Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan


Apakah kamu siap memaafkan?

Pengampunan menuntut kita melepaskan kebutuhan kita untuk dikasihani, kebutuhan kita untuk menjadi benar, dan kebutuhan kita untuk merasakan hubungan yang intens dengan penyiksa kita melalui kemarahan.
Matt Kramer

Ini adalah kutipan dari buku forgiveness workbook karya Eillen Barker kiriman Mb Niki, seorang kawan yang baik hati padahal kami belum pernah bertemu. Kami sebenarnya bertemu dalam grup WA yang sedang membuat proyek pembuatan buku bahagia dengan memaafkan. Aku hanyalah salah satu kontributor dalam keriuhan pembuatan buku ini. Tentu saja kami riuh karena tema ini memang menukik ke dalam jantung problem kami sehari-hari. Setidaknya untuk Aku pribadi yang notabene pernah mengikuti workshop pemaafan, menerapkan teknik ini dalam ruang praktek. Dan tentu saja telah sempat berjuang untuk menerapkannya terlebih dulu bagi diri sendiri.

Namun setiap proses apapun yang Aku alami dalam hidup ini, Aku belajar untuk terus memposisikan diri sebagai pemula, pembelajar tanpa akhir. Akupun psikolog pembelajar tanpa akhir. Tak ada kata tuntas untuk melakukan sesuatu yang selalu baru dan tidak pernah ada akhir dari suatu proses belajar. Anda boleh selesai kuliah, tetapi anda baru belajar untuk memulai hidup baru pasca lulus, dan demikian seterusnya.

Apakah kita masih memiliki kebutuhan untuk memaafkan, ketika kita pernah bisa memandu orang untuk memaafkan? Apakah kita sudah pasti menjadi sang pemaaf ketika kita sudah mampu menyusun sebuah buku panduan memaafkan dan meraih bahagia bersamanya? Kalimat pembuka ini mengingatkan kembali pada diriku sebagai pribadi untuk menengok diri dan kebutuhan pribadi akan pemaafan ini.

Aku perlu memulai dari titik nol. Ketika Aku perlu memberi maaf, pada saat yang sama Aku telah mendeteksi ada ketidak beresan, ketidak nyamanan, ketidak adilan atau pun mungkin sekedar ketidaksinkronan dalam realitas diri dan lingkungan.

Pemaafan pada akhirnya akan melahirkan kasih dan cinta pada sesama, lingkungan, situasi bahkan pada diri sendiri. Sehingga bahkan saat cinta hadir tak ada lagi yang perlu dimaafkan. Sebuah kondisi emosi positif yang menjadi salah satu sumber kebahagiaan hidup.

Namun bagaimana hal itu bisa terwujud, bila dalam diri masih terbersit kebutuhan?

Kebutuhan akan pemaafan memberikan isyarat lain seperti keinginan untuk dikasihani, keinginan untuk mendapatkan pengakuan atau pembenaran, bahkan mungkin kebutuhan tersakiti dengan terus terhubung dengan situasi atau kejadian yang dianggap merugikan. Menempatkan diri dalam posisi korban dan tak mampu memilah peran diri dan ikatan emosi negatif seperti rasa marah atau tak berdaya.

Tentu saja ini sebuah proses tanpa akhir. Karena proses pemaafan hanya berakhir saat hidup kita berakhir juga. Sedangkan problem akan selalu hadir selama kita hidup. Maafkanlah diri sendiri bahwa kebutuhan ini ternyata masih ada. Setidaknya bagiku sendiri, aku masih terus belajar memaafkan dan inilah kesempatannya untuk terus kembali ke titik dimana proses deteksi kebutuhan mulai diulang dan proses pengampunan berlangsung seperti siklus hidup itu sendiri.

Memaafkan bukan sekedar melepaskan emosi dan ingatan buruk tentang masa lalu, memaafkan terkait dengan keputusan untuk memilih hidup damai dengan diri sendiri dan terbebas dari perasaan terdzalimi.

Kemampuan memilah mana pelaku dan mana tindakan menjadi penting, karena pikiran sering menggeneralisir apapun yang dilakukan seseorang, ketika kita memberi label bagi yang bersangkutan sehingga kemarahan diarahkan pada pelaku sebagai sumber pembawa kerugian.

Sesungguhnya sudut pandang diri sebagai subjek yang merdeka, dapat memberikan respon emosional atau pun penilaian pada orang lain dengan cara yang merdeka pula.

Musuh bukanlah musuh kita, musuh memberikan kesempatan kita memerankan diri sebagai pribadi yang sabar dan pembawa perdamaian. Musuh sesungguhnya adalah kemarahan kita sendiri. Apakah kita terganggu dengan perbuatan musuh yang kita anggap durjana atau memberinya pengampunan dengan kasih sayang seorang pemenang? Tentu itu tidak mudah.

Walaupun para pemimpin dunia dan pahlawan pemaafan kita banyak yang memperlihatkan kecintaan tanpa batas atas perbuatan para musuh-musuhnya. Sebut saja mulai dari Mahatma Gandhi, para Nabi, para pahlawan dalam tema pemaafan atau bahkan seorang ibu yang kehilangan anak dan suaminya dalam tragedi New Zealand tempo hari. Kita punya banyak sekali role model. So apalagi yang kita tunggu??

Mereka bukan hanya memaafkan, tetapi mengasihi dan memberikan doa terbaik mereka. Kebaikan macam apa lagi yang lebih indah dari sebuah hati yang diliputi rasa cinta dan damai.

Entah kapan aku mendapatkan cinta dan damai itu. Setidaknya aku mulai dan terus memulai untuk mendapatkanya sepanjang hidupku.

Terima kasih untuk cinta dan pemaafan kawan-kawan grup pemaafan yang luar biasa. kalian semua patut berbahagia, karena menemukan cinta di dalam hati kalian. Bahkan ketika kita belum pernah bersentuh dan bertatap muka. Bravo!!!

Renungan malam, saat deadline naskah.
Maafkan lah!

Psikolog pembelajar tanpa akhir.

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Mari Hidup Bahagia dengan Memaafkan”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.