesia mengalami bullying di sekolah, dan 32% dari korban bullying tersebut merupakan korban kekerasan fisik. Lebih mengejutkan lagi dari hasil penelitian UNICEF juga, yaitu sebanyak 72% anak muda mengaku pernah menjadi saksi dari kekerasan terhadap anak–baik kekerasan fisik, psikis, maupun seksual. Hasil riset ini lah yang membuat beberapa ahli mengklaim bahwa Indonesia sudah darurat bullying.

Sebagai orang tua, guru, maupun orang dewasa dalam masyarakat, sudah waktunya memberi perhatian dan terlibat dalam upaya mencegah bullying di masyarakat. Perhatikan anak dalam lingkungan, apabila menunjukkan tanda tanda cemas apabila mendengar notifikasi HP berbunyi, mulai menarik diri dari lingkungan, menjadi mudah emosional, sulit tidur, dan kebiasaan makannya berganti maka dapat diduga bahwa anak tersebut sudah menjadi korban bullying.

Sebaliknya apabila anak mengeluarkan komentar sinis dan kejam pada penampilan maupun status orang lain, tidak lagi menunjukkan empati pada lingkungan, terobsesi dengan sosial media, banyak tertawa sendiri, dan menyimpan rahasia, harus diperhatikan apakah anak ini telah menjadi pelaku bullying.

Ingatkan pada anak bahwa dalam sosial media semua perilaku meninggalkan jejak, jadi jangan sampai melakukan sesuatu yang disesali dan menghambat masa depannya kelak. Kemudian jangan karena iseng melakukan aksi bullying berakhir dengan penyesalan dan rasa bersalah seumur hidup sebab korban tidak tahan bully dan memilih mengakhiri hidupnya.

Anak juga harus diperkuat mentalnya untuk menghadapi kondisi saat ini, melindungi dirinya dari bully, sekaligus juga tidak menjadi seorang pembully. Kegiatan kegiatan yang melibatkan fisik, seperti olah raga, hiking, ataupun futsal menguatkan fisik sekaligus mental anak. Mereka tumbuh menjadi lebih pemberani. Juga kegiatan-kegiatan yang mengolah rasa seperti, Seni budaya, Tari, Musik, Drama, Melukis dapat melatih empatinya. Mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang peduli.

Orang tua memiliki peran yang sama pentingnya dan sama besarnya dalam mempersiapkan mental anak. Orang tua bersikap terbuka, sehingga anak berani menceritakan apa yang ia alami dan bagaimana perasaannya. Harusnya kedua orang tua memiliki persepsi yang sama dalam komunikasi dengan anak. Anak seharusnya mendapat kesempatan untuk menyelesaikan sendiri masalahnya. Kesempatan ini menumbuhkan kepercayaan diri dan kemandirian pada anak.

Di sisi lain, orang tua perlu untuk tetap memantau, dan memberikan bantuan apabila anak tidak mampu, atau pelaku bullying melakukan hal lain yang lebih buruk. Bantuan ini memberikan rasa aman pada anak, bahwa dia memiliki pelindung jika dibutuhkan. Beberapa tanda bahwa orang tua perlu untuk turun tangan misalnya; jika masalahnya sudah berlarut-larut, jika masalah berulang kembali; jika diancam secara fisik, jika melibatkan uang ataupun pemerasan lainnya; jika efek negatif pada anak mulai terlihat, misalnya prestasi belajar yang memburuk.

Pihak sekolah dilibatkan apabila dibutuhkan, menjadi penengah, mempertemukan orang tua dan anak dari kedua belah pihak. Anak anak yang menjadi pembully juga merupakan anak yang membutuhkan bantuan agar dapat menjadi lebih baik.

Kepedulian semua pihak memperbaiki generasi muda, mengembalikan masa kanak-kanak dan remaja Indonesia yang sehat lahir dan batin.

Medan, 1 Oktober 2018

Mina

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

3 tanggapan untuk “Prihatin Bullying di Indonesia”

  1. Bullying sebetulnya ada dari jaman dulu. Tapi internet memungkinkan bullying menyebar ke mana-mana. Saya juga pernah jadi korban juga waktu sekolah dan kuliah. Tapi untungnya saya punya keluarga yang mendukung dan akrab. Jadi saya tidak merasa sendiri. Menurut saya, keluarga punya peran paling besar untuk mendukung kesehatan mental kita.

    Suka

    1. Ya,…keluarga punya peran paling besar,…jadi ingat dulu waktu kecil ada Istilah “Pupuk Bawang”, anak yg paling kecil, paling lemah diberi keistimewaan saat bermain, krn di kampung dulu semua bersaudara, semua merasa sekeluarga. Jadi bukan bullying yang terjadi melainkan proses “pelatihan” yang menyenangkan.

      Suka

    2. Terkadang kondisi korban ini dianggap sepele oleh orang orang yang berarti baginya. Hal ini pun memperburuk keadaan korban. beruntung Mbak Dyah dapat support dari keluarga.

      Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.