Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan


Apa yang harus aku lakukan dengan kekeringan ini?
Sampai kapan aku terus mencari dan menunggu?
Pesan apa yang perlu dipetik dari proses ini?
Entah mengapa tidak ada yang datang

Kering, kering, kering

Aku mengerti sekarang mengapa banyak penulis atau mereka yang masuk di bidang sastra terlihat berbeda, eksentrik, unik, kadang juga terlihat moody, berada di dunianya sendiri, dan seterusnya. Saya yakin banyak yang akan tidak setuju dengan pernyataanku ini, mohon maaf, tapi tidak ada niat dan maksud untuk menyinggung perasaan. Saya menyadari kalau pernyataan itu berdasarkan stereotipe, paham. Saya tidak tahu mengenai penulis di Indonesia, tapi saya pernah membaca sebelumnya dari hasil penelitian di barat yang menemukan hubungan positif antara kreativitas dan gangguan jiwa, apakah itu depresi, bipolar, dan lain-lain. Saya tidak ingin masuk terlalu mendetail mengenai ini karena saya kuatir ini bisa menimbulkan kesalahpahaman, padahal itu bukan maksud dari tulisan ini.

Intinya adalah, saya juga sudah pernah berada dalam posisi itu.ย  Tidak, saya tidak menyombongkan diri dengan mengatakan bahwa saya penulis berbakat, terkenal, karena saya sama sekali tidak seperti itu. Saya masih pemula sekali, berbakat pun mungkin tidak. Tapi saya pernah melalui suatu masa di mana secara aktif menulis hampir setiap hari di blog milikku yang sekarang sudah tidak saya lanjutkan lagi karena merasa chapter hidup itu sudah selesai. Yang saya ketahui hanyalah bahwa masa itu adalah masa paling kreatif dalam kegiatan menulisku, dan juga masa paling suram karena melawan depresi yang menggerogoti pemikiranku selama beberapa tahun. Banyak puisi yang aku hasilkan. Aku juga bisa menulis apa saja, bahkan mengenai hal-hal sehari-hari yang tidak ada artinya bisa aku tuliskan. Tapi sekali lagi, kuantitas tidak berarti kualitas ya, itu semua hanyalah ekspresi yang begitu mudahnya aku hasilkan tanpa usaha yang banyak. Jujur, ada bagian dari diriku yang merindukan fase itu sebenarnya.

Dalam blog ini pun tulisanku yang sebelum-sebelumnya mengalir lebih lancar daripada sekarang. Sepertinya pemikiran-pemikiran yang menjurus ke depresi waktu itu masih tersisa dan saat-saat seperti itu jari-jari sepertinya lebih mudah menari di atas tuts laptop. Suasana hati atau emosi menjadi suatu persamaan dari waktu sebelum-sebelumnya. Mungkin bisa dikatakan emosi lebih mengontrolku waktu itu dibanding sekarang. Emosiku saat ini entah kenapa terasa lebih terkontrol, tidak meraja-lela seperti dulu, apalagi setelah suatu kejadian lepas kendali yang saya alami sebulan yang lalu. Ada bagian dari keadaan itu yang membangunkanku dan membuatku banyak berpikir mengenai hidupku dan pilihan-pilihan yang selama ini aku lakukan. Setelah kejadian itu, aku merasa ada yang berubah dalam pemikiranku. Apakah kemudian ini yang menyebabkan aku menjadi lebih sulit untuk menulis? Itukah penyebabnya?

Tapi panggilan untuk menulis ini masih ada. Masih menggelisahkan, menggapai, mengusik ketenangan batinku. Lantas, aku perlu menulis apa? Apa yang perlu aku tulis? Apakah bila seseorang semakin stabil maka semakin sulit untuk berkreasi? Ah, aku tidak suka itu. Mengapa kreativitas harus dihubungkan dengan keadaan emosi?

Tapi memang aku perhatikan bahwa akhir-akhir ini aku lebih sering menikmati mengawasi orang lain, sekelilingku, dan sambil mengamati itu aku berimajinasi atau mencoba menaruh diriku di posisi orang itu, membayangkan bagaimana rasanya bila memiliki hidup yang seperti itu. Tapi semuanya di ranah pikiran, bukan perasaan. Tidak ada yang emosional yang aku rasakan. Semuanya akhir-akhir ini terasa biasa saja. Aku juga mengamati diriku sendiri dan akhir-akhir ini merasa tidak secepat dan sesering dulu dalam bereaksi. Lebih sering menunggu, diam, menahan diri. Aku coba perhatikan perasaan apa yang muncul, dan walaupun kadang masih ada perasaan jengkel, marah, dll, tapi kadang juga aku tidak merasakan apa-apa dalam diamku itu.

Kembali lagi ke menulis, aku jadi bertanya ke diriku sendiri, sebenarnya apa yang Tuhan ingin aku lakukan, tulis? Kalau sekarang aku sepertinya sudah tidak bisa lagi menghasilkan tulisan-tulisan seperti yang biasanya aku hasilkan sebelumnya, lantas apa yang harus aku tulis? Masak aku tulis yang begini-beginian terus? Ini bukan menulis. Ini curcol kepada pembaca. Aku rasa bukan hanya sampai di sini kemampuanku.

Aku ingin menulis mengenai hidup! Kehidupan! Menghargai kehidupan dan manusia!

N.B. Masih mencari…

3 April 2019

Tanpa Nama

*Silahkan menulis apa saja, boleh dengan nama samaran, dan nama orang-orang juga disamarkan. Dasar Teorinya : 7 Teknik Mengolah (Shadow) Sisi Gelap Diri untuk Penyembuhan Luka Batin Masaย Lalu

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Perihal Menulis, Mencoba BerBuah dalam Kekeringan”

  1. Aku merasa kreativitas menulis saat emosional sama spt buang angin. Dalam arti lepas dg cepat tanpa malu ataupun ragu.

    Menulis dg pertimbangan
    Membutuhkan proses memperhitungkan seperti mengunyah makanan sebelum di telan. Hasilnya kenyang .
    menulis dg kendali pikir memberi makan otak berpikir.

    Tapi kreativitas tdk bicara apakah hrs melepaskan emosi atau hrs mengendalikannya
    Kreativitas tdk melihat hasil produktivitas apalagi jumlah kuantitas ataupun kualitas.

    Seperti mana yg enak; perut kenyang atau plong kempes karn buang angin. Lebih krn proses mana yg akan kita jalani.

    Lagi pula kreativitas adalah soal originalitas. soal pilihan rasa, tergantung mana yg kita suka.

    Merasa nyaman dengan diri sendiri membutuhkan integrasi rasa, pikir dan tindakan. Kalau rasa hilang
    Sangat mungkin hatimu kering. Namun banyak pohon berbunga saat daunnya justru berguguran. Seperti sakura yg indah. Org tdk melihat nya pohon tanpa daun tetapi bunga indah sepenuh pohon.

    Kalau aku rasa aku ga butuh makan krn perutku sdh kembung dan tindakan ku perlu kupertimbangkan utk menahan diri. Mgn lbh baik kentut saja. Tulisan apapun memiliki makna. Walaupun sekedar curhat..

    Spt kentut.. tak peduli org tdk suka itu. Tapi semua org melakukannya utk kesejahteraan dirinya. Self care.
    ๐Ÿ’“

    Teman Pembelajar

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.