Terapi Menulis #01 Pada Suatu Malam


oleh Ayati Rini

Air mata itu berhenti mengalir sesaat sebelum Warni mengetikkan kata demi kata yang dirangkainya ketika baru turun dari motor. Ia kini tengah merebahkan badannya di atas kasur yang telah lama tak ditidurinya. Sebetulnya, matanya telah lelah membuka sebab hari ini berlalu dengan cukup melelahkan. Ia ingin menutup hari dengan terlelap nyenyak, namun sepertinya peristiwa tadi belum mengizinkannya untuk itu.

Warni mulai membiarkan pikirannya melayang, kembali ke beberapa jam yang lalu, ketika seorang lelaki pertama yang dikenalinya dalam hidupnya menghubunginya. Sebutlah ia Pak Kumis. Sudah berbulan-bulan–atau bahkan mungkin mencapai orde tahun–Warni tidak sanggup menghadapi panggilan dari Pak Kumis dengan wajar. Ketakutan kerap menghantui Warni saat dering itu memunculkan nama Pak Kumis ataupun istrinya pada layar ponsel Warni. Khususnya, pada saat Warni sedang bercengkerama di bawah Pohon. Sebab Pak Kumis tidak suka dan tidak akan pernah suka mendengar Warni menghabiskan waktunya sampai larut malam di bawah Pohon.

Entah mengapa, malam ini Warni dengan cepat mengangkat panggilan dari Pak Kumis. Setelah berbincang-bincang tentang hal umum, pertanyaannya kembali kepada pertanyaan seperti biasa: “Kau dimana? Akan pulang kapan? Dengan siapa?”
Sontak, Warni terhenyak. Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan yang paling ia benci. Ketakutannya tak lain disebabkan oleh pertanyaan semacam ini.

Bukannya Warni tak terbiasa berbohong; tentu ia bisa berkelit. Namun, pada akhirnya ia menjawab jujur. Dan sekali lagi, jawaban jujurnya membuat Pak Kumis dan istrinya khawatir. Mereka diam-diam langsung menghubungi seseorang untuk menjemputnya pulang nanti lantaran khawatir putri semata wayangnya itu terus-terusan bersama seseorang yang tak bisa mereka terima. Seseorang yang berbakti kepada Tuhan dengan cara yang berbeda. Seseorang yang sebetulnya baru selama 5 bulan terakhir ini selalu berusaha untuk menemani dan membimbing Warni keluar dari lingkaran kelamnya. Seseorang yang begitu disayangi Warni; ia bernama Awan.

Seseorang yang dihubungi oleh Pak Kumis dan istrinya untuk menjemput Warni itu kemudian langsung mengabari Warni. Warni bukan terkejut, ia tentu bisa memperkirakan hal itu terjadi. Masalahnya, kabar itu disampaikan di tengah-tengah forum penting yang sedang diadakan di bawah Pohon. Lantas, meski keinginannya begitu kuat, Warni tidak bisa kabur kemanapun. Pikirannya berkali-kali kabur dan tubuhnya ingin memberontak. Meskipun demikian, ia tetap berusaha mengontrol dirinya.

Begitu Warni meninggalkan Pohon bersama-sama dengan Awan, Warni menceritakan apa yang baru saja terjadi. Ia bercerita tentang Pak Kumis yang menelepon dirinya, sampai ia yang akhirnya sedih karena kabar dari Sang Penjemput yang diutus oleh Pak Kumis. Ia tahu mengapa Pak Kumis melakukan itu dan ia tahu itu baik. Wajar. Ia pun tahu mengapa ia sedih, sebab kedua sosok yang dicintainya tidak bisa saling menerima sebab perbedaan fondasi dasar dalam kehidupan. Kata Awan, memang benar semua wajar. Maka dari itu, jangan terlalu larut dalam kesedihan.

Tapi masa bodoh dengan ucapan itu! Warni tidak bisa berpikir waras saat ini. Kepalanya terasa begitu berat seolah-olah ada sesuatu yang ingin ia muntahkan lewat mata, hidung, dan mulut. Ia ingin sekali membenturkan kepalanya itu dengan keras. Entah apa yang dirasakannya saat ini sampai-sampai ia begitu ingin melakukannya. Agaknya, rasa sedih itu belum begitu tumpah dan justru menggumpal di dalam pikirannya. Memberontak ke tenggorokan, ke wajah, ke badan, sampai ke kaki. Ia sudah mulai tidak bisa mengontrol tubuhnya agar tidak terus bergerak secara repetitif. Namun, hari ini seseorang telah mengatakan kepadanya agar ia mencoba melahirkan imajinasi-imajinasi fisik itu ke dalam aksara.

Warni tidak memikirkan lagi soal Awan; pun Pak Kumis dan istrinya. Ia ingin menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri secara repetitif. Menekan keningnya ke media keras untuk mendapat efek dari hukum aksi-reaksi. Berguling dan memekik sampai lega. Namun sedari tadi, ia hanya membuka mulutnya, tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Sungguh Warni ingin segera melepas tangannya dari ponsel; menghentikan aksi jemarinya untuk mengetikkan kata-kata. Ia lelah. Ia juga ingin menghancurkan dirinya lebih dalam. Menguasai dirinya agar bisa lebih bebas, liar, dan berkuasa. Racauan demi racauan semakin menggema di dalam batinnya, mengalir deras meski tersendat-sendat di antara gerakan yang tak bisa ia kendalikan lagi.

“Maksimal satu jam. Apa, itu dulu? Ah. Aku ingin. Terbang. Eh. Tidak bisa.”
Lagu klasik tidak berhenti berdendang di dalam pikirannya.
“Berapa? Tadi kau apa, berapa?” Ia membayangkan saat terjadi obrolan dua orang pada dua motor yang berbeda.
Dan malam itu, Warni tertidur sesaat sebelum alarm yang telah disiapkannya berbunyi.

&&&&&

 

*Tulisan diatas merupakan proses konseling lanjutan, ada teman ingin bertemu dengan saya minta konseling, dan saya menawarkan terapi menulis ini. Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.