Terapi Menulis #06 Menemui Psikiater


oleh : Ayati Rini

Dua hari yang lalu, untuk pertama kalinya saya duduk di bangku itu. Di hadapan saya, sebuah papan bertuliskan sebuah nama tertempel pada dinding berwarna hijau, kalau tak salah. Nama pada papan itu disertai gelar dokter spesialis kesehatan jiwa. Ya, ini adalah kali pertama saya menemui psikiater. Saya memberanikan diri mengambil langkah ini menimbang rekomendasi psikolog yang saat ini saya percaya, kondisi keuangan pribadi yang saya rasa cukup, kondisi pribadi, dan riwayat keluarga saya.

Saya telah sering merasa cemas, gelisah, resah, atau apapun semacam itu dalam waktu yang mungkin cukup panjang. Dalam satu tahun terakhir, saya kerap melukai diri saya sendiri. Di dalam kurun waktu tersebut, ada kalanya saya intens mengiris lengan atau anggota tubuh lainnya, memukulkan kepala saya ke dinding, dan mencekik leher saya sendiri. Namun, ada pula waktu ketika saya berhasil menghentikan diri sendiri melakukan itu, tepatnya dua kali, namun bertahan sekitar sebulan. Selain melukai diri sendiri, ada masa dimana saya menyeret diri saya sendiri untuk menjauhi orang-orang, termasuk orang-orang terdekat saya agar saya menderita. Saat seretan itu gagal, saya mendorong diri saya sendiri untuk bunuh diri. Akan tetapi, keinginan bunuh diri itu ditahan oleh rasa takut saya pada sakitnya proses menuju kematian.

Saya menyadari bahwa saya kerap merasa resah. Dulu, saya menuangkan keresahan itu ke dalam lukisan, musik, atau tulisan. Jika ada kesempatan, terkadang saya juga mengekspresikannya ke dalam seni peran atau sekadar membaca puisi di depan cermin. Saya memang terobsesi pada karya. Sayangnya, dalam beberapa bulan terakhir, gairah saya untuk berkarya meluruh. Saya enggan melakukan apapun dan hanya menyelesaikan tanggung jawab demi tanggung jawab.

Kecemasan saya teramplifikasi begitu kuat pada saat kembali ke Yogyakarta setelah melakukan Kerja Praktik di luar provinsi. Memang, keinginan bunuh diri itu menguat saat saya di luar provinsi. Beruntungnya, keinginan itu bisa saya redam karena saya tidak mau merepotkan lingkungan yang saya tumpangi. Saya “hanya” menangis hampir setiap malam, terkadang mencekik diri sendiri, namun tidak sampai melakukan cutting. Kalau tidak salah, pada saat itulah saya mulai merasakan adanya getaran di tenggorokan saya ketika cemas. Lama-kelamaan, getaran di leher merembet menjadi sakit kepala. Dahi saya terasa menegang, otot-otot di tangan terasa ingin berkontraksi. Kadang, saya menggetarkan tubuh saya atau melakukan hal-hal repetitif untuk menyalurkan ketidaktenangan anggota tubuh saya. Saya mulai semakin sulit mengendalikan tubuh maupun pikiran saya.

Malam hari adalah waktu yang paling sering memunculkan pikiran-pikiran yang akhirnya membawa saya pada kecemasan. Biasanya, pada saat cemas, arus informasi yang ada di kepala saya mengalir serta timbul dan tenggelam dengan frekuensi yang begitu cepat, sampai-sampai saya kebingungan sendiri. Arus informasi itu biasanya adalah apa yang ada di hadapan saya (terutama yang saya lihat dan dengar), ingatan tentang peristiwa yang membuat tidak nyaman (misalnya peristiwa yang membuat saya merasa bersalah), ataupun imajinasi skenario perusakan diri. Pada mulanya, saya akan berperang dengan diri saya sendiri, sebab keinginan untuk “sadar” dan keinginan untuk “mengambil alih kesadaran untuk merusak diri” seringkali cukup sama kuatnya. Bagaimanapun juga, kedua keinginan itu berasal dari dalam diri saya sendiri.

Lama-kelamaan, kecemasan saya muncul bukan hanya pada saat malam hari atau ada pemicu tertentu (biasanya pemicunya adalah munculnya seseorang yang saya takuti, adanya masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari, atau munculnya pertanyaan yang sulit saya jawab). Kecemasan itu bisa muncul di siang hari, termasuk pada saat saya melakukan aktivitas harian—dan itu cukup mengganggu diri saya yang ingin menyelesaikan tanggung jawab harian saya dengan baik. Selain cemas, terkadang saya juga merasa panik. Pertama, saya bisa panik jika pada saat dalam keadaan cemas, ada impuls mendadak. Misalnya, saya sedang cemas, sehingga menangis dan menggetarkan anggota tubuh saya di dalam kamar yang gelap. Lalu, tiba-tiba ada cahaya dari luar jendela. Saya bisa sangat terkejut, panik, merasakan detak jantung yang begitu kencang, hampir memekik, takut yang sangat dalam, dan merasa “kesemutan”. Kondisi panik lainnya yang pernah saya rasakan adalah ketika saya menghadapi perubahan situasi di luar diri saya yang terjadi begitu cepat. Informasi perubahan situasi itu seperti bergema di kepala saya, muncul sebagai frasa atau gambar yang timbul-tenggelam berulang kali.

Kecemasan itu sering muncul dalam bentuk “ucapan”, sehingga tidak jarang saya menyebut dorongan tersebut sebagai “dia”, seolah-olah ada sosok lain di dalam diri saya. Sebetulnya, kecenderungan “membagi diri menjadi dua” ini telah saya lakukan sejak masih SMP. Pada satu waktu ketika masih SMP, saya pernah mengalami konflik batin yang cukup berat. Saya lupa sebab dan kasusnya seperti apa, yang saya ingat, saya menuangkan percakapan di kepala saya ke dalam tulisan. Persis seperti naskah drama yang berisi dialog antara dua orang. Pada saat awal berkuliah, saya juga mulai mengalami perubahan. Saya yang dulu adalah sosok yang sangat penurut dan penuh keingintahuan tetapi masih bisa menahan diri. Lama-kelamaan, sisi pemberontak saya semakin kuat. Saya membagi diri saya sebagai dua sosok dengan karakter yang bertentangan: penurut dan pemberontak. Setelah dua tahun, barulah kedua sosok itu hilang; melebur menjadi satu, terpadu dalam aku. Saat ini, ada dua sosok di dalam diri saya: pemimpi (dalam konteks cita-cita/harapan) dan penghancur. Saya rasa, saya sebetulnya punya harapan, yaitu ilmu pengetahuan dan karya yang ingin saya buat. Namun, saya juga punya sisi yang sangat ingin menghancurkan diri saya sendiri.

Oleh psikolog, saya mencoba mengisi alat tes untuk menunjukkan taraf depresi. Hasilnya, saya memiliki skor yang berada pada indeks depresi sedang. Artinya, bisa saja saya sudah membutuhkan intervensi obat. Itulah sebabnya, saya akhirnya memutuskan untuk menemui psikiater. Selain itu, saya tahu persis bahwa beberapa anggota keluarga saya memang mengalami skizophrenia. Setahu saya, penyebab skizophrenia memang masih belum diketahui pastinya, sehingga bukan tidak mungkin, faktor genetika juga mempengaruhi. Siapa yang tahu saya akhirnya bagaimana.

Sejujurnya saya cukup merasa kecewa karena pertemuan saya dengan psikiater amat singkat, tak sampai 10 menit. Rupanya, psikiater yang saya temui memang diantre oleh pasien yang begitu banyak, karena beliau banyak menangani kasus kecanduan narkotika. Maka, saya tidak bisa berkonsultasi dengan rileks dan beliau pun tidak menjabarkan atau memberikan saran yang saya rasa cukup membantu. Beliau memberikan resep obat untuk diminum selama 15 hari. Obat antidepresan di sore hari dan penenang di pagi hari.

Terhitung sampai hari ini, saya sudah minum 3 tablet obat antidepresan dan 2 tablet obat penenang. Saya merasa sangat janggal. Ada waktu-waktu tertentu dimana rasanya pikiran ini ingin menimbulkan rasa cemas atau panik seperti biasanya, tetapi dorongan itu hanya muncul sebagai pulsa yang tidak begitu kuat, lalu tidak diikuti aliran informasi yang deras sebagaimana biasanya. Informasi mengalir dengan kecepatan seperti biasa, tidak timbul-tenggelam begitu cepat, dan kepala saya tidak terasa sakit. Saya juga tidak merasa “dia” mengintai saya sebagaimana hari-hari sebelumnya. Saya pikir, “dia” seperti teredam dan tidak dapat saya deteksi. Saya pikir, saya akan lega karena dalam beberapa minggu silam, saya memang mengharap ada obat atau semacamnya yang bisa saya konsumsi pada saat “dia” mengganggu aktivitas saya. Nyatanya, saya merasa janggal. Saya merasa seperti ada sesuatu yang hilang dari dalam diri saya. Sesuatu yang juga adalah saya.

Kalau saya ditanya: apakah itu berarti Anda ingin kembali “kumat”? Merasa cemas dan panik terus-menerus? Merasa takut pada hal-hal yang sebetulnya hanya tertulis di skenario yang Anda bayangkan?

Jawabannya, saya belum tahu. Hari-hari dengan obat memang terasa lebih “ringan”. Saya bisa beraktivitas lebih lancar tanpa terganggu perasaan cemas, panik, atau takut. Namun, saya memang merasa janggal dan aneh saat ini. Entah mengapa.

 

(Yogyakarta, Maret 2019)

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.