Tanggapan Menelusuri Jejak Pikiran Salah vs Benar saat Kanak-kanak


Terkait pemikiran benar dan salah saat kanak-kanak atau mungkin menurutku bagi semua anak kecil memang menjadi satu-satunya acuan dalam berperilaku, anak-anak masih sederhana dalam kemampuan berpikirnya. Lagi pula satu-satu nya ukuran adalah norma keluarga yang direfepresentasikan oleh orang tua. Saat orang tua memiliki otoritas untuk menerapkan apa yang menurut mereka benar dan salah, maka sebagai anak kecil pun aku dan siapa pun mungkin akan menyakini itulah kebenaran dan kesalahan.

Aku merasa bahwa satu-satunya pilihan kita ketika anak-anak hanya mengikuti norma itu, walaupun ada ketakutan dan kesedihan akan hukuman sebagai konsekwensi yang diterapkan karena kita telah melanggar nya.

Semua anak kecil akan takut sepertimu dan aku pernah merasakan ketakutan di hadapan orang tua yang tentu saja memiliki “kekuatan” untuk menghukum.  Namun di balik ketakutan akan hukuman dan batasan atas perilaku benar dan salah itu sesungguhnya kita belajar untuk bertindak dengan tepat, terkendali sekaligus bertanggung jawab.

Itu memang berat. Mungkin orang tua mengharapkan anak-anak nya menjadi kuat dan teguh dalam pendirian. Walaupun tentu saja menyakitkan merasakan betapa hukuman fisik, nada suara tinggi apalagi diabaikan amatlah menyakitkan. Kesakitan itu membuat kita belajar juga agar hal yang salah tidak diulang kembali. Aku tahu itu karena aku merasakannya.

Aku memberi tanggapan sebagai diriku yang pernah mengalami masa kecil dan akupun pernah di hukum, takut dan aku tahu mana yang benar dan salah menurut orang tuaku kala aku kecil. walaupun hal tersebut boleh dipertanyakan kembali saat kini sudah dewasa.

Pengalaman menyakitkan tetaplah menyakitkan, walaupun kita tahu sesungguhnya orang tua melakukannya tidak dengan maksud menyakiti. Barangkali mereka juga belum pernah tahu atau belajar dari lingkungan bagaimana cara menghukum yang lebih ramah dan tidak menyakitkan anak-anak yang dicintainya. Aku merasakan itu saat aku sudah menjadi orang tua. Aku pun hanya belajar dari orang tua bagaimana mengasuh dan mendidik anak-anakku. Namun saat kesadaran masa kecil kita muncul, itu membuatku menyadari bahwa ada banyak hal yang bisa kita ubah. Kita punya contoh yang baik dari pengalaman buruk masa kecil itu.

Pengalaman inilah yang membuat hidup dewasa kita menjadi bertumbuh dan kita memiliki pilihan, Apakah harus sempurnakah hidup kita? (atau hidup bahagia ! )tentu saja dengan mengetahui bahwa siapapun bisa salah, kita menyadari bahwa hal itu sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Pilihan hidup kini ada di tangan kita sendiri.

 

Bandung, 26 Maret 2019

tanggapan dari Psikolog Pembelajar

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.