Cerita Mawar #part 10 Perjamuan Kudus Pertama


Aku melakukan pengakuan iman percaya pada tanggal 2 desember 2018, dan aku mendapatkan perjamuan kudus pertama pada 20 Januari 2019. Aku tidak mengambil formulir jemaat perjamuan kudus yang mestinya aku isi. Aku tidak mengisi formulir dan berniat tidak mengambil perjamuan karena aku memang tidak mau. Aku merasa belum pantas, siap dan layak secara iman. Asher atau penerima tamu di gereja berkata kepadaku bahwa ada perjamuan kudus… aku menjawab ya aku tahu dan aku tidak mengambil. Asher akhirnya mempersilahkan aku masuk ruang ibadah kebaktian.

Aku sangat sedih sekali secara tiba-tiba karena lagunya yang menyadarkan aku bahwa percaya pada kuasa Tuhan dan berserah padanya. Entah kenapa air mataku sempat keluar 3 tetes saat menyanyi karena efek lagu. Aku merasa sedih sekali dan menyesal bahwa tidak mengisi formulir dan merasa tidak siap untuk periode tersebut.

Setelah menyanyi kami pun lanjut ke pembacaan Alkitab. Hal yang ditegaskan sangat adalah percaya kepada Tuhan sepenuhnya, berserah kepadanya, percaya bahwa Tidak ada yang kebetulan. Semua adalah rencana Tuhan yang selalu ada hubungan di setiap peristiwa, dan juga pecaya Tuhan bekerja.

Perasaan sedihku tiba-tiba hilang dan merasa bahagia, puas, dan juga tenang saat pendeta saat khotbah berkata “kecemasan orangtua masa kini terutama bagi anaknya yang remaja adalah berteman dengan Atheis”, memang tidak dapat dipungkiri bahwa nanti akan ada efeknya pada anak tersebut, NAMUN yang paling berbahaya adalah ATHEIS LATEN yaitu dari dalam diri anak tersebut. Atheis laten adalah kondisi anak percaya ada Tuhan, kuasa ilahi yang lebih besar namun tidak percaya akan cara kerjanya. Ya intinya merasa lebih baik masih percaya Tuhan ada namun tidak percaya bagaimana cara kerjanya.

Bukan perkara ada kemungkinan bahwa aku terasuk kategori atheis laten namun, jika dihubungkan dengan kesiapanku mengikuti perjamuan kudus, terlebih aku saja pengakuan iman karena terpaksa dan sudah bertekad tidak akan ambil perjamuan hingga aku siap, cukup membuat aku agak tenang karena keputusanku tepat dalam artian tidak mendaftar dan mengambil perjamuan karena aku terbesit adakalanya aku menjadi atheis laten. Ya intinya aku masih belum siap perjamuan kudus, perjamuan kudus itu suci bukan AJANG kedewasaan usia maka IMANMU juga dewasa, sedangkan dalam keluargaku aku merasa perjamuan itu ajang lomba dewasa iman.

Aku sempat tertawa dalam hati mengingat interview gerejawi sebelum pengakuan iman, aku membayangkan jika diriku adalah seorang tidak percaya sepenuhnya alias laten tadi namun meminta pengakuan iman percaya, bahkan kitab suci pun aku anggap seperti buku sejarah yang ada benarnya dengan masa kini. Bagiku yang terpenting saat ini adalah cita-citaku, mengikuti norma di dunia dan terus berkarya- bermanfaat bagi sekitar. Perkara apakah akan tetap menjadi pribadi atheis laten atau tidak bisa diubah asalkan aku berkomitmen sungguh untuk terus mencari tahu dan memahami akan apakah itu Tuhan dan juga iman.

Aku ada alasan besar yang membuat aku bertekad tidak akan ambil perjamuan kudus dan cukup critical buatku. Hal ini adalah perkara perang melalui tradisi budaya yang ilogical, misalnya di rumahmu ada pasir banyak sekali tidak ada habisnya bahkan parahnya, masih tetap kotor walaupun tiap 1 jam disapu dan dipel sehari 3x, dan saat tanya ke spiritualis yang bisa melihat mistis begitu ternyata itu adalah pasir kuburan (untuk mematikan bisnis dan perekonomian).

Hal terbaru adalah di bak mandi rumah kakakku Boyo ada pasirnya banyak sekali dan juga tiba tiba ada seperti kayu ranting pohon kecil namun, kata ibuku itu adalah ular kecil dan akhirnya akupun lempar garam dapur ke bak air tersebut dan anehnya tiba-tiba seluruh pasir dan ular kecil itupun hilang. Saat coba dicari ke browser ternyata itu tujuannya membuat buta dsb, namun saat tanya ke spiritualis itu ternyata adalah gaib dengan tujuan jika kakak iparku (hamil lagi 3 bulan, anak pertama usia 8 bulan) melihat dapat membuat keguguran dan hal buruk lainnya.

Hal yang paling menyakitkan lagi adalah risiko kematian gak jelas kepada keponakanku yang masih bayi sangat ilogical. Bagiku keponakanku adalah segalanya bagiku, karena dialah motivasiku ambil bidang minat perkembangan psikologi terutama anak-anak dan dunia keluarga NAPZA. Keuntungan dari perang budaya adalah keluarga bisa bersatu akur tidak ribut dan saling teriak dan membentak pada seluruh anggota keluarga (kecuali kakak iparku). Kerugiannya adalah fisik dimana capek bersihkan rumah, belum lagi rumah disiram air beras dengan berjalan mundur (padahal rumah tingkat), iman juga terusik.

Bagiku aku siap saja perjamuan kudus walaupun dulu terpaksa pengakuan iman, aku mau dan bersedia, namun dengan kondisi demikianlah yang membuat aku ragu dan memilih untuk berkelana mencari ilmu mengenai Tuhan. Bahkan aku sempat terbesit untuk ambil psikologi transpersonal yaitu psikologi dan dunia rohani. Ya hidup adalah proses… tiap orang bisa berubah…

Trima kasih telah membaca…

bersambung……..

Januari, 2019

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.