Apa Perbedaan Kebahagiaan, dan Kesuksesan ?


Apa perbedaan kebahagiaan dengan kesenangan?

Kesenangan dicapai dari hal-hal bersifat fisik atau duniawi yang menghasilkan kepuasan sementara/sewaktu-waktu bisa tidak lagi dirasakan. Kebahagiaan dan kesenangan adalah 2 jalan yang berlawanan. Jika kita memilih jalan kesenangan, sebenarnya kita menjauhi kebahagiaan.

Jalan kesenangan sering terlihat menarik, indah, menggairahkan, dan menjanjikan, menawarkan kemudahan dan kenikmatan segera. Hal ini sesuai dengan kecenderungan setiap orang untuk serba cepat dan mudah. Jalan kebaikan (ctt. menuju kebahagiaan) bersifat kebalikan. Jalan kebaikan sering terlihat sulit, berliku-liku, mendaki, dan penuh tantangan.

Contoh argumen kesenangan adalah: “turutilah dirimu sendiri”, “ikuti kata hatimu”, “bersenang-senanglah sedikit”, “tidakkah engkau berhak mendapatkan yang terbaik?”, “Bukankah semua orang sudah melakukannya?” Argumen tersebut merupakan peran tunggal yaitu “kenikmatan diatas segalanya”.

Apa perbedaan kebahagiaan dengan kesuksesan

Sukses artinya mendapatkan apa yang Anda inginkan, Bahagia menginginkan apa yang Anda dapatkan. Sukses berfokus pada fisik, Kebahagiaan berfokus pada spiritual. Ukuran kesuksesan adalah kuantitas (pencapaian), dapat dilihat. Ukuran kebahagiaan adalah kualitas, mengacu pada proses, bergantung pada kondisi didalam. Kesuksesan dinikmati ketika target tercapai, Kebahagiaan dapat dinikmati sepanjang perjalanan.

Kita tidak membutuhkan apapun untuk menjadi orang yang bahagia. Agar bahagia cukup membutuhkan diri kita sendiri.
Anda tidak perlu membuat target-target apapun. Anda tidak perlu mengejar apapun agar bisa bahagia. Anda perlu menerima keberadaan Anda apa adanya, dan bergabung pada kepasrahan, dan hidup pada masa kini-saat ini.

Apakah kebahagiaan tidak membutuhkan apapun?’

Ada pemikir yang mengatakan bahwa kebahagiaan tidak membutuhkan apapun. Meskipun ide ini terlihat bagus, ideal, meskipun tidak realitis. Menurut penelitian Martin Seligman, seorang pelopor psikologi positif mengenai hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan di berbagai negara, terdapat kesimpulan yang menarik yang dipaparkan Seligman dalam buku Authentic Happiness.

Menurut Seligman di berbagai negara yang sangat miskin, dimana kemiskinan bisa mengancam nyawa, orang kaya lebih bahagia. Saat garis kemiskinan telah terlampaui, maka tingkat ekonomi/harta tidak lagi ambil bagian pada kebahagiaan. Ketika kebutuhan minimal/ dasar seperti sandang, pangan, papan telah terpenuhi, jumlah kekayaan tidak lagi menjadi faktor yang mempengaruhi kebahagiaan.

Dalai lama mengatakan “Makin tinggi tingkat ketenangan pikiran kita -> makin besar kedamaian yang kita rasakan-> makin besar kemampuan kita menikmati hidup yang bahagia dan menyenangkan”.

 

disadur dari :

Pradiansyah, Ivan : The 7 Laws of Happiness Jakarta (2015)

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.