Cerita Mawar #part 13 Pengalaman mengikuti Kelas Musik


Apa yang Anda pikirkan tentang seseorang yang bermain alat musik? Jika pemikiranku dulu saat masih TK- SMP anak yang bisa bermain musik itu pintar dan keren, dan tentu saja dari ekonomi yang berlimpah. Aku akhirnya mendapatkan kesempatan kelas musik pertama saat SMA di bulan November 2014, aku mengambil kelas violin populer. Aku sudah ujian 2x selama 2 tahun (Grade 13 dan 12). Aku juga mendapatkan kesempatan ensambel di sekolahku pada upacara 17 agustus. Tentu saja aku bangga meskipun ada suka dukanya.

Kelas pertama aku sama dengan anak kelas pemula lainnya, diajarkan memegang bow dan menahan violin, aku kesulitan membaca not balok juga, namun aku berlatih terus hingga pada pertemuan ketiga aku bisa memainkan 4 lagu (tiap lagu 30 detik hingga 1 menit). Sayangnya pada bulan ketiga aku les, guru mengalami pergantian. Ternyata aku selama ini keliru belajar memegang bow maupun menahan violin, bahkan ternyata lagu terakhir yang aku mainkan adalah lagu ujian. FYI aku tidak bermain tenuto-stacatto,slur, bahkan arpegio dan scale pun tidak. Aku hanya bermain biasa.
Aku merasa tersiksa oleh guru baruku. Guru baruku mengalami distress karena seluruh murid yang diajarkan guru lama keliru semua. Stres semakin meningkat saat ada murid kelas 1 SD kerjaanya guyon, tidak mau serius, dan tentu saja guruku menembus suara ngomelnya. Aku akhirnya memahami bahwa jika murid sebelumnya sudah bandel menguras tenaga, dan aku (di jam terakhir mengajar) juga tidak paham maka semakin menjadilah ngomelnya.

Cara mengatasinya?
Cara mengatasinya dengan cara menyogok dengan kue. Kebetulan aku ada jadwal kelas memasak di sekolah, maka kuenya aku berikan ke guru tersebut terus menerus. Ajaibnya aku pernah membuat kue bantet, jadi bubuk dari tepung yang tidak merata dan juga (tidak matang) terasa seperti kue dengan kelapa parut. Jika dibilang aku sudah gila memberi orang lain jajan buruk bahkan tampak seperti (meracun), toh semua orang yang memakan kue tersebut masih hidup, tidak sakit perut juga, malah berterima kasih sudah diberi incipan kue (ganjal perut). Namun usaha tersebut bukan satu-satunya penurun distres, ada pula cara lain. Cara lain yaitu dengan latian di depan kelas (bukan di dalam kelas, didalam kelas ada murid lain), biar sok latian tampak bisa/ kemajuan, tapi teknik ini juga manjur untuk aku tidak mendengar suara ngomel guruku.

Sebenarnya aku tidak betah dengan guru tersebut, aku ingin berhenti main musik, namun ada 1 hal yang membuat aku bertahan yaitu guru tersebut sangat besar kompensasinya pada anak-anak yang UN, misalnya diperbolehkan absen (dapat ganti jam pertemuan lebih fleksibel, padahal seharusnya tidak). Aku pernah cemburu pada anak-anak UN, mereka bisa absen sering, gurunya juga tidak ngomel parah jika tidak fokus. Saat aku mencoba bertahan sampai level aku UN, benar nyatanya bahwa aku bisa absen sesering yang aku mau (misal dalam 3 bulan aku absen 2x, padahal tidak ada keperluan apapun). Aku juga pernah ribut karena ada anak yang UN dan orang tuanya dosen, jam dosen disana agak kaku, jadi aku dipaksa untuk ganti jam. Akupun dengan berat hati memberikan jam tersebut, ternyata hal yang membuat aku bahagia adalah murid tersebut sering absen dadakan, terlambat banyak (jatah les 30 menit, terlambat 15 menit), sehingga akhirnya aku kembali di jam sebelumnya.

Perkara ensambel?
Ensambel aku dapat tawaran dari guru sosiologiku. Beliau menjadi penanggung jawab bagian paduan suara, entah kenapa tiba-tiba aku mendapatkan penawaran tersebut. Mungkin karena aku sering membawa violin di kelas.Lagunya seingatku berjudul SIMFONI RAYA dan cukup enak. Saat hari H aku sangat excited karena bisa bermain didepan anak banyak (peserta saat itu staff sekolah dan siswa-siswi SMP-SMA).

Pernahkah Anda mendengar acara Cancer Awareness, aku pernah mengisi acara tersebut. Seingatku di acara sana orang tua peserta diberikan kursi duduk juga, saat itu di mall CW. Kebetulan keluargaku bisa menjawab pertanyaan, dan mendapatkan voucher sekitar 300 ribu untuk belanja di toko fashion ternama di mall tersebut.

Sayangnya aku hanya lanjut les hingga akhir semester pertama kuliah. Hal ini disebabkan orang tuaku terlalu sering menunggak, aku malu, kebetulan juga aku mendapatkan kelas paling malam. Aku sempat berhenti hingga 1 tahun, dan lanjut lagi selama 2 bulan kemudian berhenti lagi. Alasanku bukan karena tunggakan, namun guru yang tidak cocok buatku, terlalu banyak mengobrol, bahkan les yang seharusnya ditambahkan durasi, tidak ditambahkan. Perkara waktu les yang mestinya diberi tambahan, namun tidak ditambahkan dan perilaku guru lainnya, jika ditempat lesku sebelumnya bisa dibicarakan dengan counter (sebagai teguran ataupun penyampaian klaim), namun jika guru tidak berubah maka orang tua bisa melapor ke kantor pusat (Akhirnya gurunya di PHK). Hal ini terjadi pada guru pertama violinku, dan menjadi penyebab aku ganti guru. Sayangnya di tempat kursus baruku secara birokrasi bagiku masih belum jelas. Akupun sedang mencari tempat kursus lain saat ini…

Minimal aku pernah merasakan di masa remaja menjadi anak yang populer dibidang musik di lingkup sekolah, aku juga pernah merasakan bagaimana ensambel.

 

bersambung……..

Surabaya, 2 Februari 2019

Sebut saja Namaku Mawar

 

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.