Terapi Menulis juga ; Nyanyian Iri Dengki ku


Suatu hari, entah kapan itu,aku pernah mendengar bahwa Iri itu katanya boleh, untuk dua hal ; satu bila kita iri terhadap orang kaya yang menggunakan kekayaannya untuk berjuang di jalan kebaikan, kedua iri terhadap orang pintar yang menggunakan kepintarannya untuk mengajari orang. Atau semacam itulah.

Iri melihat kekayaan orang tanpa melihat orang nya. Beda fokus kalee ya? Iri melihat orang pintar sambil ga melihat apa yang dilakukannya, salah sasaran juga. Setidaknya inilah yang ada dalam benakku. Sebenarnya aku ini iri dengan apa? Sangat tidak elok mengatakannya. Pengakuan ini memalukan tetapi sepertinya memang ada iri dalam diriku terhadap hal-hal sepele yang ga penting. Iri melihat kerukunan orang dengan keluarganya. Iri melihat orang pinter masak, iri melihat orang lain pinter bicara, iri orang lain pinter menulis dan bisa membuat buku, bisa kuliah lagi, iri orang lain bisa berbuat baik dll. Apakah ini masuk iri yang boleh dalam arti sesuatu yang baik?

Bila iri ini karena menilai diri lebih rendah berarti rasa ini senilai dengan merendahkan diri sendiri? Atau tidak bersyukur? Ooh rasa mungkin juga tidak puas. Kurang berpuas dirikah aku? Seperti ku bilang lagi, mungkin ini hal-hal sepele. Apa perlunya iri karena orang lain pinter masak misalnya. Memang sih menyenangkan bisa memasak, tapi kalau terus sibuk dan tak ada yang memakan hasil masakannya juga buat apa ya? Ooh mungkin bisa disumbangkan. Ya tapi ga perlu harus masak sendiri kan? Ya sudah. Beli saja terus cari yang enak. Beres.

Apa aku iri dengan kerukunan orang? Apa iya mereka rukun? Mungkin saja, mungkin tidak. Keluargaku rukun juga. Ya kadang-kadang ribut. Apakah salah? Ku kira seperti sepatu kiri dan kanan saja, ga mungkin bentrok dengan sepatu yang dipakai kaki orang lain. Kalau bentrok dengan orang lain pasti masalah bisa serius tapi bila dengan pasangannya, weleh weleh.. wajar saja lah. Namanya hidup. Kenapa aku harus iri bila orang lain “terlihat rukun” . karena aku mendambakan kebaikan bagi keluargaku. Ok. That’s nice .

Aku iri dengan orang yang pinter bicara, mungkin dia bicara tiap hari. Sebenarnya aku bawel dan susah berhenti kalau bicara. Apa yang salah? Mungkin sesuatu terkait isinya? Forumnya? Perhatiannya? Apapun itu kukira ga terlalu penting. Aku ingin di dengarkan? Atau apa ya? Aku bisa ngomong kapan saja, dalam bentuk apa saja, tulisan, penjelasan laporan, menulis laporan, parenting , apa saja. Fokus pada manfaat mungkin lebih penting daripada ngomong doang. Aah… mungkin aku lebih butuh membaca dan menulis. Jangan-jangan sudah kebanyakan ngomong tapi tak ada isinya.

Aku bernyanyi tentang iri dalam diriku. Apa yang patut aku iri ? sepertinya semua terlalu wajar saja bagiku. Sebenarnya aku merasa orang lain atau beberapa orang lain melihatku dengan iri. Eh ini beda lagi ya? Apa aku melihat sesuatu dengan kebanggaan sepihak? Sebenarnya apa pula yang perlu diirikan dari diriku? Atau aku merasa tak nyaman bila orang melihatku dengan ekspresi takjub? Atau aku kegeeran? Atau aku yang kurang penghargaan lalu mengimajinasikan orang memberiku penghargaan? Wah wah.. ternyata sulit juga menemukan dimanakan iri bersembunyi dalam diri. Mungkin dia bersembunyi dalam kata-kataku sendiri.

*seorang teman pembelajar tanpa akhir

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

4 tanggapan untuk “Terapi Menulis juga ; Nyanyian Iri Dengki ku”

  1. Setuju.

    Aku juga pernah merasa iri seperti itu. Kadang juga membandingkan diri dengan orang lain yang menurutku lebih beruntung dariku. Tapi, setelah mencoba menelaah lebih dalam lagi, mungkin aku harusnya lebih banyak bersyukur. Berpikir lagi, iri boleh, tapi tidak untuk tak bersyukur. Dan yang menjadi pedoman, Tuhan memberikan satu kesulitan, tuhan juga memberi kebahagiaan lain. Bagaimana kita memanfaatkan segala situasinya saja, ya, pak?

    Suka

  2. Rasa iri dengki, muncul dari membandingkan diri dengan orang lain. Boleh jadi di masa kecilnya sering dibandingkan dengan orang lain, coba temukan pengalaman itu di masa kanak-kanak. Jika dapat menemukan bahwa itu dari orang tua, maka sekarang sudah jadi orang tua, belajar dari kesalahan itu. Tidak melakukan perbandingan dalam mendidik anak, dengan berlatih dari diri sendiri, membiasakan untuk tidak membandingkan diri dengan orang lain.

    Daripada membandingkan diri, lebih baik temukan keunikan diri sendiri, kembangkan dan optimalkan. Tiap Pribadi memiliki kelebihan dan kekurangan masing masing. Mengenal diri akan mampu mengenal dunia, kata Socrates. Begitu pun nanti dalam mendidik anak, bantu anak menemukan keunikan nya, dan bantu tumbuh kembang berdasar keunikannya tersebut.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.