Terapi Menulis Juga, Psikodrama dalam Soliloquy ku


Pernah dengar lagu kehidupan yang dinyanyikan Ahmad Albar?. Kira-kira syairnya begini; Dunia ini… panggung sandiwara, ceritanya .. mudah berubah. Ada peran wajar, ada peran berpura-pura… mengapa kita bersandiwara… mengapa kita bersandiwara…..Dunia ini penuh peranan….dunia ini jembatan kehidupan. Mengapa kita ….. bersandiwara….

Sebenarnya aku gak hapal lagu itu, tapi beberapa kata dalam bait itu terngiang begitu saja, dan aku juga tidak tahu apakah benar atau tidak syair yang aku nyanyikan. Intinya saja Aku membayangkan tentang dunia sebagai panggung tempat manusia bersandiwara. Lagu ini dulu dan sekarang memberikan makna yang terus berubah. Ketika masih  remaja, aku merenungkan kalimat -mengapa kita bersandiwara?- sebab aku mempersepsi manusia itu seringkali tidak genuine yaitu ketika aku bertemu kawan yang berpura-pura baik atau pandai bersilat lidah untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Aku menganggap dia sedang bersandiwara dan aku tidak suka. Aku melihat orang dewasa menyembunyikan dirinya dalam perilaku yang dirancang untuk tujuan tertentu dan mereka kuanggap sedang berpura-pura, berbohong atau menipu. Dan aku bertanya dalam hati, kenapa orang bermain sandiwara, kenapa berpura-pura?. Tidak kah seharusnya manusia bersikap apa adanya? Mengapa mereka berperan pura-pura, mengapa tidak berperan yang wajar sebagai dirinya sendiri?

Kelak ketika aku belajar agama dan menemukan terminologi munafik untuk orang yang bermuka dua, lalu aku merasa orang yang tidak ‘apa adanya’ sebagai sikap kemunafikan. Meskipun tentu saja pengertian ini tidak tepat. Karena kata munafik memiliki konteks yang lebih dalam mengenai keyakinan atau belief system.

Sebelumnya aku sangat kecewa bila menemukan hal seperti itu dalam lingkaran pengaruh hidupku. Dan aku akan mengatakan bahwa mereka telah berbohong, menipu dan bersikap munafik. Mereka bukanlah diri mereka. Apakah sesederhana itu? Nyatanya hidup memang panggung tempat orang berperan sebagai seseorang. Seseorang  akan berprilaku tertentu sesuai dengan perannya.  Ya. Kita sedang bersandiwara dalam panggung kehidupan dan kita sedang memainkan peran kita. Entah peran apa yang tepat bagi kita dan apakah kita seorang pemain yang baik atau tidak dalam memainkan peran tersebut. Anggap saja memang peran itu sulit atau kita belum berlatih memainkan peran tersebut.  Ini bukan soal diri yang wajar atau kepura-puraan.

Kemudian hari seiring waktu dan usia, ketika aku mulai ikut menonton pertunjukan politik,  aku melihat orang-orang yang menjadi tokoh melakukan tindakan yang menurutku tidak genuine. Untuk apa mereka beralih dari satu sikap ke sikap lain, mengapa ketika posisi mereka berubah, peran mereka berganti lalu sikap mereka berubah. Itulah panggung sandiwara politik. Aku tidak ingin menghakimi, kecewa ataupun kaget, tapi aku tetap bertanya. Apakah mereka salah? Mereka hanya memainkan perannya. Walaupun anda kecewa melihatnya. Mungkin inilah panggung sandiwara dunia dan jembatan kehidupan itu. Anda dan aku bisa jadi apa saja. Kita adalah seorang anak, orang tua, seorang guru, seorang pengusaha, psikolog, polisi atau mungkin seorang pemain sandiwara TV.

Suatu hari ketika aku belajar innerchild,dan tehnik Psikodrama dari Kang Asep Khairul Gani juga dari Pak Mario. Aku semakin menyadari bahwa memang dunia ini sekedar panggung tempat kita bersandiwara. Aku menyadari bahwa setiap manusia memiliki banyak mini personality, mereka di dalam diri kita berpikir dan berasa dan bertindak sesuai dengan situasinya. Mungkin seperti dalam psikodrama, kita memiliki peran dan memainkan peran, kita berasa dan berpikir dalam peran-peran itu. Peran kita juga bukan hanya satu tetapi banyak. Dan  aku mulai menyadari betapa banyak peran yang aku mainkan dengan cara yang tidak selalu baik atau memuaskan diriku ataupun menyenangkan penonton. Jadi Ini bukan soal genuine atau berpura-pura. Ku anggap saja ini soal bagaimana kita memakai topeng yang tepat saat memainkan peran di panggung.

Bila kita berpsikodrama, kita bisa saja memilih atau dipilihkan topeng dan harus memainkan peran apapun. Dan kita belajar tentang kehidupan didalamnya. Dalam realitas, aku dan kamu,  kita tidak selalu memainkan drama kehidupan kita yang sesungguhnya dengan mulus. Bila di tonton sebagai sebuah pertunjukan, rasanya penonton akan mengeluh kecewa atau setidaknya berharap agar kita berlatih ulang untuk memainkan peran dengan baik sehingga panggung kehidupan ini menjadi indah di lihat. Tetapi apakah kehidupan mengharuskan panggung yang indah? Dan apakah aku harus memuaskan penonton? Maaf kalau ternyata mengecewakan, karena jawabannya,Ternyata tidak juga.

Aku tertarik dengan psikodrama dan menggunakan teknik ini untuk membantu klienku di klinik. Namun  tulisan Ini hanyalah solikuiku bagaimana aku memaknakan peranku dalam dunia sandiwaraku dan psikodrama telah membantuku menolong orang dan diriku sendiri.

Seperti ketika hari itu aku bermain drama dengan Mas Didik, -mentorku yg lain dalam psikodrama. ,”Mari kita mainkan,” demikian Mas Didik selalu percaya diri. Mainkan yang lain dari biasanya, beranilah mencoba dan tidak ada yang salah dalam apapun yang kita lakukan, semakin banyak salah, semakin banyak kita belajar. Saya menyebut ini sebagai fase belajar kehidupan. Saya merasakannya, dan saya sedang belajar merasa. Rasa itu di feeling, bukan thingking, begitulah Mas Didik selalu mengingatkan.

Saya memainkan satu episode yang saya rasa sangat kuat berakar pada masa laluku, apakah ada innerchild ku yang masih luka dan belum pernah diberi ruang? Beranilah menjadi akar, walau kau dibawah, sebab akar adalah penopang pohonmu. Apakah Aku telah berpura-pura berperan menjadi akar yang kuat tetapi mungkin aku tak bisa menopang batangku yang kupaksa harus kuat? Atau aku tak berani menatap ke bawah melihat ke kedalaman diri atau masa laluku yang ingin ku kubur? Semua orang memilikinya. Bagiku semuanya bisa saja terjadi, akupun siap mengeksplorasi.

Hari itu,  bahasa gesture dan verbalisasi apapun ku serap untuk memaknai dramaku.

Aku bahkah tak tahu sudah sampai mana aku melangkah dalam drama ini. Tetapi kehidupan ini mengajariku banyak hal, bertumbuh seperti pohon, berani berperan dan berbagi dengan orang lain dalam kehidupan. Seperti pohon yang tumbuh kuat dan daun-daunnya rimbun, dia dapat menjadi peneduh, bila dia berbuah maka buahnyapun dapat bermanfaat bagi makhluk Tuhan lain yang lapar. Dan tentu saja kita bisa bicara satu buku sendiri tentang apa itu pohon, kenapa pohon ini begitu penting banget. Kamu harus tahu pohon selain di sukai burung dan psikolog. Kitab suci mengutip pohon sebagai perumpamaan.

Jadi Kamu pohon apa? “demikian pertanyaannya. sebut saja biarpun ngawur. Tak apa kita salah, kita sedang belajar. Begitulah jawaban standar Mas Didik.

Mari kita menjadi tokoh utama dalam drama kita. Kamu semua adalah tokoh utama dalam hidupmu. Kamu boleh jadi pohon, jadi ranting, daun, akar, lampu yang menempel pada pohon dll.itu makna yang selalu saja terasa baru. Dalam psikodrama, kamu bisa jadi apa saja. Aku berpsikodrama dan belajar menjadi pohon. Pohon apapun kamu, jadilah dirimu. Genuine itu menyenangkan, janganlah berpura-pura. Walaupun peranmu berubah, mainkanlah peranmu dengan baik. Itulah makna lain yang selalu saja perlu dikuatkan.

Suatu hari bila aku diminta menjadi pohon, aku tak keberatan menjadi apapun. aku akan katakan pohon apapun itu, tak masalah. Tapi dalam batinku, aku kini tahu aku sedang membangun pohon Tauhid. Apalah itu… ? lain kali saja kita bahas.

Kita kini sedang bermain drama. Drama dalam hidup kita tidaklah seluruhnya indah, ada saja peran yang kita mainkan walaupun kita tak suka. tapi kita sudah diberi topeng untuk manggung dan beraksi. Bahkan walaupun kamu tahu peranmu, belum tentu kamu sanggup beraksi dengan baik dan benar. Beranilah melakukannya, belajarlah dari kesalahan. Ini semua adalah nasehat bagi diriku. Akulah pemain sandiwara. Sandiwara kehidupan ini. Dan berkat kehidupanku ini,  aku kembali ingin berterima kasih pada guru-guru kehidupanku.. semuanya!!. Tak mungkin ku sebutkan disini, terlalu banyak!!.

Kalian selalu ada dalam doaku. Semoga kalian lulus dalam drama hidup kalian!!

 

Medio Maret 2019

Seorang teman pembelajar tanpa akhir.

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.