Memaknai Kebahagiaan  


Sejujurnya saya masih belum tahu persis apa makna bahagia. Setiap orang sangat subjektif dan berhak bahagia oleh karena alasan2 apapun. Dari mulai hal yang ideal sampai sepele seperti merasakan angin segar saat bangun di pagi hari.

Bagi saya sendiri, menemukan kebahagiaan adalah sebuah perjalanan hidup itu sendiri. Layaknya sebuah perjalanan, sering saya  mampir dan tergoda oleh sesuatu  di pinggir jalan kehidupan saya untuk menikmati suatu hal yang sesungguhnya hanya sesaat. Sama saja seperti kita sedang menuju suatu tempat, di perjalanan-katakanlah dalam kendaraan atau kereta api menuju suatu kota-  kadang kita bertemu dengan keindahan-keindahan dan kenikmatan yang sebenarnya belumlah menjadi tujuan akhir dari  perjalanan itu sendiri.

Mungkin kita menemukan kawan perjalanan yang mengasyikkan dan kita terlena dalam obrolan dan menemukan kebahagiaan, namun saat dia pergi atau sampai pada tujuannya sendiri, kita menyadari bahwa kebahagian itu juga pergi. Mungkin kita tergoda dengan makanan yang dijajakan penjual di lorong kereta namun hanya sesaat mengganjal perut ketika lapar tiba.

Demikian juga, barangkali ada kelucuan dari penumpang anak-anak yang membuat kita tertawa dan riang bersamanya tetapi saat si kanak-kanak tidur, kita pun ikut mengantuk dan merasa kembali lelah karena tertawa. Bahkan kadang kita merasa bahagia saat mampu pergi menempuh perjalanan itu sendiri, apalagi bila kendaraannya pesawat firstclass menuju objek wisata yang memiliki prestise sendiri, tampaknya suatu hal yang memang patut di rayakan. Namun saat kita kembali ke rumah, maka hilang juga rasa bahagia itu. Bagi saya, perjalanan  itu adalah hidup saat ini dan bahagia di dalamnya hanya episode singkat diantara episode lainnya. Mungkin saja ada sedih, derita, cemburu dan marah, yang memberi warna yang juga indah sehingga dengan hadirnya episode buruk pun bahkan kita menjadi tahu apa makna bahagia.

Bukankan kita tahu ada cahaya terang, saat kita melihatnya dalam gelap??

Saya kadang-kadang tidak merasa benar-benar bahagia oleh karena apapun yang mungkin sebelumnya dapat berbahagia. Sebut saja makan makanan termahal dan terenak di restoran termahal di kota. Mungkin hanya sesaat ketika mengunyah dan menelannya. Apakah besok lusa akan menjadi bahagia lagi saat menyantap makanan yang sama. Saya sudah pernah mencobanya. Dan saya tak merasa hal itu sebagai sebuah keistimewaan yang patut dirayakan apalagi dibanggakan, tidak pula membuat bahagia.

Apakah dengan memakai baju bagus atau memiliki sesuatu keahlian yang tidak dimiliki orang lain lalu memiliki karir keren dan dihormati menjadi  bahagia? adakah memiliki anak banyak yang lucu, cerdas dll membuat bahagia? . apakah bahagia ada saat sudah memiliki suami ganteng, kaya pinter dan mengasyikkan saat bercinta dll, ataukah bisa berbagi dengan sesama baik ilmu, uang, waktu atau apapun yang saya kira itu milik saya? Apakah dengan  bisa beribadah pada Tuhan.. ya benar sekali semua itu sumber kebahagiaan dan pernah membuat bahagia. Tapi apakah itu bahagia yang saya cari dan menjamin selamanya?  Saya mencari alasan dan suatu hal pertanda  konkrit yang mampu membimbing saya menemukan bahagia. Mungkin memang itu salah besar.

Apakah bahagia ada dalam dunia abstrak dan spiritual ?

Kadang saya merasa terkurung dalam penderitaan menempuh perjalanan hidup ini dan tidak menemukan hakekat bahagia yang saya cari seperti yang di iming-imingi dalam kitab suci.

Saya pernah menemukan pengalaman bahagia dan kedalaman spiritual dalam rasa sakit yang tak pernah saya rasakan lagi selama hidup saya. Namun apakah saya harus menyakiti diri sendiri  sehingga saya bisa bahagia?

Tentu saja seharusnya bahagia datang saat kita bersujud pada Tuhan, namun bila sujud itu di sertai rasa bangga atau sekedar menunaikan aktivitas rutin, rasanya tak jua bahagia sejati itu ada.

Saya bahkan pernah menemukan bahagia dan rasa dekat dengan Allah saat saya belajar praktek suatu teknik terapi. Namun pengulangan tidak menghasilkan efek yang sama dan saya  tak menemukan jejak nya kembali.

Ada banyak teori dan cara membuat orang bahagia. Tetapi sesungguhnya tak memberikan jaminan bahwa rasa itu ada selamanya. Sesaat kemudian orang akan menemukan episode lain yang tidak selalu membahagiakan. Inilah hidup.

Bagi saya makna bahagia ada tatkala kita menjalani proses  hidup itu sendiri dan berakhir dengan bahagia abadi di penghujung perjalanan hidup ini. Saya belajar bahagia pada klien yang datang ke ruang praktek saya. Klien yang datang pada saya umumnya membawa penderitaan dalam perjalanan hidupnya, walaupun hanya karena sebab kebuntuan sepele yang tak mampu mereka hindari, lalu pulang dengan kebahagiaan yang juga sebenarnya sepele dalam hidup yang sesungguhnya memang  sederhana namun begitu rumit kita pahami.

Ada  orang yang memiliki segala sesuatunya yang layak dan patut untuk dapat hidup bahagia, seperti karir tinggi, kehidupan yang layak namun tak bahagia, meskipun setelah mereka mampu memahami hidupnya itu, mereka menyadari bahwa mereka menyingkirkan bahagia dalam hidupnya karena hatinya terisi oleh  kemarahan dan emosi negatif yang tidak mungkin bersatu dengan rasa bahagia yang mereka dambakan.

Ada suami yang tak juga mampu membahagiakan istri yang dicintainya, dan menemukan dirinya terkurung dalam teori bahagia yang mereka definisikan dalam keluarga. Bahagia tak bisa dihadirkan dengan syarat dan ketentuan berlaku. Bahagia ada dalam penerimaan pada hidup yang dianugrahkan apa adanya. Bahagia adalah rasa positif yang tak bisa berada bersama dalam hati yang berisi unsur lain yang negatif. Rumah bahagia ada dalam hati, dia tak bisa masuk ke dalam hati bila di dalamnya ada penghuni lain yang tidak seirama dan senada dengan rasa bahagia itu sendiri.

Bagi saya setiap proses perjalanan ini memberi warna bagi kebahagiaan saya, sekaligus penderitaan karena kerinduan pada warna kebahagiaan yang abadi yang sesungguhnya sedang saya tuju di akhir perjalanan saya ini. Akankah saya temukan? Saya pun tidak tahu.

Tetapi saya bersyukur bahwa Allah SWT memberikan saya kesempatan mencicipi setiap tetes rasa bahagia yang sesaat ini dalam perjalanan ini. Saya hanya selalu berusaha untuk menjalani perjalanan ini dalam rasa harap dan cemas, semoga kiranya kebahagiaan yang amat sangat banyak yang pernah saya cicipi ini akan benar-benar saya miliki secara utuh di akhir perjalanan. Hiks.

Oleh: Iip Fariha

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.