Kami Belajar Bersama Pada Hari Itu ; Tulisan Psikodrama di Surabaya 2019


Ada pepatah yang mengatakan belajarlah sesuatu yang baru setiap hari. Bahkan Albert Einstein pun mengeluarkan pendapat yang lebih keras lagi, “Once you stop learning, you start dying.” Kesempatan untuk belajar selalu hadir mengetuk pintu hati dan pikiran kita. Tinggal bagaimana kita menyadari dan bersyukur atas kesempatan itu dengan menggunakannya sebaik mungkin.

Tapi mudah mengatakan semua itu daripada melakukannya. Musuh terbesarku mungkin adalah rasa kekwatiran apakah bisa melakukannya atau tidak. Pada awal tahun baru 2019 ini saya diberi kesempatan untuk mencicipi belajar sesuatu yang baru itu. Kesempatan itu berupa memberikan materi pelatihan kepada para guru muda di suatu sekolah swasta yang bisa dikatakan nomor satu di kota Surabaya. Saya sangat menghargai para guru muda itu. Saya menganggap mereka istimewa karena merekalah penerus bangsa kita.

Posisi dan peran mereka juga sangat penting karena mereka berada di era waktu awal suatu perubahan besar. Apa yang mereka dapatkan dari pendidikan ilmu keguruan mereka belum tentu sepenuhnya akan membantu mereka menghadapi generasi millennial dan berikutnya yang sangat berbeda. Tantangan mereka besar ke depan sehingga respek saya juga besar kepada mereka. Butuh banyak keberanian bagi guru-guru muda untuk bisa langgeng di profesi mereka.

Tema yang sekolah minta saya berikan adalah etos kerja, tapi dikaitkan dengan menghadapi ketidakpastian di jaman sekarang dan pengaruh teknologi gadget yang sangat besar pada anak-anak didik jaman sekarang. Gurupun perlu adaptasi, tapi adaptasi tanpa pemahaman yang mendalam mengenai etika, moralitas, nilai-nilai, dan keutamaan yang penting mungkin dapat mengganggu proses adaptasi mereka, bahkan bisa saja sampai berujung pada keputusasaan.

Saya berfokus pada kemampuan diri sendiri untuk secara bijak membuat keputusan yang tepat, yang mana keputusan tersebut kadang membutuhkan keberanian untuk keluar dari zona nyaman, kepekaan dalam memperhatikan kebutuhan orang-orang di sekeliling mereka, terutama para anak didik, serta ketulusan, kejujuran, dan keutamaan lainnya.

Saya mengawali pemberian materi dengan sesi perkenalan. Kami duduk dalam bentuk lingkaran dan saya meminta satu-persatu untuk memperkenalkan nama dan bidang studi yang diampu, dan kemudian memperagakan suatu pose yang menunjukkan siapa mereka atau bisa juga keadaan hati mereka saat itu.

Proses perkenalan berjalan lancar dan penuh suka cita dengan diselingi berbagai guyon dari peserta karena beberapa dari mereka menambahkan informasi selain nama dan bidang studi (misalnya status kejombloan, dll). Kebanyakan pose yang dipilih, seperti dugaanku, masih pose yang sangat aman dan nyaman. Pose yang belum menunjukkan keinginan untuk keluar dari zona nyaman. Opini ini saya berikan di bagian akhir sesi perkenalan tapi dengan hanya sekilas saja dan memakai bahasa yang ringan.

Saya kemudian menantang mereka dengan bertanya apakah mau keluar dari zona nyaman. Jawaban mereka secara antusias adalah “Mau!” Maka kemudian saya bawa mereka ke bagian berikutnya.

Pada bagian kedua ini, saya awali dengan pemanasan singkat, yaitu meminta mereka sendiri-sendiri membuat suatu pose sesuai instruksi saya, yaitu membuat pohon. Serentak mereka bergerak, dan hampir semuanya mengangkat tangan ke atas. Hanya ada mungkin sekitar 3 dari 26 orang yang tangannya tetap di samping badan, malah berdiri lurus seperti dalam keadaan siaga, tidak bergerak sama sekali, yang menurut mereka itu juga adalah pohon. Dari yang tangannya ke atas, semuanya membuat pose yang simetris. Dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, saya memancing dan mendorong mereka untuk mengamati semua pose dan memberikan opini mereka. Mereka akhirnya memahami bahwa masih banyak kemiripan dan serba simetris, padahal dalam dunia nyata pohon bisa beragam rupanya. Saya akhirnya memperagakan beberapa pose yang aneh dengan bertanya apakah pohon bisa berbentuk seperti itu untuk mulai membuka pemikiran mereka.

Kemudian kami lanjut dengan membuat pose pohon dengan berkelompok 3 orang dan 5 orang. Pesan-pesan yang saya berikan selama mereka berpose adalah untuk terus melakukan posenya secara hening, tidak perlu mengatur orang lain tapi berfokus kepada pemikiran sendiri. Ini berarti mereka perlu mengamati, mengobservasi, bahkan menunggu sampai teman kelompoknya menjadi sesuatu dulu baru kemudian menambahi. Saya mencoba berjalan dari satu kelompok ke kelompok berikutnya untuk bertanya kepada anggota kelompok mengenai posenya, perasaan yang dirasakan, apa yang mendorongnya untuk mengambil posisi itu, dan seterusnya.

Karena waktu yang terbatas (bagian bermain ini sekitar 1 jam saja), setelah itu saya memutuskan untuk mengajak seluruh peserta menjadi satu kelompok dan memperagakan suatu adegan yang mereka pahami karena terkait lingkungan sekitar sekolah mereka. Sebenarnya keinginanku adalah untuk mencoba dua adegan, satu mengenai lingkungan warung-warung usai jam sekolah di belakang sekolah di mana banyak siswa dan staf berkumpul, dan satunya lagi mengenai adegan di dalam kelas tapi apa daya waktu mengijinkan hanya adegan pertama.

Adegan berjalan dengan baik, walaupun ada hal-hal yang kurang sesuai. Misalnya ada beberapa peserta yang berkumpul di bagian belakang untuk membuat pintu gerbang keluar dan objek di sekitarnya, dan ada beberapa peserta yang mengadegankan warung, siswa-siswa yang ingin menyeberang jalan dan yang naik motor. Hanya saja, kedua kelompok itu sepertinya secara visual tidak menempatkan posisinya sesuai dengan keadaan realitas karena arah motor-motor bukan ke arah yang tepat. Beberapa peserta akhirnya saat refleksi mengatakan kebingungan mau menjadi apa.

Sambil berjalan dari satu orang ke orang berikutnya untuk bertanya mereka menjadi apa, saya mendengarkan perasaan dan proses berpikir mereka mengapa memilih pose itu. Hampir semuanya mengatakan bahwa sebelum menjadi sesuatu, mereka melihat dulu yang lain jadi apa sebelum melengkapi adegan.

Ada segelintir orang yang menginisiasi gerakan pertama yang memilih langsung untuk menjadi apa dan ini kemudian mereka refleksikan juga bahwa kadang dalam suatu keadaan, harus ada yang menginisiasi untuk bergerak. Bagi yang awalnya kebingungan, ada beberapa pembelajaran juga yang kami dapatkan, yaitu saat mengalami kebingungan, ada yang menyikapinya dengan langsung saja menjadi sesuatu walaupun berisiko tidak pas, tapi ada juga yang memilih sedikit berdiri di luar gerombolan dan tetap menjadi sesuatu tapi sesuatu yang lebih netral (misalnya pejalan kaki). Alasannya adalah karena tidak ingin membuat suasana di tengah gerombolan untuk menjadi lebih keruh dan membingungkan, dan ini langsung saya kembalikan kepada peserta dengan mendorong mereka untuk melihat aplikasi pendapat itu ke dunia nyata. Intinya adalah kita masing-masing punya cara yang unik dalam menyikapi suatu keadaan yang tidak jelas, dan ini semua bisa berujung pada keragaman berpikir dan bertindak dalam komunitas.

Satu peserta berefleksi mengenai pentingnya mengawasi terlebih dahulu, tapi bahwa pada akhirnya tetap harus membuat keputusan walaupun masih belum yakin mengenai keputusannya. Salah satu peserta juga memutuskan untuk menjadi tong sampah karena menurutnya tong sampah juga suatu benda yang sangat dibutuhkan dalam lingkungan. Kesaksiannya itu kemudian ditanggapi oleh peserta lain yang merasa kagum akan kemampuan dan keberanian untuk menjadi sebuah objek yang mungkin sering dianggap jelek tapi sangat dibutuhkan.

Setelah selesai dengan adegan warung di belakang sekolah, peserta saya bawa kembali ke posisi melingkar untuk diskusi lagi. Kali ini, juga karena pertimbangan waktu, saya hanya bisa meminta mereka satu per satu memberikan satu hal yang paling berkesan bagi mereka. Hal-hal yang mereka ungkapkan adalah hal-hal yang sudah saya jelaskan di atas tapi lebih mendalam lagi. Hal-hal tersebut kemudian sesudah break sebentar, kami lanjutkan dalam bentuk refleksi tertulis mengenai nilai keutamaan apa yang paling berarti bagi mereka, keutamaan yang sudah mampu mereka imani dengan baik dan keutamaan yang belum mampu mereka lakukan.

Pada akhirnya, syukurlah semuanya berjalan dengan sangat lancar dan indah. Saya benar-benar tersentuh juga di beberapa bagian dan kagum dengan kemampuan para guru tersebut yang dalam jangka waktu pemanasan sangat singkat mampu masuk ke dalam peran-peran dan berefleksi dengan mendalam.

Saya sendiri juga berefleksi bahwa ternyata semua yang saya persiapkan belum tentu bisa terlaksanakan sesuai dengan keinginanku, sehingga saya juga menerima ketidaksempurnaanku dalam melakukan tugasku. Pasti ada pesan yang terlewatkan, tapi tidak apa karena tidak ada yang sempurna. Akan tetapi, yang pasti, saya belajar banyak pada hari itu. Saya belajar bahwa saya mampu melakukannya, bahwa saya bisa menjiwai apa yang saya katakan. Saya ikut merasakan apa yang dirasakan oleh beberapa peserta, dan pesan-pesan yang mereka dapatkan menjadi pembelajaran juga bagiku.

Kami belajar bersama pada hari itu, dan itu sungguh indah. Terima kasih juga kepada Mas Didik yang sudah membimbing dan memberikan banyak masukan untuk semuanya bisa berjalan dengan baik. Berkah Dalem.

Surabaya, Januari 2019
Erlyn

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.