Seseorang Tidak Bisa Mencintai bila Tidak Pernah Dicintai, karena Hanya Rasa yang Mampu Menyentuh Rasa


Kata orang, seseorang tak bisa mencintai bila tak pernah di cintai. Ku rasa ini terlalu ekstrim ya. Sepertinya sulit menemukan fakta bahwa seseorang tak pernah mendapatkan cinta. Hanya saja cinta itu apa, seperti apa rasanya bagi seseorang tentu sangatlah subjektif. Jenis cinta pun sepertinya beragam, tetapi aku tak ingin membahas teori cinta atau pun bernostalgia soal cinta. Cinta itu rasa, itu saja. Biarlah setiap orang memaknakannya dengan cara nya masing-masing.

Aku sedang bercerita cinta karena teringat suatu peristiwa penting dalam hidupku. Seseorang pernah memberiku suatu pengalaman yang kuat secara emosional, aku tak tahu apa maknanya. Apakah perhatian, kasih, cinta, respek atau pun suatu gelora syahwat. Yang jelas aku tahu ada rasa campur aduk dalam diriku yang tidak bisa kupahami. Anak muda sekarang menyebutnya galau. Walaupun galau namun ku tahu bahwa itu suatu rasa yang bisa berubah dan mungkin bisa menghilang kembali, tetapi bisa sangat berharga untuk ku jaga dalam pengalaman yang mengalau kan itu.

Ini bukan kisah jatuh cinta anak muda atau eksperimen jomblo mencari mantan. Bukan cinta monyet atau gorilla tua. Aku merasa warna cinta yang dikemas dengan penuh sikap respek dan penerimaan yang tulus. Baiklah lebih baik kubelajar memahaminya saja. Ada intensitas perilaku yang serius dan berulang.

Apakah semacam ambisi atau orientasi pada hasil? Eh kenapa seperti mengejar target ya? Hemmm.. aku merasa kejutan dan perhatian yang tepat pada waktunya? Ahaa… bukankah seseorang bila menginginkan sesuatu juga berpikir dan berusaha untuk lebih kreatif. Maksudku mencari cara-cara baru untuk mengejar impiannya. Tetapi kenapa seperti sebuah perlombaan atau perjuangan? Apakah memang seseorang mampu melakukan apapun bila dia mencintai? Seperti kata-kata “cintailah apa yang kau lakukan, lakukan apapun yang kau cintai?”

Sesungguhnya ini rasa dan bukan untuk ku pikirkan. Aku merasakan hal itu. Entahlah, apakah seseorang perlu berpikir dulu saat bertindak? Atau cukup rasakan saja dan lakukan apa yang dia rasa baik dan benar. Apakah kau pun memikirkan sesuatu ? misalnya saat kau membaca tulisan aneh ini? Atau cukup kau rasakan dan cintai saja dan berikan cintamu sehingga kau sanggup membaca tulisan ini sampai tuntas.

Beberapa waktu aku merasakan hampir perasaan yang sama. Ada kesamaan dalam beberapa setting. Tak berani kuakui bahwa itu pengalaman yang mirip. Tetapi aku tahu ada penghargaan yang mengingatkanku untuk selalu mengenang sikap respek kawan lamaku itu.

Apakah aku menyukainya?

Maksudku menyukai sikap itu, rasa itu? Tentu saja orang menyukai sikap positif, dan aku tahu ini hal yang baik. Namun ada suatu galau yang lain yang ternyata baru kusadari kini. Ketika aku menjadi sensitif untuk menerima kebaikan orang lain. Apakah aku curiga bahwa orang tidak tulus memberi dan aku tak percaya bahwa aku di cintai?

Apakah aku termasuk orang yang tak merasa mampu mencintai karena merasa tak pernah di cintai atau tak cukup dicintai. Ataukah aku curiga diriku tak pernah terbuka untuk dicintai dan memberikan cinta? Betapa rumitnya cinta ini.

Aku pernah merasa betapa pedihnya ditinggalkan seseorang yang kurasa kucintai sehingga aku belajar untuk menjaga jarak agar aku tak jatuh cinta. Aku tak ingin melukai orang yang kucinta saat suatu hari mungkin aku pergi, atau ternyata harus berpisah atau mungkin akan kutinggalkan, karenanya aku tak perlu mendekatinya. Barangkali itulah coping strategy ku ketika menghadapi yang di cinta.

Kenapa kesadaran ini begitu menyakitkan bagiku?

Aku bukanlah jomblo mencari cinta atau anak monyet yang sedang baper karena di sakiti mantan. Aku sudah cukup tua untuk memahami rahasia cinta seseorang. Aku memahami betapa kasih Tuhan pada manusia juga tak terbantahkan. Aku pun merindukan dan meminta pada-Nya setiap saat. Aku sedang merasa dan rasa itu hadir di sini dan kini. Aku sedang memahami cara semesta mengalirkan cinta yang berkelimpahan namun luput ku cerap dalam raga dan asaku padahal kudamba dalam doa dan harapku.

Apa itu sebenarnya cinta?

Mengapa aku gagal merasa bahwa ia hadir dimana-mana? Mengapa orang begitu mudah menyatakan cinta namun banyak hati terluka karena kehilangan cinta pula. Bila isi qolbumu penuh dengan cinta maka tak mungkin ada rasa lain yang mampu menggesernya. Bila kau geser cinta dengan rasa lain entah cemburu, marah, atau pun curiga. Maka cinta enggan bertahta di hatimu.

Apakah aku pemuja cinta saat ini? Seorang kawan baik mengajariku bagaimana menerima apa adanya rasa dalam diri yang rapuh. Mungkin hati ini belum belajar bagaimana mencintai tanpa syarat itu tidak selalu indah tetapi memberikannya memberi kesempatan untuk menerima lebih banyak lagi cinta.

Kini aku baper maxi bagai anak muda galau karena di tinggal mantan. Aku tahu aku takut cinta meninggalkanku. Aku tak sanggup menerima terlalu banyak cinta karena aku tahu aku akan mabuk. Aku menangis kini bila cinta itu kadang melukaiku.

Mungkin kau juga mau belajar sepertiku bagaimana menerima cinta ini sekaligus sakit karena terlalu cinta. Untuk semua yang kucintai, dalam hidup dan kehidupanku.

Terima kasih cinta.

19 Maret 2019
Teman pembelajar “belajar cinta” tanpa akhir

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.