Cerita Mawar #part 16 menjadi Teman yang Berkualitas


Aku menemukan sesuatu yang mencengangkan dalam minggu ini (21-2-2019). Kejadian mencengangkan mulai dari pertemanan, hubungan konseling, hingga topik perkuliah, serta dosen yang konon agak horor di mata kakak tingkat. Mari kita mullai dengan pikiran yang mengganggu diriku terlebih dahulu…

Entah kenapa sejak hari sabtu minggu lalu. Entah mengapa aku jadi menangis dan bersedih sangat lama ya sekitar 30 menit, dan entah kenapa juga aku tiba-tiba terbesit untuk menjadikan pemikiran dan emosiku dalam bentuk gambar, pada waktu itu aku menggambar HTP. Setelah itu aku mengirimkan gambar ini pada seseorang yang sedang dekat denganku, beliau berkata padaku makna dari gambar tersebut sama dengan makna Prapaskah, dan juga aku mendapatkan pesan singkat yang sangat menenangkan aku seketika itu juga. Pesan tersebut berisikan bahwa apapun pilihanku adalah baik adanya, tidak ada yang salah. Pilihlah sesuatu yang baru, dan ambil pengalaman serta terima konsukuensi, dengan syarat aku mesti siap dahulu, jika belum siap maka perlu persiapan terlebih dahulu.

Setelah itu aku mendapatkan tautan dari sosial media mengenai teknik mengolah shadow agar batin jadi tenang. Ternyata beberapa hal dalam penjelasan teknik tersebut sudah aku lakukan selama 1 bulan, meskipun hasilnya belum signifikan.

Aku juga kaget ketika ada kabar dari dosen waliku bahwa bu kamboja terus mencari kabar dariku. Bagi bu Kamboja aku hilang kabar (tidak chat lagi dengan beliau), padahal kami masih chat saat Imlek dan 1 kali mengenai pertanyaan dariku, bagiku ini bukan artinya hilang kabar, hanya aku memang sengaja tidak mau menghubungi beliau dengan dalih aku terganggu dengan pertanyaan yang diajukan. Pertanyaan itu membuat aku distress hingga menangis tidak jelas dan jadilah HTP.

Entah mengapa pikiran liarku berupa bu Kamboja ingin dapat kabar mengenai permasalahan ketika kami diskusikan saat bertemu, perkataan dosen waliku muncul lagi di telingaku seperti perkataan berikut :

“Mawar ingatlah bahwa pemberian paling berharga adalah “waktu.” Bu Kamboja itu sayang (peduli) sama kamu, beliau itu mikirin kamu. Bu Kamboja lo tanya mengenai dirimu kepadaku, bagaimana kabar Mawar di kampus?”

Ya intinya itu adalah hal yang sangat luar biasa bagiku terutama dalam konteks pendampingan psikologis, aku sendiri bingung apa karena kasusku yang mengancam reputasi namaku dan pihak terkait, apa karena aku ini “bodoh” (skill- knowledge kurang).

Pemikiran lain yang muncul adalah entah mengapa setelah aku menggambar HTP, aku terus membayangkan tiap tokoh di gambar tersebut, terlebih saat aku bermain dengan keponakanku. Pada gambar HTP tersebut dikisahkan ada komplotan NAPZA yang tertangkap oleh pihak perlindungan masyarakat di markas mereka, pada komplotan tersebut ada yang ditembak oleh salah satu aparat perlindungan. Aku saat itu sedang tidak di lokasi tersebut (Markas yang juga tempat tinggalku).

Aku pada saat sebelum peristiwa tersebut mendapatkan tanggung jawab mengurus 2 anak salah satu komplotan. Aku biasanya menitipkan mereka ke RPA (rumah penitipan anak), namun saat peristiwa itu berlangsung, aku langsung jemput paksa keponakanku untuk aku bawa ke rumahku sendiri (rumah pribadi). Didalam RPA ada salah satu teman dekatku yang tahu kejadian itu, menangis posisi jongkok di depan tembok dekat pintu masuk.

Pada dunia realita perkuliahan, aku menemukan kasus pengkhiatan yang cukup menyakitkan buat temanku (namun aku bisa merasakan sakitnya). Jadi ada anak angkatan 2016 yang cuti 1 tahun dan memulai perkuliahan bersama angkatanku 2017. Temanku ini sudah memiliki relasi yang lebih baik dari relasiku dengan bukti memiliki group chat jalan-jalan sekaligus group kerja tugas.

Yang aku tahu kerapuhannya adalah gosip (agresi verbal tipe tidak langsung seingatku). Penghianatan terjadi ketika pendaftaran kelas perkuliahan salah satu temanku ini sebut saja Delingu tiba-tiba beda kelas dengan teman-teman satu groupnya. Ia hanya seorang diri tanpa groupnya pada 1 matakuliah yang cukup momok untuk bagian kerjasama, namanya adalah Metodologi Penelitian Kuantitatif.

Temanku Delingu ini mengira bahwa akan 1 kelompok denganku, ternyata tidak. Delingu kuantitatif hanya 3 anggota dalam 1 kelompok, dan sudah diprediksikan bahwa ada 1 anggota yang sejenis numpang nama, kontribusi super minim intinya. Ia pun memutuskan untuk tidak hadir ke kelas tersebut.

Salah satu anggota grup kuantitatif Delingu menanyakan alasan Gelingu absen, jawaban Delingu adalah, malas, aku mau ulang saja tahun depan. Saat suatu kali aku bertemu dengan salah satu teman dari group chat Delingu, teman Delingu berkata bahwa itu akibat dari Delingu agak kurang kontribusi, sebagai akibatnya ia menanggung tidak satu kelas dengan teman group chatnya.

Dari sinilah aku semakin takut bila kurang kontribusi dalam kelompok, takut diperlakukan demikian. Aku sangat bersyukur bahwa akhirnya aku bisa memiliki teman dekat berkualitas, tanpa group chat untuk jalan-jalan yang notabene tipiskan dompet alias teman dekatku ini kaum celengan. Aku berusaha untuk menjadi teman yang berkualitas dalam konteks beri kontribusi cukup di kelompok, ikut bergabung saat kerja kelompok, bantu cari literatur.

bersambung……..

Surabaya, 21 Februari 2019

Sebut saja Namaku Mawar

*Tulisan di atas merupakan proses konseling lanjutan. Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.