Testimoni Psikodrama, Saya Masih Penasaran (Oops, sekarang tanggal 21 Februari, molor 9 hari)


Terakhir saya menulis adalah ketika saya sedang menangis karena melihat anak perempuan saya yang masih berusia satu bulan tengah sakit flu, hampir setahun lalu. Namun kali ini saya tidak sedang ingin membahas anak saya ataupun tulisan saya, melainkan tentang satu kegiatan yang baru saya ikuti sekitar dua minggu lalu. semoga hasil tulisan saya bisa cukup runut untuk dijabarkan mengingat kemampuan menulis saya yang sudah semakin menurun karena tidak pernah lagi diasah.

Baiklah, tanpa berpanjang lebar, mari dimulai saja tulisannya.

Ketika malam sebelum tidur pada beberapa minggu lalu, saya tetiba terpikir untuk mengikuti sesi terapi yang sekiranya dapat menjawab pertanyaan saya selama ini: mau jadi apa diri saya? Untuk apa tujuan saya hidup di dunia? Dan sekiranya pertanyaan-pertanyaan filosofis lain. Sebelumnya, saya adalah survivor post-partum depression dan sudah pernah sekali menjalani sesi terapi psikologi dengan metode brainspotting, yang membuat saya menjadi lebih ingin tahu lagi mengenai psikologi, terutama untuk menyelami diri saya. Berlanjutlah dengan mengontak terapis saya untuk menanyakan apa sekiranya beliau menyediakan sesi terapi seperti yang saya inginkan tersebut. Sayangnya untuk saat ini beliau belum menyediakan sarana terapi yang saya mau, namun beliau memberikan alternatif workshop yang kebetulan akan diadakan dalam waktu dekat oleh salah satu lembaga psikologi, yaitu Psikodrama. Setelah meminta izin kepada suami, saya mendaftar workshop tersebut. Dalam benak saya tidak tahu menahu apa itu Psikodrama, sekalipun sudah membaca testimoninya. Hanya berbekal percaya kepada terapis saya bahwa ini adalah acara yang bagus.

Tiba di lokasi workshop di daerah Margonda Depok sekitar pukul Sembilan pagi, peserta yang datang baru sekitar 5 dari 29 peserta. Oh iya, sebelumnya kami dimasukkan ke dalam grup whatsapp untuk koordinasi. Dari daftar peserta yang akan hadir dan dibuatkan sertifikatnya, 11 peserta di antaranya adalah psikolog, dan sangat mungkin yang lainnya juga psikolog, namun tidak menyertakan gelarnya. Hmm, kembali rasa minder saya muncul. Perasaan ‘saya bukan apa-apa’ yang sering kali menghambat saya untuk maju. Saya jadi bertanya-tanya apa benar workshop ini bisa juga untuk masyarakat umum yang tanpa latar belakang psikologi seperti saya. Ah, namun yasudah, saya kesampingkan rasa minder saya itu, toh niat saya adalah mencari ilmu. Nothing to lose (jangan nyanyi ya).

Selanjutnya saya akan menceritakan tentang tahapan-tahapan dalam Psikodrama sesuai pengalaman yang saya alami pada workshop kali ini.

1. Lingkaran Pembukaan

Sekitar 15-20 menit setelah saya sampai ke lokasi workshop kemudian sesi dimulai dengan perkenalan diri singkat dari lembaga yang mengadakan, M.Eureka Psychology Consultant, kemudian fasilitatornya, Retmono Adi atau biasa dipanggil Mas Didi. Kemudian beliau memberikan instruksi kepada peserta untuk memperkenalkan diri sambil berpose terlebih dahulu dengan pose yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Ada yang berpose jadi Ultra Man, tiduran sambil berpangku tangan, menelungkupkan tangan, dan lain-lain. Kalau saya berpose miring ke kiri karena sepertinya itu pose yang belum pernah saya lakukan, setidaknya saat berfoto.

Sesi perkenalan ini cukup memakan waktu melihat banyaknya jumlah peserta yang ikut. Memang menurut Mas Didi, Psikodrama itu idealnya dihadiri oleh 7-15 orang peserta dengan durasi dua hari. Jadi ketika kali ini jumlah pesertanya adalah 30 orang dan hanya diberi kesempatan hingga jam 17.00 maka sesi Psikodrama tidak akan maksimal. Ngos-ngosan katanya. Pada sesi ini Mas didi juga menjelaskan kerangka kerja dari Psikodrama.

2. Warming Up

Setelah sesi pembukaan selesai, tibalah pada sesi warming up. Kali ini masing-masing peserta diinstruksikan untuk berpose seperti pohon. Setelah semuanya berpose, tanpa berbicara dan tanpa lama berpikir, kemudian setiap peserta ditanya mengenai posenya masing-masing. Ada yang berpose seperti pohon beringin, pohon mangga, dan lain-lain. Saya, karena sehari sebelumnya sehabis membantu kakak saya menebang pohon ketapang di rumahnya yang rubuh tertiup angin, serta merta berpose seperti pohon ketapang rubuh, dengan badan tegak namun kepala dibengkokkan ke kanan.
Kesimpulan dari pose pohon kali ini adalah kebanyakan peserta masih normatif (kebanyakan berbentuk simetris), takut salah, tertutup. Mas Didi menjelaskan bahwa pada workshop kali ini peserta dipersilahkan melakukan kesalahan. Tidak mengapa salah karena dari kesalahan kita akan belajar.

Selanjutnya kembali dilakukan pose pohon oleh masing-masing peserta dan mulai terlihat ada yang merubah posenya walau masih sedikit. Kita diajak untuk mengkontemplasikan pose masing-masing, yang bagi saya ini adalah sebuah cara yang seru untuk merefleksikan diri.

Sesi warming up berlanjut dengan tetap memperagakan pose pohon, namun kali ini posenya dilakukan oleh dua orang peserta, kemudian tiga orang, hingga tujuh orang dalam satu kali pose pohon, tanpa sebelumnya berkomunikasi. Susah memang untuk berpose ‘indah’ atau ‘benar’ saat peserta disuruh berpose dan bekerja sama dengan orang yang sama sekali baru, tanpa berbicara sama sekali. Ada kelompok yang semuanya jadi batang, ada pohon beringin dan pohon jambu dalam satu pohon, dan lain-lain. Kali ini peserta diajak untuk merefleksikan kehidupan bersosialnya.

Sesi pohon-pohonan selesai, berlanjut memperagakan situasi air mancur. Kali ini situasi sudah mulai mencair. Ada yang berinisiatif duluan untuk menjadi air mancurnya, kemudian ada yang melanjutkan menjadi air, ada yang menjadi batu, ada yang menjadi burung yang sedang minum di air mancur (itu saya. Hehehe).
Games demi games berlanjut. Peserta diajak untuk terus merefleksikan diri dari pose yang sudah dibuat. Dari setiap pose ditelaah maksud dan pelajaran yang bisa diambil. Kesalahan demi kesalahan tercipta, dan saat itulah saya banyak belajar mengenai diri dan cara saya bersosialisasi.

Sociometry

Sesi selanjutnya adalah sociometry. Menurut mbah Google, sociometri adalah alat untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok individu dengan dasar penelaahan terhadap relasi sosial dan status sosial dari masing-masing anggota kelompok yang bersangkutan (Depdikbud, 1975). Pppff… njlimet sekali bahasanya. Namun menurut saya yang orang awam ini sociometri adalah alat untuk mengukur kemampuan kita bersosialisasi. Metode sosiometri yang digunakan pada Psikodrama kali ini adalah Locogram dan Spectogram. Untuk pengertian masing-masing metode silahkan cari sendiri ya. Saya sebatas menjelaskan pengalaman sepanjang Psikodrama ini saja.

Metode Locogram yang dilakukan adalah mempersilahkan peserta untuk memilih satu dari tiga posisi: jadi objek penelitian atau volunteer, jadi pengamat yang berpikir menggunakan logika, atau jadi pengamat yang berempati menggunakan perasaannya. Ada 12 orang volunteer yang akan menjadi objek penelitian, dan sisanya menjadi pengamat. Dari pengamat ini terbagi dua; jika selama ini peserta lebih menggunkaan logikanya, peserta diminta untuk mengamati menggunakan perasaannya. Sebaliknya, jika peserta cenderung perasa, peserta diminta untuk mengamati situasi menggunakan logika.

Tibalah pada eksperimen objek penelitian. Para volunteer yang sebelumnya mengajukan diri dipersilahkan untuk memilih satu dari tiga spot yang sudah ditentukan: spot berpikir, spot perasaan atau ‘baper’, dan spot action, sesuai dengan pengalaman hidup masing-masing volunteer sekira satu bulan belakangan. Ada tiga orang yang berdiri di spot action dan juga tiga orang di spot baper, selebihnya berdiri di spot berpikir. Kemudian masing-masing peserta menceritakan tentang kehidupan mereka selama sebulan belakangan ini. Setelah semua volunteer bercerita, Mas Didi meminta para pengamat untuk menceritakan kembali pengalaman para volunteer sesuai perannya, apakah menjadi pengamat yang berempati atau pengamat yang logis. Saya kala itu menjadi pengamat yang berempati. Sesi ini cukup sulit bagi saya untuk dieksplorasi karena peserta dipaksa untuk bertindak menjadi yang tidak biasanya, terlihat dari adanya peserta yang sudah memilih menjadi pengamat empati namun ketika menganalisa kejadian dia tetap menganalisa secara logis.

Sesi selanjutnya adalah Spectogram. Gampangnya, spectrogram adalah mengukur intensitas sesuatu. Kali itu Mas Didi menempatkan selendang-selendang yang dimilikinya di lantai untuk mewakilkan angka nol, 50 dan 100 persen. Kemudian beliau meminta volunteer untuk membayangkan pola asuh orang tua masing-masing dan mempersilahkan volunteer untuk berdiri sesuai poin masing-masing. Angka nol merepresentasikan pola asuh yang sama sekali tidak keras, angka 50 sedang, dan 100 persen adalah pola asuh yang sangat keras. Ada yang berada di poin 40, 50, 80, 88, dan saya yang kala itu jadi volunteer memiliki poin 90 persen. Haha.
Volunteer secara bergantian menceritakan pola asuh yang didapat dari kedua orang tua. Emosi kembali terolah di sini.

Tiba ke inti Psikodrama, yaitu Action. Sesi ini adalah kilas balik kehidupan peserta yang menjadi volunteer dan mereka ulang kejadiannya. Karena keterbatasan waktu, Mas Didi hanya melakukan kilas balik untuk satu volunteer saja. Volunteer diminta untuk duduk di tengah panggung dan mengambil satu selendang dari tumpukan selendang berbagai motif dan warna yang ada di depannya. Volunteer diminta untuk mengingat pengalaman hidupnya saat kecil dulu yang masih diingat. Volunteer teringat akan dirinya yang masih TK diomeli sang ibu karena belum mandi sore. Kemudian dimulailah reka ulang kejadian masa kecil itu dari mulai kejadian yang berlangsung pukul 16.00, dirinya yang sedang baca majalah Bobo bersama adik, ada kursi, televisi hitam putih, rumah kayu, dan hal detail lain. Setiap objek yang ada diwakilkan oleh para peserta lain yang sebelumnya dipilihkan dan diberikan selendang oleh Volunteer. Setiap detik kejadian diulang namun kali ini Volunteer lah yang menjadi sutradara akan kehidupannya sendiri yang telah lalu. Diharapkan dari reka ulang kejadian ini ada efek terapeutik jika hal yang dikilas balik adalah hal yang traumatis atau lain sebagainya.

Tiba saat refleksi Para peserta secara sukarela menceritakan pengalamannya sebelum, saat dan sesudah workshop Psikodrama ini. Ada yang melihat sisi positif dari kejadian hidupnya yang selalu negatif, Ada yang ketika di awal diminta berpose pohon beliau hanya membentuk segitiga di tangannya, namun setelah selesai sesi Psikodrama peserta tersebut lebih bisa mengekspresikan dirinya dengan merentangkan tangan lebar-lebar. Hal itu membuat saya senang entah mengapa. Saya pribadi merasa ini adalah sesuatu yang baru lagi mengasyikkan untuk dieksplorasi lebih lanjut. Ini adalah kegiatan yang dilakukan berkelompok namun sejatinya Psikodrama adalah terapi untuk diri pribadi. Saya masih penasaran bagaimana kalau diri saya direka ulang. Sepertinya akan banyak emosi yang terolah di sana. Hehe.

Depok, 21 Feb 2019
1.47 AM
-AJ-

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.