Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?


Aku merasa hal ini sepele, namun sulit untuk dilakukan. Kerapuhanku adalah aku terlalu mengingat peristiwa, terutama peristiwa buruk, aku juga kurang aktif menyampaikan pikiran dan perasaanku, kadang kala aku juga lemot mikir, aku juga rigid secara kognitif. Dampak dari kerapuhanku ini sudah jelas terlihat yaitu sulit menjalin relasi interpersonal. Aku menganggap bahwa memaafkan itu adalah kewajiban, bukan ketulusan hati mengakui kesalahan. Permasalahan ini akhirnya aku pendam bahkan dalam hitungan bulan bahkan mungkin sudah tahunan. Hingga suatu ketika :

(aku hanya memasukan bagian penting dan berkesan)

Di Gereja saat kotbah (kotbah saat itu bentuk diskusi):

Pendeta: Adakah diantara saudara yang memiliki musuh?

Jemaat: diam

Pendeta: rasa sakit akibat disakiti itu dimana si?

Akupun angkat tangan dan menjawab asalnya dari hati. Pendeta itupun mengatakan letak hati itu dimana si… sembari menunjuk beberapa lokasi tubuh seperti dada, punggung, area perut. Akhirnya jawabannya adalah

Pendeta: jawaban dimana lokasi rasa sakit itu adalah di pikiranmu. Sakit itu karena terjadi visualisasi peristiwa yang menyakitkan. Sakit itu dikarenakan Anda membiarkan diri Anda disakiti. Jika hal ini terjadi balaslah dengan doa. Peristiwa buruk itu balaslah dengan pikiran misalnya saya ada klien ia ribut dengan suaminya bulan lalu dan masih marah sampai sekarang, akhirnya ia pun konseling dengan saya. Singkat cerita saya meminta ia untuk membayangkan situasi saat peristiwa dan melampiaskan amarahnya pada suami, dan akhirnya setelah selesai membayangkan hal tersebut ia pun pulang dengan bahagia, ia sudah tidak marah lagi dengan suaminya.

Akupun tekejut bahwa dengan membayangkan suatu peristiwa kemudian berujung pada ketenangan batin karena merasa sudah cukup puas melampiaskan  semuanya melalui membayangkan. Sepanjang yang aku rasakan semakin aku ingat semakin sakit dan semakin tidak ada harapan untuk menjalin relasi kembali dengan lawan bicaraku.

Di akhir kotbah…

Pendeta berkata jika terjadi konflik coba cari sudut pandang lain, misal melihat sudut pandang lawan bicara. Dalam konflik perlu open mind, perlu dialog. Dalam konflik yang berujung sakit hati bahkan menjadi musuh adalah perilaku lawan bicara yang kurang tepat. Kita tidak suka atau benci pada perilakunya bukan orangnya.

Setelah kotbah selesai jemaat pun di ajak untuk berdoa bersama, dan juga mendoakan jemaat yang duduk di sebelahnya. Aku merasa luar biasa pada kebaktian saat itu. Doa dimulai dengan mendoakan jemaat yang duduk di sebelah, kemudian kami doa bersama di pimpin oleh pendeta. Dalam doa tersebut kami diminta untuk membayangkan musuh. Yang aku lihat adalah 2 orang wanita, ia adalah orang terdekatku di masa perkuliahan, namun relasi kami hancur dan terjadi mistrust, dampaknya aku melihat dunia ini bulshit. Setelah sosok tersebut muncul kami diminta untuk berdialog. Saat berdialog aku mengatakan semua keluh kesahku, kemarahanku, kekecewaanku, apapun mengenai hal negatif, bahkan termasuk mengancam dan diancam. Mungkin jika aku tidak membentuk ini dalam ketikan alias tulis tangan kertasku sudah basah kuyup karena tangisan, ataupun lecek karena aku remas sedikit. Saat doa terebut aku menangis luar biasa cuma tidak histeris sampai medis datang (aku kalau nangis luar biasa maka badanku langsung alarm dan aku perlu obat untuk menurunkannya).  Setelah keluh kesah kami diminta untuk mengatakan ya mengenai memaafkan, mencintai orang tersebut, dan meminta berkat pada musuh.

Setelah kebaktian selesai aku tidak bisa bertemu langsung dengan pendeta tersebut karena aktivitas selanjutnya. Akupun memutuskan untuk cerita pengalaman ini ke calon pendeta di gerejaku. Calon pendeta ini terkejut dengan ceritaku karena hanya melalui kotbah dan iringan doa memberikan dampak luar biasa. Luar biasa ini karena aku berasa retreat gratisan, aku juga merasa seperti di terapi. Calon pendeta ini aku panggil kak Cathie dan pendeta yang berkotbah adalah pak Didik M. Menurut info dari kak Cathie, pak Didik itu seorang NLP dan juga punya tempat praktik. Namun kak Cathie ini tidak memiliki kontak dari pak Didik, kak Cathie pun menyarankan aku untuk chat ke istrinya yang juga pendeta di gereja tersebut yaitu bu Lindawati.

Akupun akhirnya mendapatkan kontak pak Didik melalui bu Linda. Aku chat pak Didik melalui WA, Selamat siang pak Didik, perkenalkan nama saya Setiti, saya anggota komisi pemuda dan remaja. Pak Didik saya tertarik dengan materi kotbah bapak kemarin hari minggu tanggal 31 maret. Saya tertarik mengenai bagian mengampuni musuh.  Saya merasa sangat terbantu sekali dengan materi kotbah bapak dan juga saat doa setelah kotbah dimana saya bisa benar benar bertemu musuh saya. Oleh karena itu saya ingin berdiskusi dengan bapak. Pak Didik langsung menyetujui kita akan bertemu di akhir pekan.

bersambung Kesadaran dan Pengendalian Diri menjadi Dasar…..

Surabaya, 11 April 2019

(terserah mau panggil siapa)

Penulis: retmono

.....Psikolog yang menyenangi Drama/Teater, Psikodrama ...demi kehidupan yang lebih baik,.....mari belajar, dan saling berbagi.....

One thought on “Menurut Anda apa perlu memaafkan perilaku orang lain?”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.