Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis


Saya ingin menanggapi mengenai komentar Mas Didik di tulisanku sebelumnya yang berjudul “Ungkapan Jujur Hati”. Terima kasih atas masukannya. Selamat membaca. Semoga ada yang bisa didapatkan dan bermanfaat bagi yang membaca.

Memang benar, masa laluku dipenuhi dengan pesan-pesan antara “salah” dan “benar”. Tidak ada yang abu-abu. Sebagai anak kecil pun aku sudah dituntut untuk berperilaku yang benar, karena kalau tidak, ‘akan membawa malu bagi keluarga’.

Pemahamanku sewaktu masih kecil dijejali dengan masukan-masukan terkait kelakuan salah ini dan itu, dan sering masukan itu malah tanpa perlu kata-kata, misalnya cukup cubitan, tempeleng, atau pukulan di pantat, atau bisa juga bentuk masukan berupa kata-kata yang diiringi dengan suara memarahi dan nada suara tinggi.

Tapi masih ada lagi yang lebih mengena (baca: menyakiti), yaitu hukuman dalam bentuk didiamkan. Jangan pikir ini didiamkan untuk menciptakan hening yang menenangkan, tapi ini hening yang sengaja dilakukan sebagai bentuk hukuman. Dengan kata lain, tidak dihiraukan, tidak dipedulikan, tidak diajak ngomong dan kalau aku bertanya, tidak diberi jawaban. Mungkin ini yang paling menyakitkan dari semuanya.

Salah satu ingatanku yang secara detailnya sudah tidak aku ingat lagi, tapi masih jelas apa perasaanku saat itu. Waktu itu aku tahu aku sedang ‘didiamkan’ karena sebelumnya membuat sesuatu yang tidak disetujui oleh orangtua, dan waktu itu jam makan malam, perutku lapar. Saya akhirnya beranikan diri keluar dari kamar untuk melihat apakah ada makanan di meja, tapi tidak ada. Akhirnya saya bertanya mengenai makan malam, tapi tidak ada tanggapan. Jelas-jelas tidak ada tanggapan. Bahkan menoleh pun tidak. Aku sudah tidak ingat akhirnya apa yang terjadi sesudah itu, tapi aku cuma ingat bagian itu dan perasaanku yang sangat sangat hancur saat itu.

Aku malah sudah lupa apa yang aku lakukan sebelumnya sampai bisa sampai ke situ. Yah, memori seorang anak kecil bisa sebegitu kuatnya ya?

Aku malah waktu itu tidak sadar bahwa pengalamanku saat itu sudah mulai membentuk pola pemikiran yang masih aku tangani sampai sekarang.
Intinya adalah, kelakuan yang benar jarang sekali diberi perhatian, tapi suatu kesalahan kecil bisa menjadi besar.

Masa kecilku sering dipenuhi dengan kekwatiran bahwa aku akan membuat kesalahan. Setiap hal yang kulakukan selalu diawali dengan analisa apakah ini akan dinilai salah atau benar, apakah akan mendatangkan kemarahan dan reaksi-reaksi negatif bila ketahuan, dst.

Salah satu dosa yang pernah aku lakukan tapi tidak pernah ketahuan sampai sekarang adalah memalsukan tanda tangan salah satu orangtuaku (anggaplah yang tanda tangannya paling mudah ditiru) pada surat dari wali kelas (waktu itu kalau tidak salah kelas 4 SD) karena suatu hal yang terjadi di sekolah.

Waktu itu aku ketakutan sekali karena kalau orangtuaku membaca surat itu maka pasti akan terjadi kehebohan besar. Ketakutanku itu yang akhirnya menggiringku untuk memalsukan tanda tangan. Sampai bisa segitunya ya aku waktu itu?

Pada akhirnya aku terikut menilai orang lain dengan kacamata yang sama juga, salah atau benar. Pemikiranku terkungkung dalam jeruji penafsiran salah vs. benar. Anehnya, aku juga mendambakan kebebasan.

Waktu masih kecil sering iri terhadap kakakku atau teman-teman sebayaku yang laki-laki, karena pikirku mereka lebih bebas, bisa pulang rumah lebih malam waktu sudah usia remaja, sedangkan aku pernah pulang rumah jam 7 malam dari sekolah dengan teman tetangga naik becak dan itupun sudah mengundang kemarahan dari orangtua saya. Impian kebebasan pun merajalela di benakku – kebebasan untuk melakukan apa saja sekeinginanku, pergi ke mana saja, pindah/minggat ke tempat lain sendiri, sendiri, dll.

Skenario lari dari rumah itu sering aku imajinasikan. Lucu sekarang kalau membayangkan itu, betapa idealisnya aku, tapi skenario itu juga dipengaruhi oleh film-film dan cerita-cerita fiksi yang marak mengenai topik yang mirip saat itu, semacam romantisme lah gitu terkait remaja. Tapi yah, namanya juga dambaan atau impian, itu hanya semata-mata keinginan belaka. Di sudut hatiku, itu bukan aku.

Pemahaman salah dan benar tanpa aku sadari masih menjadi akar pergulatan pemikiranku sampai sekarang, belum bisa aku hilangkan. Berdasarkan masukan-masukan dari orang lain di sekitarku, aku kemudian belajar mengenai pola pemikiranku dan sudah berusaha mengolahnya. Tapi setiap pulang ke keluarga asalku, pola-pola perilaku yang sama masih aku dapatkan dan masih mempengaruhiku.

Aku sudah banyak mencoba melakukan self-healing sendiri juga dengan membaca, mengikuti kegiatan-kegiatan yang menuntunku ke arah perbaikan dan pertumbuhan diri dan penyembuhan luka-luka masa lalu. Akan tetapi, itu semua butuh waktu.

Aku tahu aku juga perlu melepaskan pemikiran-pemikiran lain yang juga mengekangku – salah satunya adalah pemikiran bahwa aku harus ‘sempurna’ dan menghilangkan semua ‘ketidaksempurnaan’ atau ‘kerapuhanku’.

Pola pemikiran yang satu ini juga sebenarnya seiring dengan pola pemikiran salah vs. benar. Keduanya kaku. Malah menurutku pola pemikiran menuntut kesempurnaan itu adalah anak dari pola pemikiran salah vs. benar.

Pola pemikiran kesempurnaan itu punya saudara, berarti juga anak dari pola pemikiran salah vs. benar, yaitu pola pemikiran menyalahkan diri sendiri.

Pesan-pesan terkait salah vs. benar yang dijejali sejak kecil itu tidak pernah diberi ruang untuk menganalisa sebab permasalahannya. Pesannya hanyalah menyalahkan tanpa tahu secara jelas sebabnya, sehingga sayang sungguh sayang, seorang anak kecil dengan pemikirannya yang sederhana hanya bisa akhirnya menyalahkan satu sisi saja, dirinya sendiri.

Tanpa Nama
25 Maret 2019

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar – Lanjutan Terapi Menulis”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.