….menjadi Orang yang Tahu Segalanya tidak akan Menyelamatkan


Aku punya pengalaman dulu waktu memfasilitasi Game Kerjasama saat itu masih sebagai Trainer di salah satu Perusahaan Tambang Batubara, temen-temen lulusan SMK, lebih berani segera mencoba dan mempraktekkan sehingga cepat berhasil. Sementara Kelompok yang Lulusan Sarjana, lama sekali berdiskusi mengatur strategi, dan memakan banyak waktu sehingga hasilnya tidak seperti yang diharapkan. Waktunya habis terpakai untuk berdebat tanpa solusi.

Aku yakin hal itu bukan karena Lulusan Sarjana kalah cerdas, atau tidak mampu. Aku melihat ada keinginan kuat untuk “mengetahui” lebih dulu bagaimana (jalan/cara) yang benar, kemudian baru melakukan. Sementara temen yang lulusan SMK, langsung saja melakukan sambil improvisasi spontan mencari jalan yang tepat.

Jangan jangan temen temen lulusan sarjana ini terjebak pada paham Gnostisisme, mereka lebih penting mengetahui dan lupa waktu untuk segera bertindak. Tanpa sadar menganggap jika sudah mengetahui cara yang benar otomatis mampu melakukan dengan benar.mereka Mau bertindak jika sudah mengetahui.

Sementara temen SMK sudah Mau bertindak (dengan gembira), meski belum mengetahui caranya. Setelah bertindak baru mereka mengetahui. Mereka mendapatkan pengalaman dan pengetahuan.

Kemudian saya menemukan tulisan dari Group WA, mengenai Gnotisisme, yang dituliskan oleh Seorang Pastor Philipina.

 

Gnostisisme adalah Paham yang berasal-usul dari kata Yunani “gnosis”, berarti “mengetahui”. Dalam sejarah Gereja, Gnostisisme adalah ajaran sesat yang mengatakan bahwa yang paling penting adalah “apa yang kita ketahui”. Paham ini menegaskan bahwa yang kita butuhkan hanyalah pendekatan intelektual yang benar.

Paus Fransiskus mengatakan dewasa ini Gnostisisme menggoda orang untuk berpikir bahwa mereka dapat membuat iman “sepenuhnya dapat dipahami” dan menuntun mereka untuk memaksa orang lain mengadopsi cara berpikir mereka. “Ketika seseorang memiliki jawaban untuk setiap pertanyaan,” kata Francis, “itu adalah tanda bahwa mereka tidak berada di jalan yang benar.”

Dengan kata lain, menjadi orang yang tahu segalanya tidak akan menyelamatkan Anda.

 

Pastor Constan Fatlolon

 

Aku dapat memahami “kegelisahanku atas fenomena peserta yang memiliki hasrat ingin tahu yang besar, untuk mendapatkan jawaban, ingin memiliki banyak pengetahuan.

Di sini aku makin yakin akan kontribusi Psikodrama, yang menekankan pada tindakan, bahkan juga mengajak untuk berani salah. Kondisi ini akan menjadikan seseorang tidak terjebak untuk mengetahui dulu sebelum bertindak, bahkan diajak bertindak agar nanti mengetahui, ujaran orang Jawa, Ilmu Tinemu Kanthi Laku. Pengetahuan akan didapatkan dengan melakukan tindakan (menjalani).

Dalam proses terapi Zerka Moreno mengatakan, “Subyek (pasien, klien, protagonis) memperagakan konfliknya, bukannya berbicara mengenainya.”

 

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.