Terapi Menulis #03 Dorongan itu Muncul lagi


oleh Ayati Rini

Selama beberapa hari terakhir, aku bukan tidak mengalami apa yang kualami pada hari-hari sebelumnya. Masih seperti sebelumnya, karena ada pemicu atau tidak ada pemicu, tiba-tiba ada dorongan kuat dari dalam diri untuk meracau. Kepalaku terasa berkedut-kedut dan berat, lalu sekujur tubuhku mulai ingin melakukan hal yang repetitif. Kelenjar air mataku terasa meradang, sementara tenggorokanku tercekat. Aku mencoba menjalani seperti apa yang dikatakannya: menyalakan alarm untuk satu jam ke depan kemudian menuliskannya. Namun, dorongan di dalam diriku menolakku untuk menulis. Ia menolak untuk dilihat, ditonton, diketahui, diidentifikasi, kemudian pada akhirnya dihilangkan. Yang aku ketahui saat ini, ada dua dorongan di dalam diriku: dorongan untuk bisa terus sadar seperti saat aku menulis ini, dan dorongan untuk gelisah. Keduanya ingin menguasai diri ini secara penuh dan tidak ingin disingkirkan secara penuh.

Jika ada pemicunya, maka sudah pasti itu adalah panggilan dari orang tua yang masih belum sanggup aku jawab karena ketakutanku atas pertanyaan-pertanyaan dari mereka yang aku asumsikan akan muncul. Namun jika tidak ada, maka dorongan itu langsung muncul begitu saja. Menimbulkan imajinasi-imajinasi yang tidak akan siapapun inginkan akan terjadi di dunia nyata.

Di kelas, aku membayangkan diriku akan menggebrak meja, menghantamkan kepalaku keras-keras ke tembok, kemudian lari, pergi meninggalkan kelas entah kemana. Di sekretariat, aku membayangkan akan tertawa keras sambil menangis. Bayangan itu telah sering mewujud nyata. Namun, bayangan berikutinya, aku ingin menghantamkan kepalaku keras-keras ke pintu lemari besi. Lalu aku akan takut dan pergi, berlari sejauh-jauhnya.

Sejak terakhir bertemu dengannya yang menyarankanku melakukan terapi menulis, setidaknya sekitar 4-5 kali aku mengalami dorongan kuat tersebut. Dalam kali pertama, aku masih bisa menyetel alarm dan menulis sesuatu. Di kali kedua, aku sempat menyetel alarm, namun saat menulis sedikit, tanganku menolak untuk melanjutkan. Katanya, ia tidak ingin diidentifikasi.

Di kali yang lain, aku menulis dengan pulpen (bukan mengetik sebagaimana sebelumnya), namun lama-kelamaan, tulisanku semakin membrutal, tidak terbaca, dan tanganku semakin tidak dapat kukendalikan. Rentetan aksara berubah menjadi coretan tak tentu. Ada kalanya pula aku menuangkan emosiku melalui denting piano, namun setelahnya aku kembali menangis keras-keras dan menghubungi kekasihku. Setidaknya, hampir setiap kali timbul dorongan, ia selalu menjawab teleponku. Ia akan membantuku mengatur napas, selanjutnya memintaku menceritakan apa yang terjadi atau menceritakan apa saja yang penting aku bisa mulai kembali memproses informasi di dalam otak dengan lebih terstruktur. Perlahan-lahan, kesadaranku untuk mengontrol pikiranku kembali. Butuh waktu sekitar 40 menit sampai 1 jam telepon untuk bisa kembali ke kondisi itu.

Semalam, dorongan itu timbul lagi. Namun, ia tidur di sekretariat dan aku tak sampai hati untuk membangunkannya. Untungnya ada dua orang yang aku percaya; aku memainkan tangan mereka untuk melakukan hal repetitif dengan tanganku sampai lelah kemudian tidur. Di hari yang sebelumnya, keadaan orang-orang di sekitarku mencemaskanku dan mengamplifikasi dorongan itu. Saat aku selesai bermain keyboard dan hendak mencari gitar di kamar kakakku, kamar itu seperti diganjal dari dalam. Gelap. Aku tidak tahu siapa di dalam sana. Kata kakakku, ia sedang tidak ada di rumah. Mobilnya memang tidak ada. Namun, ia langsung tahu saat aku baru sampai rumah. Aku tahu, ada yang dia simpan di dalam dirinya, di kamarnya, di rumah saat aku tidak ada. Namun aku tak tahu apa itu. Yang aku tahu juga, ia pun juga sedang tidak baik-baik saja. Seorang teman juga menunjukkan kondisinya tidak baik. Hal itu masih meresahkanku pula.

Kurang lebih inilah yang aku tulis di buku catatanku ketika berada di kantin, kalau tidak salah tanggal 13 Februari 2019, pada saat timbul dorongan:

Warni memilih mengambil tempat duduk untuk dirinya sendiri. Ia menghadap ke tembok agar tidak perlu bertemu mata dengan siapapun. Di hadapannya ada sebuah kaleng kerupuk yang memantulkan cahaya di belakangnya. Ia bisa memantau keadaan di belakangnya dari situ. Sebetulnya, di dekatnya terdapat beberapa orang teman yang sudah selesai makan. Mereka tengah mengobrol dan di situ jelas ada bangku yang bisa didudukinya. Masih ada ruang untuk Warni, tetapi ia memilih untuk menyendiri.

Baik, baik. Lawan ia dengan tulisan. Bukan, bukan lawan. Keluarkan. Keluarkan. Keluarkan. Air mata yang kutahan, keluarkan jadi kata-kata.

Meskipun aku tahu intensitasmu? Mereka tidak menerima dia. Aku sedih. Dia orang baik. Mereka juga baik. Aku tidak membalas tanteku karena aku tidak bisa menjanjikan apapun sementara aku merasa bersalah karena tidak bisa menemaninya. Aku membayangkan diriku akan menepis mangkuk soto di hadapanku sampai ia jatuh dan pecah. Lalu semua orang akan menoleh ke arahku. Aku takut, terdiam, kecemasanku meningkat pesat—secara eksponsesial. Aku hanya terdiam, kemudian memeluk atau segera beranjak kemanapun. Lari tak tahu arah.

Aku sebetulnya tidak suka ini, tapi aku tahu kalau ini menyalurkan kesadaranku yang itu. Setidaknya menulis lebih baik ketimbang meracau, meski kepalaku juga terasa melayang membayangkannya, memikirkannya. Aku masih berusaha agar paling tidak antar kata dapat tersusun dengan baik sebagai suatu kalimat. Aku bingung setelah ini mesti bagaimana.

Bagaimana aku membeli obat? Bagaimana aku membeli laptop?

Ini makan berat ketigaku dalam 3 hari ini. Sudah 3 hari aku makan sendiri. Ya sudah sih. Telinga kiriku berdenging. Aku ingin memejamkan mata dan memberontak! Aku tidak ingin beranjak, kalau bukan untuk menyendiri dan meng…ai diriku lebih dalam (tulisan semakin sulit dibaca dan aku lupa apa yang kutulis). Aku tidak mau kau kembali! Aku tidak mau dibuang. Aku tidak mau sosokku dapat diidentifikasi dengan jelas. Akan kurusak … tangamu menulis agar kamu tak bisa mem…ku kepada orang lain dan mengusirku pergi.

Aku ingin tetap ada di dalam dirimu, menyakiti tubuhmu, melelahkan hatimu. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku. Aku adalah kecemasanmu. Aku adalah penghancurmu. Aku yang merasuk di kepalamu, memusingkan kepalamu, mengacaukan kerja tanganmu, mencegahmu ber…, mencegahmu bertemu dengan orang lain, mencegahmu menghubungi siapapun, merusakmu. Aku akan terus ada dan berusaha untuk membuatmu jatuh semakin dalam, ke realitasku. Meninggalkan realitasmu. Kau selalu bertanya seperti apa kesadaran itu? Akan kutunjukkan bagaimana kesadaran bekerja. Bagaimana kesadaran yang bukan seperti biasanya akan mengantarmu melakukan hal yang tidak kamu ….

Aku harus pergi.

Lalu, inilah yang aku tulis di sekretariat pada tanggal 15 Februari 2019:

Tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang tenang aku ingin membenturkan kepalaku, menggerakkan tubuhku dengan gerakan repetitif dan menghancurkan sesuatu. Aku ada di sini untuk mengobrol dengan santai dan berbahagia. Aku harus melakukan hal lain yang lebih seharusnya aku lakukan. Aku harus melewati ini. Aku harus … … … mungkin.

… … … … …. Aku … digunakan … aku tidak … … … … … tulisanmu … … … terbaca … ditanya … … … siapa. Aku tidak t… … … … … …. Aku takut. Aku tidak … dicari. Aku takut mengecewakan.
… akan tidak. Apa perasaanku? Takut. Gelisah. Aku takut sama orang tuaku. Aku takut … tidak dicari. … … … … … … saja aku takut me…. Aku takut menyakitkan. Aku takut di…. Aku tidak t…. Aku seperti sa… dengan s… … … tidak … … … pergi … … … aku tidak … … ke…. Aku tidak me… … …
…(tulisanku selanjutnya semakin tidak bisa dilihat sebagai tulisan).

Apa perasaanku saat membaca dan menuliskan tulisanku kembali?

Rasanya, sesuatu di dadaku beresonansi terhadap perasaan waktu itu. Aku getir membayangkan ketakutan itu, aku masih ingat rasanya. Ada sedikit keinginan untuk kembali merasakan ketakutan itu, tapi tidak sekarang karena ada hal-hal yang harus diselesaikan dengan baik hari ini.

 

&&&&&&&

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Ada teman ingin bertemu dengan saya minta konseling, dan saya menawarkan terapi menulis ini. Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.