Kala Psikolog ber Gosip, Apakah dapat menjadi sebuah Refleksi Profesional ?


Hari ini kami bergosip. Kami duduk melingkar ditemani teh hangat dan beragam cemilan ala grup arisan. Diantara tumpukan berkas dan buku-buku referensi, makanan itu seperti obat penenang bagi yang mulai pening kepala. Sebab ini bukan grup guyon dan gosip entertain biasa yang menyenangkan. Bukan sembarang gosip karena kepo atau mencari-cari urusan dalam negeri orang lain. Walaupun ada kesamaannya dengan gosip guyon dalam hal bahwa kami juga bisa ngakak sampai menangis miris. Sebab ini memang gosip diantara kawan-kawan profesional dalam rangka membahas kasus klinis yang serius. Ini bedah kasus di meja bundar di pandu profesor handal kebanggaan kami. Agak merinding mendengarnya, karena pembicaraan berisi kepahitan hidup dan dinamika manusia yang sedang berjuang untuk menjadi utuh dan sehat mental.

Sesungguhnya saya juga manusia yang bisa berada dalam posisi menghadapi masalah seperti klien kami. Tetapi ini memang menyangkut bagaimana kami para psikolog mengerahkan seluruh kemampuan kami untuk membantu proses pertumbuhan klien. Karena suatu program intervensi dibuat berdasarkan kebutuhan klien, maka kami perlu tahu apa yang terjadi dengan kehidupan mereka, apa resources yang mereka punya, apa daya dukung dan daya tolak untuk membuat mereka bergerak dengan kemampuan yang ada sehingga berubah lebih baik.

Terapi artinya belajar. Kami terapis juga pelaku yang ikut belajar. Saya menganggap proses konseling dan terapi sebagai proses bertumbuh bersama dan menemukan makna-makna baru kehidupan. Mungkin ada sebagian orang yang kepo dengan cara dan pilihan hidup anda, bila itu memberikan konstribusi positif bagi yang bersangkutan, saya rasa masih layak untuk menjadi cara belajar bagi yang bersangkutan. Cara belajar dengan meniru dan mengambil hikmah dari pengalaman hidup orang lain. Anggap saja dia sedang melakukan terapi bagi dirinya sendiri. Selama tidak terlalu jauh menjadi kegiatan gosip tanpa arah dan hanya berakhir dengan sindiran, hujatan, iri dengki dan segala hal yang justru membuat hidup anda malah lebih runyam. Bila itu terjadi pada anda, anda mungkin menganggapnya sebagai humor belaka, tapi saya punya humor lain soal gosip yang memberdayakan. Bergosiplah selagi anda mampu melihat objek gosip secara utuh dan lakukan bergantian. Dan kabari saya bila anda melakukannya dengan baik.

Saya bukan tipe kepo yang ingin tahu atau iseng mencari tahu. Klien datang atas dasar kepercayaan, dan kami memiliki kode etik menjaga rahasia orang untuk kepentingan kehormatan diri sebagai pribadi yang bermartabat. Sebagaimana kita dan semua orang ingin memiliki privacy, maka terlebih orang yang mengalami kesulitan dalam hidupnya sangatlah patut mendapatkan hak-hak nya untuk di lindungi. Ini tidak main-main karena untuk hal yang satu ini, kami di sumpah dan berjanji untuk menjaga etika profesi. Saya rasa dalam banyak profesi, pasti ada aturan soal kode etik juga bukan?. Jadi ini bukan soal baru dan aneh dalam wilayah kerja profesional.

Namun hari ini saya agak terganggu dengan tambahan iklan, semacam gosip bahwa ada tindakan yang dianggap kurang etik dan diduga dapat mengakibatkan kebocoran atau hilangnya privacy klien. Ah saya tidak akan menjelaskan detailnya. Biarlah kasus itu menjadi wilayah penegak kode etik dan saya juga tak ingin memberikan penghakiman pada rekan kerja yang bisa saja tidak memahami apa yang sesungguhnya terjadi. Terlebih bukan disini tempatnya untuk bergosip. Seperti biasa saya lebih senang untuk bicara tentang makna kejadian ini sebagai bagian dari pengalaman hidup yang perlu di renungkan.

Dalam keyakinan agama saya, ada kata-kata dari Nabi saw yang patut saya renungkan, jagalah rahasia saudaramu, maka Allah akan menjaga aibmu juga. Siapa yang ingin aibnya di singkap? Tentu saja tidak ada. Bahkan seorang public figure sekalipun akan tidak senang bila orang membicarakan dirinya, bagaimana dia tampil di publik, apalagi bila dia di gosipin.. terutama bila gosip itu berisi hal-hal negatif atau berimbas pada rasa dipermalukan di depan publik. Sekalipun ada upaya sengaja agar dirinya menjadi objek pembicaraan orang lain. Meskipun dengan demikian maka tujuannya untuk menjadi terkenal dapat tercapai dengan cepat.

Apakah anda pernah bergosip yang positif? Rasanya orang akan merasa aneh menggunakan istilah gosip untuk yang positif. Tetapi coba saja lakukan, bicarakanlah kawan dekat anda, keluarga anda dengan orang lain tetapi menyangkut semua hal yang positif dari diri mereka. Efeknya akan sangat dahsyat. Mereka akan berterima kasih dan pasti tercengang kala menyadari betapa dia dihargai dan menemukan sudut pandang yang berbeda dari yang dia ketahui tentang dirinya selama ini. Pertumbuhan positif darinya dapat melampaui melebihi feed back pelatihan melalui cara kritik dan saran pengembangan diri yang anda berikan. Memangnya kritik ada yang membangun?. Sesungguhnya kritik itu menjatuhkan, dan hampir tak ada orang mengkritik dengan kalimat, “ok kamu sangat baik! Tanpa di tambahkan dengan kalimat berikutnya,”…. Tapi kamu harus bla bla …” itu indikasi dari bahwa kamu tidak cukup baik atau kamu sebenarnya buruk, kecuali kamu melakukan apa yang saya katakan!. Apakah anda memilih menerima kritik ‘membangun’ atau anda akan belajar bergosif yang positif? Pilihan terserah pada anda.

Kembali pada gosip kami, gosip yang sedang kami lakukan ini tidaklah mengupas tuntas kehidupan orang tanpa tujuan memberikan arah pengembangan diri menuju pertumbuhan yang positif, tidak memberikan kritik walaupun itu disebutkan sebagai kritik membangun. Memahami hidup orang lain, memberikan saya suatu cermin besar tepat di muka saya sendiri atau sayalah cermin besar itu. Dimana saya melihat diri saya dalam situasi berhadapan dengan bayangan diri yang mungkin bisa kita sukai atau tidak. Sesungguhnya mereka datang pada saya sebagai sebuah contoh riil kehidupan yang patuh ditiru, di hindari, di modifikasi atau diterima begitu saja sebagai bagian dari kenyataan itu sendiri.

Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini, saya menyakini, Tuhan mengirimkan orang sebagai seseorang yang kami sebut klien, nyatanya dia menjadi agen Tuhan untuk mengajarkan pada kami bagaimana kami seharusnya berperilaku dalam hidup. Tak ada yang aneh bila kasus yang datang di meja klinik setiap konselor adalah PR besar bagi kehidupan klien sekaligus konselornya sendiri. Kami bertumbuh bersama. Bila anda menyangka psikolog tahu segalanya, anda salah besar. Bahkan andalah yang lebih tahu masalah anda sendiri sekaligus solusi yang dibutuhkan anda. Hanya saja anda perlu datang menemui cermin besar yang membuat anda melihat keseluruhan diri anda yang utuh dan anda belajar menerima itulah bayangan anda di sana yang harus anda sadari dan lalu anda ubah dengan kekuatan yang anda punya.

Bila terapisnya menggunakan teknik psikodrama dalam terapinya, maka anda adalah director dari drama yang sedang anda ciptakan. Anda juga seorang protagonis yang menjadi tokoh utama yang bertanggung jawab untuk memainkan peran apa yang akan anda mainkan dalam kehidupan anda sendiri.

Jadi kali ini, saya bergosip bukan tentang diri anda, tetapi tentang diri sendiri, sejauh mana kami mampu mencerminkan kehidupan yang tepat dan benar dalam konteks hubungan konselor dan klien. Sejauh mana saya memiliki sensitifitas untuk secara tepat memantulkan bayangan yang sesungguhnya sehingga orang yang bercermin di hadapan saya melihat dirinya secara akurat.

Saya sedang belajar bergosip tentang diri sendiri yang tampil dalam bentuk yang berbeda. Bisa jadi saya yang melakukan terapi atau saya sedang menterapi diri sendiri dengan segala resources yang saya punya sebagai seorang psikoterapis?

Saya rasa saya patut berterima kasih lebih dari sekedar bahwa anda sudah mau berbagi kisah hidup anda dan merelakannya kami bahas di meja bundar sidang para konselor. Bukan karena kasus anda menjadi bahan ujian kasus seorang psikoterapis. Tetapi bahwa gosip anda membuat kehidupan kami menjadi bertumbuh dan membaik. Tentu saja itu akan terjadi bila anda pun bertumbuh bersama kami.

Saya yakin anda setuju bila kita bertumbuh bersama, karena kita punya resources untuk itu. Ajarkan kami tentang bagaimana kami semakin sensitif dan mampu menjadi cermin kehidupan, dan tentang bagaimana anda sanggup sejauh ini menghadapi kesulitan dan drama hidup anda yang menjadi bagian dari diri anda selama ini. Ijinkan pula kami bergosip untuk membuat hidup kita lebih baik.

 

Bandung, Medio Maret 2019

Psikolog pembelajar tanpa akhir

 

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.