Terapi Menulis #07 Sang Penari, Lampu, dan Bayangannya


Oleh Ayati Rini

Seorang penari menggerakkan jemarinya satu demi satu, kemudian melentingkan kakinya di bawah sorot lampu putih. Sang penari tak sendirian, ia menari bersama bayangan yang ada di bawah kakinya. Ketika sang penari bergerak ke kanan, bayangan itu ikut bergerak ke kanan. Jika sang penari berputar, maka bayangan itu ikut berputar. Para penonton takjub melihat keharmonisan sang penari dengan bayangannya. Jika sang penari mampu tersenyum dan menampakkan ekspresi jiwanya melalui otot-otot wajahnya, sang bayangan dapat membesar dan mengerdil.

Sang penari terus menari meskipun tidak ada seorang pun yang menyaksikannya. Bahkan, musik telah mati sejak tadi. Apalah arti alunan musik jika sang penari dapat mendengarkan setiap degup jantungnya, suara napasnya, dan gesekan kakinya dengan lantai sebagai pengiring irama buatnya menari. Kadang ia memejam, kadang pula ia membuka mata. Ia tidak merasakan apapun: senang, sedih, takut, marah, terkejut, dan jijik. Ia menari karena ia adalah seorang penari.
Lama-kelamaan, lampu putih yang menyorotinya meredup. Bayangan sang penari mulai melebur dengan kegelapan di sekitarnya. Sang penari baru mulai merasa gugup; ia akan kehilangan sesuatu. Ia akan kehilangan pasangan yang selama ini mendampinginya ketika sedang menari. Ia semakin mempercepat tempo tariannya, mengekspresikan kegugupan dirinya. Bagaimanapun juga, lampu itu akan mati sebentar lagi dan ia tidak akan bisa menghentikannya. Sebab, sampai kapanpun, sang penari akan tetap menjadi penari. Ia bukanlah operator lampu yang dapat mengatur kapan lampu itu nyala, kapan lampu itu mati.
Tepat pada saat lampu itu mati, sang penari menghentikan gerakannya. Peluh keringat menetes sekejap, kemudian menguap dan melebur bersama udara. Sang bayangan tidak ada lagi, karena ia memang tidak pernah ada. Sang penari tak nampak lagi, meskipun sejak semula tidak ada yang menyaksikannya. Setelah beberapa detik berhenti menari, sang penari mulai menyentuhkan kedua telapak tangannya ke permukaan lantai yang dingin, mencoba mencari bayangan yang tersisa. Rupanya, ia menemukan bayangan itu dimana-mana. Sangat besar, memeluk dirinya setelah lampu telah mati. Sang penari mengangat tangannya dari lantai, kemudian merasakan kegelapan itu memeluknya.

Yogyakarta, 29 Maret 2019

* Dasar Pemikiran Terapi Menulis ini adalah  : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masa Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.