Menangislah Jika Itu Dianggap Penyelesaian


Terinspirasi oleh lagu Iwan Fals “Nyanyian Jiwa” yang menemani malam malam di Kampus jaman kuliah dulu. Mengapa kami begitu suka dengan lagu ini, selain karena lagu ini mampu mewakili kegelisahan kami waktu itu, saya berkeyakinan bahwa Pemilihan kata Menangis, tentu memiliki makna yang istimewa bagi pencipta lagu tersebut.

&&&&

Nyanyian jiwa bersayap menembus awan jingga
Mega-mega terberai diterjang halilintar
Mata hati bagai pisau merobek sangsi
Hari ini kutelan semua masa lalu
Biru, biru, biru, biruku
Hitam, hitam, hitam, hitamku
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Menjeritlah
Menjeritlah selagi bisa
Menangislah
Jika itu dianggap penyelesaian
Biru, biru, biru, biruku
Hitam, hitam, hitam, hitamku
Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hati haruslah diasah
&&&&

Sementara banyak orang beranggapan bahwa menangis adalah ekspresi kelemahan, yang memalukan, sehingga menjadi sesuatu yang harus disembunyikan, atau bahkan dianggap sesuatu yang tidak boleh ada, tidak boleh nampak, tidak boleh muncul. Boleh jadi hal ini berasal dari anggapan bahwa Menangis adalah cara anak anak yang belum dapat mengungkapkan keinginannya dengan kata kata. Maka jika orang yang sudah dewasa menangis maka ia akan dianggap anak anak, tidak dewasa, lemah dan minta dikasihani.

Pada dasarnya tetap ada jiwa kanak-kanak dalam diri kita, yang tetap hidup, sebagai berikut: Menjadi spontan, mampu hidup di saat ini, terkonsentrasi, imajinatif, kreatif, bermain, menjadi gembira, mengalami keajaiban, kepercayaan, kesedihan, cinta, kejutan, dan harapan.

Sayangnya sering hal tersebut tidak dapat diungkapkan dengan kata kata (biasanya  karena pedih, getirnya atau sesuatu yang tidak ingin diingat lagi).  Meski pun sesungguhnya secara fisik, mimik, gesture,gerak tubuh, intonasi bicara,  tidak dapat menyembunyikan hal itu. Dan ini bereaksi dalam bawah sadar dari individu tersebut.

Psikodrama mengajak agar hal di bawah sadar itu disadari, salah satu pertanda bahwa sesuatu yang ada dalam bawah sadar mulai disadari adalah adanya air mata (menangis).

Dengan kata lain dapat juga dikatakan bahwa gejolak batin yang begitu besar yang selama ini jadi beban, sudah saatnya untuk dilepaskan, dan kata-kata tidak mampu dalam menggambarkannya, maka mewujud dalam air mata. Setelah disadari perlu waktu untuk mengolahnya dan belajar mengungkapkannya dengan kata-kata.

Terlihat pola  dari seseorang yang memiliki beban batin di alam bawah sadarnya, selaras dengan anak-anak yang tidak mampu mengungkapkan keinginannya, lalu diekspresikan dengan menangis. Respon yang tepat adalah memberi waktu dalam menangis, setelah cukup perlu segera menentukan sikap apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Dari pemaparan diatas, dapatlah disimpulkan bahwa menangis adalah salah satu cara untuk mengekpresikan diri. Menangis perlu dipahami bukan malah dihindari. Menangis adalah proses awal belajar bereksplorasi lebih mengenal diri dengan menangkap respon sekitar terhadap tangisan itu.

Jika individu sering mendapatkan respon negatif atas tangisannya, maka ia akan sering merasa berat dalam menjalani hidupnya. Sebaliknya jika ia sering mendapatkan respon positif ia akan mampu mengekspresikan dirinya dengan baik.

Menangis cukuplah dianggap sama dengan ekspresi emosi yang lain, seperti marah, dan tertawa. Menangis perlu diungkapkan dalam situasi dan kondisi yang tepat.

Jadi pernyataan teman yang mengatakan bahwa Pelatihan Psikodrama bertujuan untuk membuat menangis pesertanya. Pernyataan yang tidak sepenuhnya salah. Ya… dalam Proses Psikodrama menangis menjadi salah satu indikator yang saya pakai, bahwa individu tersebut sudah berani jujur pada dirinya sendiri.

Yogyakarta,  Maret 2019

Retmono Adi

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Menangislah Jika Itu Dianggap Penyelesaian”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.