Apakah Psikodrama dapat Meningkatkan Pemaafan?


Secara teori dapat disimpulkan psikodrama dapat meningkatkan pemaafan. Premisnya adalah untuk dapat memaafkan individu harus menyadari dirinya sedang terluka, ada pemanggilan luka di masa lalu dalam rangka memberikan penerimaan. Sebagian besar orang tidak mau memaafkan karena merasa tidak perlu mengingat hal yang membuat luka, mereka melupakan namun tidak menerima.

Emosi negatif karena perlakuan tidak menyenangkan seperti kesal, marah, kecewa dan benci merupakan sifat manusiawi manusia. Emosi negatif terpendam menimbulkan pemaafan rendah yang termanifestasikan dari keinginan menghindari pelaku, niat untuk balas dendam dan motivasi untuk tidak berbuat baik dengan pelaku.

Setiap kejadian di dunia ini adalah peristiwa netral, cara pandang individulah yang membuatnya menjadi subjektif. Oleh karena itu perubahan makna gambaran masa lalu dapat difasilitasi psikodrama dengan cara merekontruksikan permasalahan individu.

Tanggal 19-20 Januari 2019, saya melakukan penelitian mengenai pengaruh psikodrama terhadap pemaafan pada remaja korban kekerasan dalam keluarga.

Responden diambil di balai X yang menampung perempuan yang memiliki permasalahan sosial seperti penelantaran, trafficking, kekerasan dalam keluarga, kemiskinan, putus sekolah dan lain-lain. Usia remaja yang ikut dalam rentang 14-23 tahun dengan permasalahan beragam.

Sebagai psikolog yang mendampingi remaja di balai X, saya memahami latar belakang permasalahan dan dinamika kepribadian.

Awalnya terlihat para responden yang mengikuti masih merasa canggung, malu, kurang mampu mengeskpresikan diri. Ketika di fase pemanasan menjadi objek tertentu terlihat para responden begitu bersemangat, kreatif menampilkan diri. Saya sedikit terkejut ketika salah seorang remaja dengan terbuka menceritakan permasalahan keluarganya. Hal lain yang menjadi perhatian saya adalah perubahan rencana masa depan. Awalnya ketika ditanya apa yang dilakukan di masa depanmu, mayoritas responden menyatakan ingin lulus pkl, keluar dari balai, kerja. Di perjalanan psikodrama mereka mulai memiliki rencanan tinggi. Ada yang mengatakan akan membuka butik, menyokolahkan anaknya sampai di universitas, menjadi modiste, menjadi sekretaris. Perubahan masa depan ini menunjukkan adanya perubahan mengenai konsep diri dan gambaran masa depan.

Hasil terapi antara kelompok kontrol dan eksperimen menunjukkan tidak ada perubahan pemaafan di fase post test. Namun setelah 7 hari terapi, saya mengukur kembali pemaafan terjadi peningkatan pemaafan di kelompok eksperimen.

Kelompok eksperimen menunjukkan pemaafan lebih tinggi daripada kelompok kontrol. Perubahan terjadi setelah 7 hari terapi.

Hasil pemaafan pre test dan post test pada kelompok eksperimen tidak menunjukkan perubahan. Artinya tidak ada peningkatan pemaafan yang signifikan pada kelompok yang diberi perlakuan.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan jeda antara perlakuan dan waktu pengukuran post test penting. Pertanyaannya adalah berapa lama jeda waktu yang dibutuhkan selesainya perlakuan dan pengukuran post test? Jawabannya tergantung pada variabel yang diukur yaitu jenis variabel, jenis pelakuan, karaktristik subjek dan jenis penelitian.

Hal yang disasar dalam dalam terapi ini adalah pemaafan. Menurut Mc Cullogh (2000) pemaafan merupakan penurunan motivasi menghindar, penurunan hasrat balas dendam dan peningkatan motivasi berbuat baik. Subkobaik (1995) mengatakan pemaafan adalah menggantikan emosi negatif menjadi cinta. Dari pengertian dari dua ahli sasaran yang ditembak dalam terapi ini adalah aspek kognitif dan emosi. Pemaafan tidak hanya mengubah konsep berpikir mengenai gambaran peristiwa namun juga menggantikan emosi negatif menjadi emosi positif. Secara teoritis, aspek emosi lebih lama pengukurannya daripada aspek kognitif yang hanya mengukur tingkat pemahaman atau kesadaran.

Kedua adalah karaktristik subjek. Karakteristik subjek dalam penelitian ini adalah remaja yang memiliki pengalaman kekerasan dalam keluarga. Wenar & Kerig (2006) menyebutkan orangtua adalah figur yang seharusnya menyayangi dan melindungi, ketidakmampuan figur orangtua menunjukkan perannya mengubah konsep diri individu. Kebanyakan individu yang pernah mendapatkan perlakuan buruk di masa kecil tidak mau mengakui adanya luka dan kekecewaan peranan orangtua, hal ini menimbulkan trauma (Gil,2009).

Beberapa penelitian menyebutkan ada jeda yang diukur untuk melakukan pengukuran post test setelah terapi. Penelitian yang dilakukan Lundqivist (2006) membutuhkan waktu 2 tahun melakukan post test setelah terapi pada perempuan yang pernah mengalami kekerasan seksual di masa kecil.

Kritik dan saran yang dapat dilakukan untuk penelitian selanjutnya ketika memberikan terapi pada kelompok rentan adalah memperhatikan waktu jeda. Jeda setelah terapi memberikan dampak mengenai efektivitas terapi.

Diana Putri Arini

Source:
Gil, E. (2009). Outgrowing the Pain: A Book for and about Adults Abused as Children. New York: Dell Publishing.
McCullogh, M.E. (2000). Forgiveness as Human Strength: Theory, Measurement and Links to Well Being. Journal of Social and Clinical Psychology 19 (1), 43-55.
Lunqvist, G., Svedin, G., Hansson, K., & Broman, I. (2006). Group Therapy for Women Sexually Abused for Children: Mental Health After and Before Therapy. Journal of Interpersonal Violence, 21 (2), 1665-1677.
Wenar, C., & Kerig,P. (2006). Developmental Psychopatology: From Infancy through Adolescents. US: McGraw Hill.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.