Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku


Kapan terakhir anda merasa disalahpahami? Kapan terakhir anda merasa sangat frustrasi karena usaha yang selama ini anda lakukan untuk berubah menjadi lebih baik sepertinya tidak ada artinya? Kata-kata atau niat baik yang keluar itu terus disalahartikan oleh orang lain dan menjadi senjata yang diarahkan kembali ke aku karena ujung-ujungnya kata-kataku itu dipakai sebagai alasan untuk menolak melakukan apa yang aku katakan.

Frustrasi itu perlahan berubah menjadi kecewa, sakit hati, sedih, menyalahkan diri sendiri, dan akhirnya berakhir pada kekosongan. Menyalahkan diri sendiri terjadi karena aku merasa terus membawa keluar hal-hal negatif dari orang lain. Sedih jadinya. Kok suasana tidak bisa berubah menjadi lebih baik? Kenapa suram terus? Kenapa aku gagal terus dalam proses perjalananku memperbaiki diri sendiri? Dalam sekejap, semua upaya yang sudah aku lakukan selama ini untuk perbaikan diri lenyap begitu saja. Runtuh. Mungkin malah hilang. Dalam sekejap.

Konsep diriku, ternyata…sebenarnya konsep diriku sendiri itu aku baru sadar kalau sangat lemah. Karena beginilah yang terjadi saat aku jatuh, kondisiku, pemikiranku penuh dengan serba negatif. Susah buatku untuk bangkit lagi, dan yang sering terjadi adalah aku menyalahkan diriku karena terus mengakibatkan kekecewaan pada diriku dan orang lain. Aku salah ngomong, atau dipersepsikan mengatakan hal yang tidak tepat oleh orang lain, dan masukan itu seperti tamparan buatku. Salah lagi, salah lagi, suatu pesan yang akrab bagiku. Hantu dari masa lalu.

Padahal saat itu aku tidak berniat untuk membuat orang lain marah atau tidak senang, dan itu yang membuatku sangat frustrasi. Yang lebih menyakitkan lagi, aku yang kemudian disalahkan. Semuanya akhirnya kembali lagi ke aku karena kata-kataku dipersepsikan sebagai sebuah tuntutan, karena ternyata ada yang salah di caraku berbicara atau memilih kata-kata. Sampai akhirnya orang yang aku ajak bicara menolak melakukan apa yang aku tawarkan karena caraku berbicara itu. Oh, ternyata aku perlu berkaca lebih sering dan lama karena rupanya aku itu seorang penuntut.

Mungkin kalian para pembaca akan mengatakan, “yah salahmu sendiri kenapa harus berpikiran begitu, kalau memang tidak merasa demikian yah kenapa dipikirkan?” Di sinilah mungkin dimana aku berbeda dengan banyak orang lain. Kecenderunganku adalah berpaling ke dalam, mengecam yang di dalam, walaupun aku sebenarnya marah kepada orang lain juga, tapi aku cuma bisa mengarahkan kemarahanku ke dalam. Yah ada yang bilang ini bentuk pemikiran “playing victim”, dan bahkan aku sudah beberapa kali dikatakan langsung demikian oleh beberapa orang. Baiklah.

Mengatakan seseorang “playing victim” itu samakah dengan konsep “blaming victim”?

Ah entahlah. Yang aku tahu, aku perlu memulai dari bawah lagi. Mendaki lagi. Mencari lagi konsep diriku yang pernah dikatakan oleh orang lain sebagai seorang yang kuat. Halah. Kalian tahu apa? Tahukah kalian kalau image yang muncul berulang-ulang di benakku saat di tengah-tengah frustrasi itu adalah bagian ujung runcingnya sebuah pisau atau gunting di kulitku dan cucuran liquid merah yang keluar? Dan image itu terus menemaniku selama berjam-jam sesudah aku tenang pun. Aku juga waktu itu tahu dimana letak gunting terdekat denganku. Ada tarikan terus menuju ke image itu tapi juga ada ketakutan.

Maka, yah inilah saya (yang katanya beberapa orang ‘mahir’ bermain sebagai victim). Baiklah. Makasih.

 

Tanpa Nama
6 Maret 2019

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

4 tanggapan untuk “Ungkapan Jujur Hati, Anggap Ini Sebagai Terapi Menulis ku”

  1. Kalau di tes kepribadian EPPS, ada skor untuk Abasement, yaitu kecenderungan menyalahkan atau merendahkan diri sendiri. Ini bawaan ‘nurture’, dipengaruhi faktor pendidikan juga. Dan semakin sering disalahkan, orang dengan skor Abasement tinggi akan semakin percaya bahwa mereka salah, bahkan sebagai suatu entitas yang hidup. Memang ini fungsinya psikologi komunitas, supaya secara kelompok orang bisa saling membantu kesehatan mental satu sama lain.

    Suka

  2. Pendekatan lain dapat juga dicoba, dengan menggantikan :

    …..merasa disalahkan,…

    dengan

    …pemahaman bahwa ..”CARA ku melakukan kurang tepat, sehingga tidak mendapatkan TUJUAN, yang aku harapkan.

    ..dengan demikian maka fokusnya pada CARA, yang perlu dikembangkan, dilatih lagi, sehingga semakin mahir. Aku sebagai pribadi yang tumbuh, akan belajar, menemukan kemampuan terbaik, sebuah proses belajar tanpa akhir.

    Suka

  3. Mari kita analisa kasus di atas;

    ” ya,….Salahmu, sendiri…….dst”
    Kata (diksi) utama dari tulisan diatas adalah “Salah”, Menurut Tahap Perkembangan Moral Kohlberg,(https://id.wikipedia.org/wiki/Tahap_perkembangan_moral_Kohlberg), itu berada pada tingkat I, yang biasa terjadi pada usia anak-anak. Besar kemungkinan pengalaman “perasaan disalahkan” itu muncul pertama kali saat masih kanak-kanak.

    Apabila dapat ditemukan peristiwa tersebut, dapat dilakukan “rekonstruksi” ulang, (didramakan lagi di Psikodrama) dan dilakukan pengamatan dari berbagai sudut pandang. Sudut pandang, Orang Tua, apa maksud dan tujuan jangka pendek dan jangka panjang orang tua bertindak waktu itu, analisa juga cara orang tua melakukan itu, dan mencoba memahaminya. Perlu dilihat lagi dari sudut pandang anak sendiri, berdasar tingkat kemampuan pemahaman seorang anak, kesempatan anak membela diri (kemampuan yang terbatas) menjelaskan situasinya, frustasinya,…kesemuanya diterima sebagai situasi yang “mau tidak mau” diterima Anak. Selanjutnya dengan teknik mirroring, peristiwa tersebut dilihat secara keseluruhan dari sudut pandang Pribadi yang dewasa sekarang.

    Dengan menerima kesemuanya itu, dalam diri yang dewasa pastilah ada makna lain (selain merasa disalahkan), dan hikmat yang dapat diambil, sehingga peristiwa yang awalnya dapat disebut sebagai trauma masa lalu menjadi pengalaman batin (kenangan/memori emosi) yang dapat dipakai untuk menjadi lebih empati bila bertemu dengan orang lain. Dan dapat digunakan untuk mulai berdamai dengan orang-tua, serta mulai lebih berdamai dengan diri sendiri.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.